
Puput terbangun dengan wajah sembab. Ia harus segera menata hatinya. Hari ini ia akan ke kampus seperti biasa mengikuti perkuliahan dan kemudian menyempatkan diri memantau situasi kantornya.
Akhir-akhir ini Puput memang sangat sibuk. Ia mulai merintis bisnis yang ia impikan sejak dulu. Berkat dukungan Zapata dirinya bisa meraih impian itu tanpa bersusah payah, karena tidak hanya dukungan moril yang Zapata kerahkan tapi juga dukungan materil.
Dibalik pujian orang-orang terhadap dirinya yang sudah mampu menciptakan perusahaan agensi beserta membuka lapangan pekerjaan di usia yang masih sangat muda, namun hal ini tetap tidak membuat Puput merasa cukup. Ia selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Itulah sebabnya ia selalu ingin memiliki apa yang orang lain miliki tanpa ia sadari kalau yang ia miliki juga sudah sangat cukup, tidak perlu sampai iri pada milik orang lain. Entah itu persaingan dalam segi kehidupan, ataupun pasangan.
Puput bisa mengeluh kapan saja kala ia mulai merasa letih dengan semua yang sudah ia jalani. Terkadang menangis sendiri di samping pusara papanya tanpa tahu apa sebabnya sehingga dirinya merasa seputus asa itu.
Berbeda dengan Sherly dan Zapata. Keduanya akan melakukan fitting baju pengantin untuk akad resepsi mereka nanti, sepulang ngampus dan sehabis Zapata ngantor.
Rencananya, mereka akan melangsungkan akad dengan adat minang. Oleh sebab itu, Sherly juga akan di buatkan suntiang (perhiasan kepala khas Sumatera Barat) yang beratnya sekitar 2 sampai 3 kilogram. Tentu saja ini jauh lebih ringan dari yang kebanyakan orang Padang pakai. Karena sebetulnya ada juga suntiang yang bisa mencapai 12 kilogram.
Karena Zapata khawatir takut leher calon istrinya kenapa-napa, ia pun meminta di buatkan suntiang yang lebih ringan. Meskipun awalnya Sherly cukup ngotot ingin mencoba memakai Suntiang yang sama persis seperti aslinya.
"Sher, selamat yaa" pekik Mia setelah dosen meninggalkan ruang kelas.
"Ssttt, diem. Gue gak mau sekelas pada tau kalo gue mau nikah"
"Iya iya, jadi gimana rasanya?"
"Biasa aja, ga gimana-gimana. Orang baru lamaran doang"
"Ishh, jadi ga sabar bakal jadi bridesmaid lo. Kenalin dong sama temennya Bang Ta yang belom nikah"
"Lo sendiri punya pacar, gimana sih"
"Udah putus. Soalnya tiap gue ajak jalan selalu banyak alasan. Sebagai orang yang pernah selingkuh, ya gue taulah gimana ciri-ciri orang selingkuh"
"Ooh, jadi dia selingkuh?" tanya Sherly bersemangat.
"Ga tau sih, feeling gue aja" celetuk Mia.
"Karma tuh. Gara-gara nyelingkuhin Tian" todong Sherly.
"Sembarangan aja" timpal Mia.
Mereka kemudian berpisah di parkiran. Sherly segera menuju kantor Zapata untuk menjemput si calon suaminya itu.
"Halo, aku udah di bawah. Kamu turun ya, aku kucel banget nih malu sama Pak Eko"
"Ngapain malu sama Eko, calon suami kamu kan aku bukan dia"
Heh?
"Ya makanya itu, kalo sama kamu aku biasa aja. Kenapa musti malu. Kan calon suami"
"Ga bisa gitu dong. Giliran sama Eko aja, malu-malu"
"Kamu kenapa sih? Masih cemburu sama Pak Eko?"
__ADS_1
"Cemburu? Ih, ngapain. Ya udah, tunggu situ aku ke bawah"
Sherly ngadem di mobil sembari menunggu Zapata muncul. Tak lama kemudian, terlihat mobil Puput baru masuk ke parkiran. Dengan style modisnya Puput melenggang pergi setelah memarkirkan mobil. Sherly tersenyum kecut. Ia memperhatikan dirinya sendiri.
"Gue yang tampilannya kaya gini, sedangkan mantan Bang Ta kaya gitu. Apa gue perlu merubah penampilan biar Bang Ta ga malu punya calon istri kaya gue?"
Tok tok tok
Kaca jendela diketuk oleh Zapata. Lelaki itu berpakaian santai karena akan pergi ke butik. Jas dan kemejanya sudah ia tanggalkan di ruang istirahatnya.
"Kamu yang nyetir atau aku?" tanya Zapata.
"Biar aku aja" jawab Sherly karena malas turun dari mobil.
Keduanya membelah jalanan yang masih lengang. Sesekali terjebak lampu merah, namun tak apa yang terpenting bukan terjebak macet.
