
Setelah kejadian lempar buku nikah itu, Sherly dan Zapata saling mengintrospeksi diri. Keduanya mencoba memperbaiki semua kekurangan yang ada dalam rumah tangga mereka. Tidak ada lagi tuntutan perihal momongan, semua dijalani dengan berpasrah diri. Mereka juga semakin memahami yang namanya rumah tangga pasti banyak ujian, oleh karena itu keduanya saling berpegang tangan dan saling menguatkan. Tentang hasil pemeriksaan Zapata waktu itu...
Flashback On
Tepat keesokan harinya, sesuai tanggal antrean. Zapata dan Sherly kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesuburan. Zapata dapat nomor antrean pertama, yang artinya ia dipanggil paling awal.
Seperti dokter pada umumnya, pasti yang ditanya pertama sekali adalah keluhan. "Jadi, apa keluhan yang dirasakan?" tanya dokter yang juga bergelar pakar se*solog itu.
"Begini Dok, sebetulnya kami tidak punya masalah yang berarti. Hanya saja, kami berdua tidak sabar untuk memiliki momongan. Terakhir, istri saya operasi karena ada kelainan pada rahim. Tapi, meski sudah menjalankan operasi kami masih belum dikaruniai momongan. Dan kami kesini, ingin berkonsultasi sekaligus saya ingin memeriksakan diri. Barangkali tapi jangan sampe, amit-amit ya Dok, barangkali saya yang bermasalah." ujar Zapata.
"Terakhir berhubungan kapan? Boleh saya periksa?" tanya dokternya seraya meminta Zapata ikut dengannya.
Dokter awalnya memeriksa alat v*tal secara fisik. Tapi karena jawaban Zapata yang mengatakan kalau mereka terakhir berhubungan kurang lebih 5 harian lalu, dokter pun akhirnya meminta Zapata masuk ruangan khusus.
(Btw, kalo ada yang nanya. Kan semalem abis lempar buku nikah mereka langsung baikan, emang gak ng*w*? Jawabannya, iya. Mereka emang gak ngelakuin, karena keduanya udah tahu kalo mau cek kesuburan pasti dokter akan nyaranin untuk jangan ngelakuin dulu, minimal 2 hari. Soalnya, biar sp*rm* yang di cek itu, bener-bener yang berkualitas. Sekarang paham kan kelen????)
Sherly turut setia mendampingi Zapata selama pemeriksaan, ia juga masuk ke sebuah ruangan khusus. Lalu tiba-tiba dokternya menyerahkan sebuah wadah kecil pada Zapata yang diterimanya tanpa tahu apa tujuannya. Sherly dan Zapata bingung, wajah bingung mereka membuat si dokter dan perawatnya tersenyum. Setelah itu dokternya pergi dan perawatnya berkata, "Mbak, bantu suaminya untuk keluarin spe*manya ya. Terus jangan lupa dimasukin ke wadah itu" lalu perawat tersebut langsung meninggalkan Sherly dan Zapata.
Tanpa berlama-lama, Sherly bantuin deh tuh suaminya buat ngeluarin si cairan yang dibutuhkan untuk di kirim ke laboratorium guna pemeriksaan selanjutnya. Mulai dari pakek jari, sampai gaya n*ngg*ng pun Sherly jabanin. Demi masa depan yang lebih baik wkwkwk.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu awalnya kalau ternyata ada ruangan khusus seperti ini, plus wadah kecil itu juga. Dipikiran mereka awalnya, yaitu Zapata akan disuntik -entah gimana nyuntiknya- pokonya mikir bakal disuntik di bagian "itu" terus dengan suntikan itu akan nyedot si sp*rm* tersebut. Oh ternyata dugaan mereka salah.
__ADS_1
Setelah cairan kental manis itu di dapatkan, keduanya pun keluar dengan membawa wadah yang telah terisi setengahnya. Perawat yang menerima wadah tersebut tersenyum canggung melihat wajah Sherly dan Zapata.
Dokter kembali meminta mereka duduk di hadapannya dan ia mulai menjelaskan.
"Sp*rm* tadi akan dikirim ke lab. Kemungkinan hasilnya akan keluar minggu depan. Kalian harus optimis, apalagi kalian ini pasangan muda"
"Saya udah tua, Dok" sanggah Zapata.
"Justru itu, laki-laki makin tua makin berkualitas. Beda sama perempuan, mereka ada masa-masanya. Istrimu berapa tahun?" tanya si Dokter dengan akrab.
"21 tahun" jawab Sherly sendiri.
