Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
LDR


__ADS_3

Penerbangan dari Jakarta ke Papua memang terkenal sangat lama. Ditotal-total hampir 10 jam aku terduduk di bangku pesawat. Saat baru sampai, kami sudah dijemput oleh seorang perwira yang sudah diberitahu Rama akan kedatangan kami. Dan saat sudah tiba dibarak TNI, aku menon-aktifkan mode terbang di ponsel yang baru sedetik kemudian langsung masuk rentetan pesan dari istri tercinta yang berisi:


Sherly


"Aku kirim kamu ke Papua biar aku bisa hidup bebas. Tapi kenapa kamu kirim 6 laki-laki dan 4 perempuan buat nemplokin aku kemana-mana? Aku kira jauh dari kamu, aku bisa bahagia. Ternyata aku salah๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ"


Zapata


"Emang enak??๐Ÿ˜‹"


Jadi, satu hari sebelum keberangkatan aku memang sudah mencari bodyguard untuk istriku. Kebetulan aku punya teman yang memiliki usaha penyewaan jasa tersebut. Dan aku memilih menambahkan bodyguard perempuan agar kalau istriku kemana-mana sendirian dan tiba-tiba pengen pipis, nah disitulah gunanya bodyguard perempuan, buat menemaninya ke wc (water closet).


Dan satu lagi, perihal pin ruang kerjaku. Aku sudah menggantinya sampai berkali-kali agar istriku tidak tahu. Eko pun tidak kuberitahu pin terbarunya.


Aku suami dan bos yang penuh perencanaan, bukan?


"Jadi, kita bakal nginep dengan fasilitas yang sama nih sama pak TNInya?" tanya Bibin yang di gendong sama warga sini.


"Ya terus lu mau nginap dimana? Kan kata Rama ini cuma tempat tinggal kita sementara" ucapku.


"Kapan Rama ngomong gitu?"


"Ya waktu kita ngumpul berempat"


"Berarti lu di tipu. Jelas-jelas dia kirim voice note tadi pagi ke gue bilangnya kalo mau aman terus, tinggal bareng TNI aja"


"Itu kan kalo mau tinggal aman" ujarku.


"Lah, lu mau tinggal gak aman?" tanya Bibin.


"Ya nggaklah" jawabku cepat sambil miris.

__ADS_1


Aku dan Bibin disambut dengan hangat, karena terlalu hangat sambutan dari Bapak-bapak TNI ini sampai-sampai tak tahu apa sebabnya aku dan Bibin diminta push up sepuluh kali. Namanya juga baru datang, belum tahu hukum adat atau peraturan disini maka aku dan Bibin polos saja dan langsung melaksanakan perintah. Tapi, kami berdua disuruh push up bukan sekali dua kali, melainkan hampir lima kali.


"Duh pak, kita ini baru nyampe. Kaki sama punggung masih berasa di ganyang singa. Kalo boleh tau, salah kita berdua apa ya, Pak?" tanyaku akhirnya.


"Karena mas-mas ini mengangkat tas seperti ini. Sedangkan, harusnya posisi menjinjing tas harus dengan cara yang benar agar tidak mempengaruhi postur tubuh" kata si Pak TNI.


MashaaAllah, hanya gara-gara tas gue hampir sempoyongan ini. Kenapa gak kasih tau aja ah, geramku dalam hati.


"Sabar-sabar, kalo ada kesempatan kita balas" bisik Bibin di telingaku.


Malam itu kami dijamu dengan makanan rumahan khas daerah sana. Rasanya kurang cocok dilidahku, mungkin masakan ini akan sama rasanya dengan makanan buatan istriku, pikirku jahat. Tapi, terserah bagaimana rasanya, yang penting ada nasinya. Karena semua pasti tau orang Papua makanan pokoknya adalah papeda, dan aku jujur saja tidak suka dengan makanan yang lembek-lembek. Itu sebabnya aku memilih makan nasi yang kebetulan tersedia di sini.


Seusai makan malam aku, Bibin, dan beberapa anggota duduk menghadap api unggun. Kami sudah seperti anak pramuka tapi sayangnya aku dan Bibin dihadapkan dengan pria-pria berwajah garang, kasar, dan jarang senyum. Meski begitu, mereka selalu berupaya penuh agar aku dan Bibin nyaman tinggal bersama mereka.


