Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Acara Bukber Pertama


__ADS_3

Setelah mencari takjil di tempat lain, Zapata dan Nadia kembali ke angkringan itu. Semua pesanan mereka sudah siap. "Uda, uangnya kelebihan. Ini kembaliannya" ucap perempuan itu sembari mengulurkan uang kembalian pada Zapata.


"Tidak usah, kembaliannya buat kamu saja" tolak Zapata. Ia hanya menerima uluran makanan yang telah di pesannya saja. Sedangkan tangan kanan gadis itu yang mengulurkan uang padanya tak ia hiraukan.


"Uda, saya tidak bisa terima uang ini. Saya berjualan memang untuk mencari untung tapi bukan untuk dikasihani" ucap perempuan itu.


Zapata terpaku mendengar ucapan wanita itu. Sepertinya wanita itu telah salah mengartikan kebaikan Zapata. Zapata tidak bermaksud mengasihani, tapi dirinya memang selalu senang jika bisa berbagi pada orang lain.


"Saya juga tidak bisa menerima kembali apa yang sudah saya kasih" balas Zapata.


"Uni, terima kasih ini kembaliannya" perempuan itu memberikan uang kembalian pada Nadia lalu ia langsung kembali menekuri pekerjaannya lagi. Zapata masih berdiri di tempat semula, ia memperhatikan wanita yang giat bekerja itu dari tempatnya. Si wanita tak peduli dengan tatapan Zapata. Kalaupun harus melayani pelanggan yang berada tak jauh dari Zapata, ia sanggup menganggap seolah Zapata tak ada.


"Uda, ayolah balik. Nanti mamak cari Nadia sampai kerumah kakek" teriak Nadia yang sudah standby duduk di atas motor.


Zapata dan Nadia pun sampai ke rumah kakek. Mereka bawa beberapa kantong kresek dengan sedap wangi makanan yang berbeda-beda. Mak Etek dan mama Zapata bantu menyusun makanan ke dalam piring.


"Tek, telpon mamak Nad. Bilang kalo Nad ikut buka disini" ujar Nadia pada mama Zapata.


Mereka pun buka bersama dengan menggelar karpet di ruang keluarga. Sejak dulu, setiap pulang ke Padang tradisinya memang selalu lesehan kalau sedang makan bersama. Walau situasinya sama, namun tanpa kakek dan nenek rasanya cukup berbeda.


Setelah berbuka, mereka sholat maghrib berjamaah. Usai sholat, mereka lagi-lagi berkumpul di ruang tengah sembari melanjutkan makan yang tertunda. Zapata memilih untuk makan lemang yang di cocol dengan rendang. Mereka berbincang sembari mencicipi setiap jenis makanan yang sangat banyak itu.


"Nad, lulus SMA mau lanjut kemana?" tanya Zapata.


"IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), Da. Nadia pengen jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)"


"Kenapa?" tanya papa Zapata.


"Disuruh mamak" ujarnya dengan tersenyum. Dan yang lain malah tertawa mendengar jawaban polosnya.


Tidak ada yang salah dengan itu. Zapata pun juga sadar, di kampung-kampung seperti di tempat kelahiran papanya ini memang kebanyakan warganya selalu mengharapkan keturunan mereka menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Karena selain pendapatan yang tetap disetiap bulan, juga terjamin kesejahteraan hidupnya.


"Libur gak? Ikut Uda balik ke Jakarta mau?" tanya Zapata.


"Mau, tapi gak bisa. Nadia ada les bahasa inggris sama les renang buat persiapan tes masuk IPDN. Padahal Nad pengen jalan-jalan ke Jakarta"


"Ya udah kapan-kapan aja. Oh iya, oleh-oleh dari Jakarta Nadia udah kebagian belum?" tanya mama Zapata.

__ADS_1


"Ada, tapi cuma daster sebiji"


"Oalah, ini masih ada yang belum di sebarin. Pilih aja sendiri Nad mau yang mana. Ada tas, dompet, kerudung" Mama Zapata menggelar semua oleh-oleh yang masih ada itu di tengah-tengah mereka. Nadia langsung tersenyum riang kala disuruh milih sendiri.


"Mau kerudung satu" ucapnya.


"Ambil aja" sambut Mama Zapata.


"Kerudungnya mirip sama motif kerudung uni yang tadi 'kan, Da?" tanya Nadia memastikan.


