Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Hujan


__ADS_3

Keduanya berkendara dalam keheningan. Sherly terus mencoba banyak tingkah di depan Zapata agar bisa memancing Zapata berbicara lagi padanya. Namun semua sia-sia. Zapata bahkan tak bergeming ataupun meliriknya barang sekejap saja.


Sekian lama berkendara, akhirnya mobil mulai memasuki kawasan rumah sakit yang parkirannya hampir penuh di padati oleh kendaraan. Keduanya turun berbarengan.


Zapata melangkah lebih dulu menuju bagian dalam rumah sakit. Sherly berjalan di belakangnya. Sore itu, langit tampak masih cerah. Rumah sakit juga tampak sangat ramai oleh keluarga pasien yang datang menjenguk.


Zapata berbicara dengan seorang perawat yang memegang sebuah tablet. Ia memeriksa nama calon pasien dokter yang Zapata ingin temui.


"Belum punya nomor antrian, ya?" tanyanya.


"Belum" jawab Zapata singkat.


"Maaf sekali Pak, antrian hari ini sudah penuh. Kalau mau, Bapak sama Ibu bisa ambil nomor antrian sekarang tapi untuk pemeriksaan besok sore"


Sherly hanya diam saja.


"Oke, saya mau" jawab Zapata tanpa pikir panjang.


Emangnya besok ada waktu? Ucap Sherly dalam hati. Karena selama ini, yang ia tahu suaminya itu sangat tidak bisa bikin janji yang mendadak seperti ini. Kecuali kalau janji yang dia sendiri buat.


"Baik Pak, sudah saya daftarkan secara online atas nama Zapata Rismandanu"


"Terimakasih" jawab Zapata lalu keduanya putar balik kembali ke mobil.


Zapata dan Sherly tak sampai sepuluh menit berada di rumah sakit itu. Kini mereka memutuskan pulang kembali kerumah. Sepanjang perjalanan Sherly tak berani mengajak Zapata bicara. Rupanya begini kalau Zapata marah, sakit hatinya lama.


Mungkin benar kata orang, kalau mau menikah kenali dulu watak calon pasangan kita baik-baik. Cari tahu dulu bagaimana dia marah, bagaimana dia saat sedang ada masalah, bagaimana dia kalau menghadapi emosi kita yang sedang tidak stabil. Setidaknya, dari pantauan kita tadi, kalau dirasa calon pasangan kita ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita, kita bisa pikirkan lagi mau tetap lanjut dengannya atau berakhir sampai disitu saja.


Dari lubuk hati Sherly yang paling dalam, ada secercah penyesalan kenapa dulu memutuskan menikah buru-buru. Padahal perempuan seusianya biasanya masih menikmati hidup, sana-sini bisa nongkrong sepuas hati tidak ada yang melarang.


Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar mundur, hidup terus berjalan meski yang diharapkan selalu dan selalu tak pernah sesuai keinginan. Bahkan, untuk mendapatkan keturunan saja rasanya seperti naik roller coaster. Banyak sekali ujiannya.

__ADS_1


Cara yang alami gagal, tempuh cara operasi. Tapi usai operasi pun bukan berarti langsung dapat (momongan), sekarang timbul masalah baru. Pertengkaran dengan suami. Bagaimana Sherly tak terpikir untuk menyerah? Ia yang masih muda sudah diberi ujian sedemikian beratnya. Yang lebih dewasa dari Sherly mungkin belum tentu sanggup melewatinya.


Sekarang ini, yang membuat kewarasannya masih ada lantaran dukungan dari orang-orang terdekat. Suami? Huh, Zapata memang selalu ada. Tapi tidak saat dibutuhkan. Zapata memang selalu mengusahakan untuk tidak meninggalkan Sherly lama-lama kalau kebetulan ada urusan yang mengharuskannya keluar kota, Zapata pasti selalu usahain gimanapun caranya, malam harus sudah ada dirumah.


Tapi, setiap ia pulang istrinya sudah tidur. Dan pergi lagi saat Sherly malah belum bangun. Jadi, apa bedanya dengan hubungan mereka saat ini. Kalau nyatanya Zapata pulang dan pergi tanpa sepengetahuan istri.


