Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Dia Lagi


__ADS_3

Satu minggu berlalu, aku kembali ke rutinitasku yang masih terus di bayang-bayangi persekingkuhan Puput. Sulit kuhapus adegan menjijikkan yang pernah kulihat. Rasa benciku teramat besar, namun tak pernah aku tunjukkan padanya. Aku bahkan masih berteman baik dengan Rama dan sempat juga kerumahnya untuk sekedar ngopi bersama. Ada Bibin dan Nanda juga kala itu.


Saat masih termenung di meja kerja, dering teleponku berbunyi. Aidil tiba-tiba menghubungi, ada apa?


"Halo" sapaku padanya.


"Halo Ta, lo dimana?"


"Kantor, ada apa? Emang lagi di Jakarta?"


"Iya. Gue samperin ke sana ya, ada urusan penting"


"Ya udah gue tunggu"


Aku pun membereskan beberapa berkas yang masih belum selesai kuperiksa. Lalu mencuci muka agar tak nampak kusut di hadapan Aidil nanti. Sekaligus ambil wudhu, aku mau sholat Dhuha karena masih ada jamnya.


1 jam kemudian Aidil sudah sampai di ruanganku.


"Ada apa lo kok tiba-tiba nyariin gue?" tanyaku.


"Ini, sepupu gue mau nikah. Nikahnya seminggu lagi, tapi ada masalah dikit. Nah, gue rasa lu bisa bantu" ucap Aidil.


"Bantu apaan? Diminta gantiin mempelai pria maksudnya?"


"Jangan ngomong sembarangan!" gertak Aidil. "Jadi, si sepupu gue ini pengen ada tarian gitu di resepsinya nanti. Udah ada grup tari yang dia sewa, tapi tiba-tiba ngabarin gak bisa gak tau dah tu apa alesannya. Nah, gue ingat nih kalo calon bini lu kan suka nari-nari. Barangkali, bisa tuh ngisi di acaranya sepupu gue. Ajakin temen-temennya. Gimana? Mau 'kan lo bantu bilangin ke si Puput. Gue bayar dua kali lipat deh ntar"


"Asal lu tau, gue gagal nikah" ucapku pada Aidil yang langsung terkejut mendengar berita itu.


"Hah? Yang bener lu? Kenapa?"


Aku pun menceritakan semuanya secara gamblang. Tidak ada yang aku tutupi darinya.


"Gila Ta, kurang baik apa lu sama dia. Masih gak nyangka gue. Padahal waktu kita makan malam gue liat dia kaya cewe-cewe kalem gitu, baik, polos. Emang sih cakepnya ga ngotak, jadi pasti banyak yang mau ngerebut. Terus, apa sekarang lo ga mau nanya alasan tepatnya kenapa dia begitu?"


"Lah, dia sendiri yang bilang tuh cowok lebih baik dari gue. Ya udah, noh. Gue hibahin dia buat si cowok itu. Mana mobil gue diserempet gak tanggungjawab"


"Ya udahlah Ta, nanti juga pasti akan ada bunga pengganti. Ya nggak?"


"Hm" sahutku berdehem.


"Eh Ta, terus lo punya kenalan lagi gak yang bisa nari? Gue bingung nih mesti minta tolong siapa. Mana gue udah ngomong ke sepupu gue kalo urusan penari biar gue yang urus. Eh ga taunya begini"


"Lo tenang aja, ada. Adeknya si Nanda"


"Oh, adeknya Nanda nari juga? Oke-oke, lo kabarin ke dia hari ini juga. Gue butuh jawaban cepet soalnya"


"iya, lo tenang aja"


Tak lama setelah itu akhirnya Aidil pamit pulang. Seminggu lagi sepupunya akan menikah di sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta Timur. Mau tak mau, aku juga harus gerak cepat untuk segera memastikan kalau Sherly bisa membantu atau tidak.

__ADS_1


Akupun menghubungi Sherly.


"Halo Sher, dimana?"


"Kampus, kenapa Bang?"


"Abang kesana, jangan kemana-mana" Tut. Aku langsung bergerak menemui Sherly.


Gara-gara niat baik bantuin Aidil, aku jadi kerepotan begini. Tuhan, engkau tahu seberapa baiknya aku, jadi tolong berbaik hatilah padaku. Cepat pertemukan aku dengan bidadari surgaku. Aku iri melihat satu persatu temanku menikah dan meneruskan kehidupannya dengan fase yang baru.


Aku sampai di fakultasnya Sherly. Pelanga-pelongo, tidak tahu harus mencari kemana. Mobilnya pun tak ada.


Kucoba hubungi lagi, namun tak ada jawaban. Aku pun mengiriminya pesan.


Zapata


Abang udah di parkiran.


Ditunggu-tunggu, masih tidak ada tanda-tanda kalau Sherly akan menemuiku. Mana mahasiswi disini semua melihatku aneh. Aku tidak nyaman. Akhirnya aku menunggu di dalam mobil.