"Nah, pucuk dicinta ulampun tiba. Masih seger-segernya. Eh, kita kembali ke laptop ya. Hasil pengamatan saya terhadap test*s kamu, ukuran test*s kelihatan normal, alat vitalnya juga normal. Semoga tidak ada permasalahan serius ya, semoga saja ini hanya masalah waktu. Banyak pasien saya yang menikah 9 atau 10 tahun belum punya anak, berobat sama saya kedua-duanya ternyata normal, baik-baik saja. Disitulah hak progratif Tuhan itu nyata adanya, kalau Dia belum mau kasih, ya tidak akan kasih. Meskipun pasangan tersebut sehat dan bugar sekalipun, kalau di atas bilang tidak ya tidak. Setelah akhirnya 3 kali bayi tabung, akhirnya berhasil mereka dapat keturunan, mereka langsung minta kembar ke saya. Mau laki-laki kedua-duanya. Saya atur, sebab kalau bayi tabung memang jenis kelamin bisa di atur sesuai permintaan. Bisa saya katakan 95% akurat" Si Dokter tiba-tiba berhenti bicara, ternyata dari depan pintu, asistennya memberi kode kalau pasien diluar banyak yang antre.
Zapata dan Sherly berjabat tangan dengan dokter tersebut sebelum meninggalkan ruangan. Lalu keduanya membayar biaya konsultasi dengan asistennya baru kemudian langsung pulang.
Flashback Off
Hari ini, hari dimana mereka akan kembali kerumah sakit untuk mengetahui hasil tes Zapata minggu lalu. Sherly gantian menghibur Zapata yang nampak tegang. Persis seperti saat ia mau di operasi dulu, sama tegangnya dengan wajah Zapata saat ini.
"Bang Ta sayang, jangan stres gitu dooong. Kan kita udah janji bakal tetap bersama-sama terus. Apapun yang terjadi, pokonya aku terima kamu apa adanya. Antara kita gak akan ada kata meninggalkan dan ditinggalkan. Kamu harus percaya aku dooong, harus optimis jugaa... Masa belum apa-apa udah melempem, tunda dulu melempemnya. Aku udah kehabisan kata-kata ni buat hibur kamu"
__ADS_1
"Nomor 13" umum sang asisten dokter.
Sherly berdiri dengan cepat, melihat Zapata lesu ia sampai menggandeng sang suami agar mampu berjalan dengan cepat. Pasien yang lain menatap mereka dengan wajah beragam, Sherly tak peduli apalagi Zapata. Kecemasannya jauh diatas rata-rata. Mana peduli lagi dengan tatapan orang.
Dokter menyambut pasangan itu dengan senyum terkembang. "Wah, saya senang lho pasien saya mesra terus kaya gini" puji si dokter tanpa tahu alasan pasiennya itu gandengan.
"Jadi gimana Dok? Saya mau tau hasilnya sekarang juga" timpal Zapata cepat.
"Sabar dulu" tepuk Sherly pada lengannya.
"Sebentar-sebentar" si dokter mengambil sebuah surat di laci dekat pintu. Si dokter di anggap mengulur waktu oleh Zapata. Pria itu akhirnya mendengus karena tak sabaran.
"Yank, jangan kaya gini. Aku tuh takut loh kalo kamu bersikap emosian kaya gini. Kamu harus optimis, jangan pesimis"
Zapata merunduk diomelin oleh Sherly.
Dokter kembali kemejanya membawa sebuah surat yang bercap laboratorium rumah sakit. Setelah surat itu dibuka, keluarlah secarik kertas yang memuat hasil pemeriksaan laboraturium atas nama Zapata Rismandanu.
Si Dokter memperhatikan secarik kertas itu terlebih dahulu baru menyerahkannya pada Sherly dan Zapata. Selagi Sherly dan Zapata sama-sama membaca isi surat yang tidak mereka pahami isinya, sambil si dokter memberitahukan kesimpulannya.
"Jadi, berdasarkan hasi ceklab, tidak ditemukan permasalahan apapun. Maka, dapat disimpulkan bahwa anda normal. Disitu (dalam surat) diterangkan kalau kekentalan sp*rm* anda normal tidak encer, lalu jumlah sp*rm* nya juga banyak, sesuai batas normal, larinya juga cepet. Saya rasa, permasalahan kalian ada pada takdir. Saran saya, nikmati saja dulu seperti saat sedang berpacaran. Jangan dibawa stres, karena stres juga termasuk penghambat kehamilan lho. Atau, kalo memang sudah gak sabar banget, saya usulkan untuk bayi tabung saja. Bagaimana?"
__ADS_1
Sherly dan Zapata berpikir sejenak, kemudian mereka mantap menyatakan keputusannya.