
"Iya" tegas Sherly.
"Sayaaaang... Jangan kangen-kangen teruslah. Aku kan disini sebentar doang. Iya, aku tau kamu cinta akan aku. Tapi kamu harus mengerti juga dong kalo aku disini demi solidaritas tanpa batas atas nama persahabatan" ucapku sembari berlalu-lalang di depan Nanda, Bibin, dan rekan TNI.
Mereka tertawa melihat keromantisan yang terpancar dari kalimat-kalimat manis mulutku. Sedangkan istriku malah sebaliknya, ia mengumpat karena apa yang ia harapkan tidak sesuai kenyataan. Karena yang ia mau pastilah aku menyanjung-nyanjung dirinya lalu berkata bahwa aku cinta dan sayang padanya. Hm, prettt! Seorang Zapata tidak akan takluk dan takut pada siapapun.
"Gak sudi aku bantu kamu!"
"Eissst" Aku sontak memperhatikan sekitar, lalu sedikit menjauh dari kerumunan dan berbicara pelan pada Sherly. "Sayang, ampun Yank. Iya-iya aku cinta kamu. Aku rindu kamu, kamulah satu-satunya. Gak ada lagi yang lebih-lebih dari kamu. Hampir mati aku disini, Yank. Jauh dari kamu bikin nafas aku tersengal-sengal. Tapi dekat kamu nafas aku jadi penuh d*sahan" puji-pujianku pada istri.
"Mau muntah aku dengernya, hihihi"
"Hm, tapi suka 'kan?"
"Iya. Yank, jadi tadi mau minta tolong apa?"
POV Zapata end
◇◇◇
Sherly bergerak cepat setelah mendengar penuturan suaminya. Bukan tanpa alasan dirinya bela-belain untuk mulai bergerak sepagi ini, karena menurutnya lebih cepat lebih baik. Dengan begitu, suaminya juga akan cepat pulang.
Dua hari kemudian
"Kita akan kedatangan perempuan-perempuan cantik" ucap Zapata dengan wajah merona penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Yakin cantik? Emang pernah liat dimana?" tanya Bibin.
"Gue pernah liat waktu dandanin Sherly pas resepsi" ucap Zapata.
"Terus kapan datangnya? Sherly beneran bisa ngelobby mereka?" tanya Nanda.
"Istri gue jangan diragukan, woy. Gak bisa di lobby baik-baik, pasti di seret paksa ama dia"
Ting
Sherly
"Kemungkinan nyampe habis maghrib"
"Oke deh, gue ikut. Secantik apa sih, jadi penasaran gue"
"Kalo lo, Nan? Mau ikut juga?" tanya Zapata.
"Gak ah, gue tunggu disini aja"
Pukul 5 sore, Bibin dan Zapata sudah bersiap-siap akan menjemput bidadari ke bandara. Mereka dipinjami sebuah mobil Av*nza warna khas TNI, ijo-ijo gelap. Tidak hanya berangkat berdua melainkan ditemani satu anggota TNI sebagai sopir mereka.
Sampai di bandara, Zapata dan Bibin celingak-celinguk mencari wanita dengan ciri-ciri cantik, berhijab, kulit putih bersih, dan berlesung pipi. "Mana, Ta? Katanya lo kenal? Masa ga nemu juga sampe sekarang"
"Gue juga bingung, apa cari kesana aja" tunjuk Zapata pada sebuah pintu keluar yang lain.
__ADS_1
"Ayo"
Baru saja Zapata mau melangkah, tiba-tiba saja ia merasakan firasat buruk. 1..., 2..., 3...,
"Massss Taaaaa" terdengar teriakan menggema dari kerongkongan beberapa pria berpakaian wanita.
Bener 'kan firasat buruk gue, umpat Zapata kesal.
Bibin meminta turun dari gendongan Zapata karena melihat para pria bertulang lunak itu berlari menghampiri mereka dan pasti akan memeluk Zapata. Terlihat dari cara mereka berlari, nampak bernafsu sekali sesaat setelah melihat Zapata.
"Mas Ta, emmuach emmuach" Mereka bercipika-cipiki dengan Zapata lalu di akhiri dengan menoel dagu Bibin. Hish, najis sekali, kesal Bibin dalam hati.
Tanpa berbasa-basi, mereka langsung saja kembali ke barak bersama-sama. Hingga sesampainya di barak Bibin langsung turun dengan cepat dan berlari untuk memberitahu Nanda bahwa yang datang tidak sesuai pesanan.
"Nan!" ucap Bibin.
"Baru nyampe, lo?"
"Iya. Lo tau gak, yang dikirim adek lo bukan yang cantik-cantik, tapi pejantan lentik"
"Ha? Gimana?"
"Liat aja sendiri" ajak Bibin menuju ke dekat mobil.
Saat Nanda melihat secara langsung bagaimana pejantan lentik yang dimaksud Bibin itu tengah menurunkan barang bawaan, Nanda mendadak tertawa puas. Zapata mencebik kearahnya karena sadar bahwa yang Nanda tertawai pastilah dirinya.
__ADS_1