Aku melihat spion tengah, memperbaiki rambutku yang kini mulai panjang, jenggot juga mulai bermunculan. Wah, jangan sampai aku tidak merawat diri. Aku tampan saja tidak laku, bagaimana kalau tidak tampan?


Selama berkaca, tiba-tiba nampaklah seseorang yang aku kenal. Aku melihat Sherly di belakang mobilku sedang di kejar-kejar oleh seorang lelaki.


Nah ini nih yang membuatku emosi. Laki-laki ini sudah mendapatkan Puput dan sekarang ia mau mendekati Sherly lagi. Aku langsung turun.


"Sher, dengerin gue dulu. Gue mau ngomong" ucap pemuda itu dengan mencoba menarik tangan Sherly.


"Misi Mas, ada apa ini tarik-tarik perempuan" tegurku.


Ia mendongak menatapku. Lalu kemudian melepaskan pergelangan tangan Sherly. Dan setelah itu dia langsung pergi. Pfftt, malu mungkin ya bertemu aku.


"Bang Ta, mau ngapain kesini?" tanya Sherly.


"Sher, kamu bisa gak ajak temen-temen kamu buat nari di acara resepsi pernikahan. Satu tarian aja cukup, bayarannya juga gede"


"Siapa yang nikah?"


"Ada, sepupunya temen Abang. Resepsinya seminggu lagi"


"Lah Bang, kenapa mendadak gini sih? Kan aku juga gak tahu mereka pada bisa apa nggak kalo ngasih infonya mepet begini"


"Coba dulu aja, mana tau ada yang mau"


Akhirnya Sherly mengabarkan lewat grup chat dan kami menunggu balasan itu sambil makan siang di kantin. Aku juga sekalian di kenalin sama teman-temannya. Eh, ada Puput juga disana tapi kami beda meja.


Wah, ngapa tuh badan kek kurang gizi.


"Bang, bisa. Tapi DanTe cuma bisa ngirim maksimal 8 orang katanya" ujar Sherly padaku.

__ADS_1


"Ah gakpapalah, Sher. Pada bisa aja udah syukur".


Tepat seminggu setelah itu, aku pun sudah berada di aula megah yang di pakai untuk acara resepsi pernikahan Bella dan Ipung. Aku juga sudah sempat bertemu Aidil yang menanyakan tentang penari. Dan aku bilang, "Santai boss".


Dan saat aku keluar dari aula, aku bertemu Sherly yang melewatiku tanpa menyapa. Ditangannya juga ada pakaian yang berbalut plastik bening. Pikirku, mungkin itu pakaian yang akan ia kenakan.


"Sher, mau kemana?"


"Mau dandan dulu bang di atas. Aku di ajak juga nih, mau gak mau deh" ujarnya sembari tetap jalan terus ke depan dan berbicara padaku hanya dengan putar leher saja.


"Ikut dong" aku pun menyusulnya dengan berjalan cepat karena Sherly sudah masuk lift.


"Ish, ngapain ikut. Orang aku mau dandan sekalian mau ganti baju"


"Acara belum mulai, Sher. Masa abang menung-menung sendirian di bawah"


"Lagian ngapain datang kecepetan?"


"Yang punya hajatan sohib abang. Kan gak enak kalo datang kek tamu biasa"


"Huft, ya udahlah"


Kami naik ke lantai 11. Sherly masuk ke sebuah kamar yang di khususkan menjadi tempat para penari untuk bersiap-siap. Sedangkan aku menunggu di luar kamar.


Samar-samar terdengar suara perempuan jadi-jadian di dalam sana. Kepo dong, akhirnya aku minta izin masuk juga pada Sherly.


"Sher, pengen masuk. Boleh ga?" tanyaku manja. Duh, demi diizinin masuk aja nih.


"Ya udah masuk, Bang" jawabnya.


Aku pun masuk, ternyata si tukang dandanin mereka memang para banci. Ada dua kulihat disana. Keduanya berd*da besar dan berambut panjang. Tentu saja itu rambut palsu, karena kelihatan kasar-kasar.


"Ih gantengnya" puji salah satu banci padaku.


"Pacarmu Sher?" tanya yang satunya lagi.


"Bukan, abang gue" jawab Sherly sembari di dandani.


"Ih, boleh atuh bagi-bagi nope(Nomor Hape)nya"


"Minta aja sendiri" jawab Sherly.


"Mas, boleh minta nomer hapenya?" tanya si banci padaku.


"Bagilah Mas, dah bosan kali dia main sama Paramek" sambung temannya.


"Alias? ****** Ras* M*mek" ujar si banci yang meminta nomor ponselku tadi dengan tertawa.


Kacau nih duo banci, ngomong gak disaring. Ini juga, Sherly senyum-senyum kayak ngerti aja. Ah kabur ah.

__ADS_1


Aku pun langsung ngacir dari kamar itu dan turun ke bawah sendirian. Lebih baik menung-menung gak jelas di bawah daripada di godain banci. Bisa hancur reputasiku nanti.


POV Zapata end


__ADS_2