Selain itu, mereka juga jarang menghabiskan waktu berdua. Pernah satu kali, saat Sherly di ajak ke Villa, yang akhirnya mereka malah bertengkar karena di kamar mereka dipajang nama Puput. Kalau dipikir-pikir, mungkin uang memang segalanya, tapi uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.


Semisal, ada kata Setia-Kaya-Agamis-Selalu ada-Tampan. Kalau disuruh milih pasangan yang tidak memiliki salah satu dari kriteria itu, pasti kebanyakan orang akan bingung untuk menjawab.


Karena semuanya penting. Sedangkan, di dunia ini tidak pernah ditemukan orang yang sempurna.


Seperti Zapatalah contohnya. Setia, iya. Kaya, banget malah. Agamis, 50-50lah. Tampan, banget. Lalu apa kurangnya? Ia tidak selalu ada untuk istrinya. Sampai-sampai, bangkit dan lelahnya Sherly, ditanggung sendiri.


Karena Sherly masih mikir. Masa iya, suami repot kerja cari uang, terus pulang-pulang disambut dengan tampilan Sherly yang memprihatinkan. Sangat tidak tahu diri sekali kalau Sherly yang dikesehariannya hanya makan tidur saja tapi suami pulang disambut pula dengan ocehan, begitulah isi kepala Sherly.


Harusnya, Sherly banyak-banyak bersyukur mendapat suami yang tidak banyak menuntut. Perihal anak, itu bukan tuntutan Zapata melainkan ia sendiri juga kepengin. Stop Sherly, stop menyalah-nyalahkan suamimu.


Lagi, disaat seperti itu Zapata dan Sherly masih tak saling bicara. Suara mendengus, atau berdecak pun sama sekali tidak ada. Bisa ya, dua manusia yang saling cinta bertindak seolah tak ada rasa.


"Mau sampai kapan kamu diamin aku kaya gini?" Sherly membuka percakapan setelah mengumpulkan tekad sekian lama.


"Sampai terbukti kalau yang kamu tuduhkan ke aku itu gak benar" jawab Zapata ketus.


"Aku gak sengaja ngomong kaya gitu"


"Ck, gak sengaja? Mudahnya kamu bilang gak sengaja"


"Aku memang gak sengaja. Aku gak bermaksud ngomong kaya gitu ke kamu"


"Mau kamu bilang sengaja pun, aku gak akan marah. Ngapain juga marah, emangnya kamu peka?"

__ADS_1


"Kalo kamu gak marah kenapa kamu ga bujuk aku waktu itu? Sampe-sampe kita pisah ranjang 3 hari"


"Bujuk kamu? Sher, jangan kaya anak kecil. Harusnya, kamu paham sendiri. Yang namanya suami istri, sudah sepatutnya tidur satu kamar"


"Bang Ta, aku perlu di bujuk. Bukan ujuk-ujuk hati aku dongkol terus bersikap seolah baik-baik aja. Aku mana bisa kaya gitu. Kita berantem, ya udah. Baikan dulu, baru bisa kaya semula"


Zapata yang semula mencengkeram setir erat, kemudian melepasnya perlahan dan bersandar dengan santai dikursinya dengan tatapan yang masih setia lurus kedepan.


"Aku bingung, dulu kenapa aku bisa nikah sama kamu"


Duarr


Kilat disertai suara menggelegar mengagetkan jantung Sherly. Tidak hanya Sherly, tapi begitu juga dengan Zapata. Bedanya, Sherly dikagetkan dengan dua hal, Zapata yang seolah menyesal menikah dengannya dan juga sambaran cahaya kilat yang diiringi suara dentuman besar yang menggelegar.


Siapa yang tidak tahu, Sherly ini merupakan wanita cengeng yang apa-apa nangis. Tapi, tidak untuk kali ini. Setelah banyak terpaan yang ia terima semasa membina rumah tangga dengan Zapata, cukup untuk mengeringkan air matanya.


"Sekarang, mau kamu apa?" tanya Sherly tegas.


"Aku?" tanya Zapata menegaskan lontaraan kalimat Sherly barusan.


"Iya"


Zapata diam.


"Kamu menyesal nikah sama aku. Terus sekarang mau kamu apa?"


Zapata masih diam.


"Bilang! Jangan cuma bisa diam!" gertak Sherly seraya tangannya memukul keras dada bidang Zapata.


"Kasih aku waktu untuk berpikir"

__ADS_1


__ADS_2