Di perjalanan selalu ada saja yang menarik perhatian Zapata si julid itu. Sherly pun tak kuasa meluapkan tawa sampai keluar air mata.
"Ha, ha, ha. Ngapain sih mbak buru-buru amat. Pasti lagi janjian sama pelanggan" ucap Zapata yang mengomentari perempuan pengendara motor yang nyalip mobil Sherly sambil ngebut lalu menyeberang sembarangan.
"Pelanggannya udah ngechat, mbak cepet mbak, gak sabar lagi nih mbak" sambung Zapata.
"Tau banget, pasti pernah punya pengalaman nih" canda Sherly.
"Duh, umur 32 ga mungkin nihil pengalaman 'kan?" sahut Zapata.
Bukannya menjawab Zapata malah tertawa.
"Ya nggaklah, cuma sini kesini aja" tunjuknya dengan menunjuk pinggang ke atas.
"Iiiihh" kesal Sherly.
"Jangan marah, ampun. Aku udah lama tobat, sumpah"
"Aku ga mau ngomong sama kamu"
"Sumpah, aku udah tobat. Beneran, serius"
Sherly diam tak menghiraukan Zapata. Ia kesal kenapa Zapata bisa seperti itu. Sedangkan dirinya tidak pernah macam-macam. Pernah satu kali, itupun di paksa Zapata yang pada akhirnya membuat Sherly sangat benci padanya.
Sampai ke butik, Sherly masih cuek padanya. Zapata kalang kabut karena setiap bertanya selalu di abaikan.
"Oh ini, calon menantu Pak Raffa?" sapa perempuan paruh baya yang merupakan pemilik butik tersebut.
"Iya, Tante" jawab Zapata ramah dan merangkul Sherly.
"Ayo masuk, mama kamu sudah kasih tau kalo kalian mau kesini"
Sepasang kekasih itu di bawa ke sebuah ruangan yang di penuhi gaun-gaun cantik. Ada pula beberapa contoh pakaian adat pengantin dari berbagai suku namun sudah dalam bentuk kebaya, agar terkesan lebih modern.
__ADS_1
"Akadnya Padang, kan? Berarti yang ini. Kalo Padang, Tante biasanya bikin warna ungu, merah, atau merah maroon. Padang tuh banyak payetnya biasanya. Yang modern ya yang Tante maksud"
"Ini bagus Tante" puji Sherly.
"Mau yang sama persis? Atau pengen custom?" tanya Tante itu.
"Sama persis, emm tapi beda dikit aja sih paling" ucap Sherly ragu-ragu.
"Mau beda di bagian mana?" ujar Tante yang kemudian memanggil asistennya.
"Warnanya aku mau samain aja kaya yang ini. Tapi bagian ujung lengannya aku mau payet gold gitu sekitar 5 sentilah. Jadi, kaya pakek gelang gitu" ungkap Sherly mulai yakin dengan keinginannya.
"Ah iya, sumatera tuh identik sama gelang-gelang gitu ya" sambut Tante yang mengerti dengan maksud Sherly.
Asistennya pun dengan serius mencatat detail yang Sherly sebutkan.
"Terus aku mau panjang bajunya sepaha aja. Biar keliatan tinggi hehe" ujar Sherly.
"Iya, setuju Tante. Soalnya kalo orang yang agak pendek, panjang atasannya sampe lutut jadi nambah keliatan pendek. Terus saran Tante mending polos aja. Karena cukup di bagian gelang tadi aja yang jadi ikonnya. Biar ga terlalu rame. Tapi terserah kamu juga sih maunya kaya gimana"
"Iya, aku mau polos aja Tante"
"Oke, polos aja ya"
Setelah Sherly selesai, lanjut Zapata yang menyesuaikan selera dengan bajunya. Beberapa komentar yang tak kalah banyak ia utarakan pada Tante sahabat mamanya itu. Mereka bahkan sampai menghabiskan waktu dua jam di butik tersebut.
"Sher, masih marah?" tanya Zapata saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Masih"
"Kamu jangan marahlah, salah kamu juga lahirnya kelamaan. Malah aku sampe icip-icip ke yang lain dulu baru nongol"
"Makanya jangan nakal. Aku mau tau, mantan kamu ada berapa sebenernya!?"
"Emmm" Zapata tampak mulai menghitung. "Tapi jangan marah, ya!?" tuntutnya pada Sherly.
"Hm" sahut Sherly malas.
"Kalo marah aku gak jadi kasih tau"
"Ya udah iya, aku ga marah"
"25" ungkap Zapata singkat.
"25?" tanya Sherly.
"Iya, 25"
"Banyak banget" Sherly memijit keningnya seolah tak percaya akan memiliki suami mantan playboy. Ia pikir Zapata tak jauh berbeda dari abang kandungnya, Bibin, ataupun Rama yang memiliki sedikit pengalaman tentang perempuan.
__ADS_1