"Uni siapa?" tanya Pak Etek (oom, suaminya Mak Etek)


"Uni tempat kami beli lemang ni tadi" ujar Nadia.


"Cantik uninya?" sahut mama Zapata mengalahkan kecepatan kereta.


"Cantik, tapi agak jutek" jawab Nadia.


"Gerak cepat Zap, cewek disini kalo gak disegerakan keburu dijodohkan" sahut Mak Etek.


"Uda nengokin uni tu terus" ungkap Nadia.


"Alah, bukan apa-apa. Cuma mukanya mirip kawan Uda" ujar Zapata sembari berkata pada Nadia.


"Mirip siapa?" tanya mamanya.


"Ah adalah" sahut Zapata malas membahasnya lebih lanjut.


☆☆☆


Singkat cerita, di hari puasa ketiga Zapata dan keluarga harus kembali ke Jakarta. Mereka tak bisa lama-lama menginap disana karena besok sudah waktunya kembali bekerja.


Sampai di Jakarta, Zapata memutuskan untuk langsung kerumah pribadinya. Walau mamanya sempat memohon agar anaknya itu untuk tinggal di kediamannya tapi Zapata tetap bersikeras untuk kembali kerumahnya. Ia betah menyendiri walau terkadang merasa sepi. Tapi begitulah Zapata, zona nyamannya adalah rumahnya sendiri.


"Mas Ta udah pulang" teriak para ARTnya dari arah ruang tengah.


Mereka pun berjejer rapi layaknya hendak menyambut sang pangeran yang kembali ke kerajaan. "Berhitung, mulai" ledek Zapata seolah tengah berkegiatan baris-berbaris.

__ADS_1


"Alhamdulillah Mas Ta udah pulang dengan selamat" ujar mereka.


"Iyalah, kalian do'ain saya karena ngarep oleh-oleh aja 'kan? Kalo saya ga selamat, tandanya oleh-oleh buat kalian juga ikutan ga selamat"


"Ih Mas Ta" sahut Ija, si ART yang bernama lengkap Khodijah itu sembari menggoyang-goyangkan badannya.


"Ih Mas Ta ih Mas Ta, betulkan tebakan saya!?" ucap Zapata sembari menaikkan alisnya.


"Salah itu Mas, kita semua tulus ikhlas do'ain Mas Ta pulang dengan selamat"


"Ya udah nih, oleh-olehnya saya beli di tanah abang. Waktu di Padang ga sempet" tipu Zapata.


"Ah Mas Ta, padahal kita mau seragaman pakek kaos ai lop Padang"


"Nanti saya beliin kaos, kita sablon sendiri. Ngomong-ngomong, udah masak apa aja buat buka?"


Hening


"Halo, udah masak apa aja nih buat buka?" Ulang Zapata yang sebenarnya sudah tahu kecurigaannya pastilah bukan isapan jempol belaka.


"Gak masak kalian? Udah bosan kerja disini? Sudah banyak duit ya rupanya? Mau resign sekarang juga apa gimana?"


"Ampun Mas Ta, kita ga tau Mas Ta pulang hari ini. Jadi rencananya kita mau bukber tapi patungan beli makanannya"


"Bukber? Siapa aja emang?"


"Kita semua, terus Pak Suhai, Pak Jamal (Satpamnya Zapata), sama ART tetangga kiri kanan, Mas" ucap salah seorang Bibi dengan wajah melas.


"Bukber dimana?" cecar Zapata.


"Disini Mas, kalo bukber diluar harus keluar duit lagi"


"Astaga, jadi kalo saya ga ada kalian party-party, ya?"


"Ampun Mas Ta, kan kita di dapur juga. Ga nyentuh wilayah kekuasaan Mas Ta"


"Terus saya ga di ajak? Saya disuruh sendirian buka di pojokan ngeliatin kalian hahahihi?"

__ADS_1


"Mas Ta boleh ikut, siapa bilang gak boleh. Tapi pajaknya hehe"


Akhirnya Zapata harus merogoh kocek 50ribu untuk bisa bergabung ikut buka bersama dengan para perkumpulan pekerja rumah tangganya dan ART tetangga sebelah pastinya. Karena Zapata ikut, akhirnya acara bukber dari yang awalnya mau pakai ruang istirahat khusus ART menjadi pindah ke ruang TV utama dirumah itu.


__ADS_2