"Ta, gimana rencana lo? Mau kapan mulai cari gara-garanya?" tanya Bibin.


Aku pun berpikir sejenak. Kuajak bicara beberapa anggota TNI perihal strategi untuk memecahkan fokus organisasi yang terus-terusan menyuarakan pembelaan mereka terhadap kelompok bersenjata dengan berlandaskan pada Hak Asasi Manusia.


Seorang komandan mendekat pada kami. Ia berkata padaku jika beberapa anggota mereka sedang di kirim ke tempat persembunyian para komplotan kelompok bersenjata itu. Mereka dikirim untuk memantau dan mencari tahu informasi tentang misi komplotan bersenjata tersebut. Karena selama mereka berjaga di hutan itu, kelompok bersenjata seolah terus-terusan mencari perhatian pemerintah namun sebetulnya nyali mereka tidak sebesar yang digembar-gemborkan di televisi.


Aku memukul punggungnya karena nyeletuk seenaknya. Tapi karena mendapati kenyataannya begitu, maka misi aku dan Bibin nampaknya harus ditunda dulu sampai anggota yang dikirim untuk memantau tadi kembali ke barak.


Aku masuk ke dalam sebuah tenda yang bisa dihuni sampai sepuluh orang. Udara di dalam tenda sangat panas, aku sampai harus melepas kaos yang kupakai.


Kupegang ponsel, beruntunglah sinyal disini cukup bagus. Setidaknya jika perlu menghubungi seseorang, aku bisa dengan mudah melakukannya.


Bibin masuk menyusulku ke dalam tenda.


"Belum tidur, lo?" tanyanya.


"Gimana bisa tidur, tempatnya pengap terus juga aneh suasananya. Gue mesti adaptasi dulu nih" ujarku.

__ADS_1


"Ya samalah. Ternyata kehidupan di hutan kaya gini, ya!?"


"Kaya ga pernah tinggal dihutan aja lu" ledekku.


"Ah iya, jadi kepikiran sama kakek. Kira-kira masih hidup gak ya?"


"Gak tau. Do'ain aja semoga beliau masih sehat, ada yang urus" ucapku. Entah mengapa, disituasi hening seperti ini rasanya hati berasa ada sedih-sedihnya. Jadi kangen berantem sama istri, karena biar bagaimana pun kemarahan dan suara cemprengnya, itulah yang membuat dunia terasa sepi tanpa dia.


"Bin, gue kangen sama si...-"


"Kebo pendek?" potong Bibin cepat.


"Iya" ujarku dengan terlampau senang karena Bibin bisa tau yang aku maksud.


"Gue juga. Kita cari yuk!" ajaknya.


Kami pun keluar dari tenda. Beberapa anggota sedang berjaga di depan tenda sedangkan yang lainnya entah kemana, pantas saja sepi sekali.


"Pak, mau tanya" ucap Bibin yang berada di gendonganku.


"Tanya apa, Mas?"


"Kebo pendek, eh maksudnya b*bi hutan disini suka lewat-lewat depan tenda, gak?" tanya Bibin.


"Wah, kalo pun ada umurnya gak bakalan panjang Mas"


"Lho kenapa?" kali ini aku yang bertanya.


"Langsung jadi santapan wargalah Mas"


Hadeh, aku dan Bibin pukul jidat.

__ADS_1


Lupa kalau disini mayoritas non muslin dan juga b*bi bisa menjadi mahar pernikahan. Yang intinya, b*bi adalah hewan yang sangat berharga sekali bagi masyarakat sini.


Aku dan Bibin kembali masuk ke tenda, pasang headset, putar lagu, dan sama-sama berupaya untuk segera terlelap. Nyamuk cukup banyak tapi peralatan tempur kami tentu sudah jauh lebih lengkap karena ini bukan kali pertama aku dan Bibin nginap dihutan. Lotion anti nyamuk sudah berenteng-renteng di dalam tasku dan tas Bibin. Wangi lotionnya kaya bau perempuan, jadi geli kalau yang diharapkan depan mata adalah cewek cantik sedangkan kenyataannya malah Bibin mungil.


__ADS_2