
Waktu terus berlalu, aku kini tengah duduk di sebuah restoran mewah yang sengaja di booking oleh Zapata hanya untuk merayakan anniversary kami satu bulan. Aku duduk dengan anggun menunggu apa yang akan Zapata ucapkan.
"Selamat anniversary ya sayang. Kamu sudah lulus di uji coba tahap pertama" ujarnya.
Aku memutar bola mata jengah. Sudah tampil seanggun ini dan dia juga berpakaian sangat rapi tapi jiwa gilanya ternyata masih kebawa sampai kesini.
"Becanda doang. Intinya hari ini aku seneng banget. Kamu mau apa aja pasti aku kasih. Meski malam ini malam minggu, tapi kalo kamu maunya malam senin juga pasti aku kabulin. Ibaratnya gitu"
"Bisa gak? Sehari aja kamu ngomong serius, jangan becanda mulu" tegurku.
"Gak bisa, pokonya setelan pabriknya memang begini"
"Ya udah iya. Gimana kalo kita langsung makan aja?"
Kami pun makan dengan diiringi musik melankolis yang menambah suasana jadi semakin romantis. Aku menyuapi Zapata steak lalu ia dengan senang hati menerima suapanku.
Kami juga sempat mengambil foto selfie berdua untuk seru-seruan saja agar ada memori indah yang bisa kami kenang suatu saat nanti. Aku sangat bahagia, karena Zapata tidak hanya mengajakku makan malam romantis melainkan ia juga membawaku ke sebuah tempat yang aku tidak ketahui lalu ia menunjukkan banyak kado yang ternyata sudah ada di dalam bagasi mobilnya.
Kubuka satu persatu kado itu. Aku tahu itu semua memang mahal. Tapi bukan itu yang aku soroti, karena apapun yang ia berikan padaku pasti aku dengan senang hati menerimanya.
Aku sungguh tersanjung dengan kebaikannya yang selalu berusaha membuatku bahagia. Bahkan, aku menjadi takut sendiri jika tak mampu balik membahagiakannya.
"By, bisa ga kamu jangan terlalu baik? Aku takut ga bisa membalas sepadan dengan yang kamu lakuin ke aku"
"Kamu ngomong apa sih? Dengan kamu bahagia begini, aku juga jadi bahagia. Stop mikir yang aneh-aneh" ujarnya.
"Gimana ga mikir yang aneh-aneh, kamu kan random people"
Ia melipat tangan di dada, menatapku curiga.
"Nuduh aku mesum maksudnya?"
"Ih nggak, tuh kan"
Ia mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Aku terdiam, entah mengapa diri ini seperti menunggu pergerakannya.
"Kenapa diam? Jadi malin kundang?" tanyanya.
Aku membuka mata lalu menggeleng. Tubuhnya sudah kembali ke posisi semula.
"Kamu pernah ci*uman?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Ng...nggak" jawabku gugup. Sembari menerka-nerka pertanyaan selanjutnya atau juga adegan yang mungkin saja terjadi setelah ini.
"Kenapa?"
"Kan pacarannya dulu cuma cinta monyet doang"
"Tapi mau?" tanya Zapata lagi.
"Gak mau jawab"
"Tapi aku mau tau"
"Dilanjut nih, dilanjut buka kadonya" ujarku mengalihkan pembicaraan.
Zapata pun mengikuti perintahku. Ia juga sesekali menanyakan pendapatku tentang semua benda-benda yang ia beri. Aku pun menjawab dengan sangat bahagia karena semua kado ini selain berguna juga merupakan barang-barang incaranku.
Sebelum kami memutuskan untuk pulang, Zapata menggenggam tanganku erat. Ia memintaku untuk berjanji akan selalu setia kepadanya. Dan aku telah berjanji untuk setia padanya. Aku pun juga mengutarakan segala isi hatiku padanya.
"By, kamu yang terbaik yang pernah aku temui. Jangan khawatirkan aku, karena aku tidak akan mudah menemukan yang lebih baik dari kamu. Sampai nanti, tetap kamu yang jadi satu-satunya pemilik hati aku. Cuma pundak ini yang biasa jadi sandaran aku, jangan kamu biarkan oranglain menempatinya. Kamu punya segalanya, pasti aku banyak saingan ya?"
"Nggak kok" jawabnya.
"Walau saingan aku banyak diluar sana, tapi kalo kamu memang hanya mau aku saja. Sampai kapanpun aku akan berjuang buat kita. Tapi kalau kamu sendiri yang memilih pergi, aku akan lepasin kamu. Seperti yang kamu katakan, bahagianya aku bahagia kamu juga. Begitu juga sebaliknya, kalo kamu bahagia. Sekalipun itu menyakitkan perasaan aku, aku juga ikut bahagia. Semua demi kamu"
Zapata menarikku kedalam pelukannya, dan sesaat kemudian bi*birnya sudah menempel di bibi*rku. Ia mendorong pelan dengan lida*hnya sehingga bibirku yang terkatup ini jadi terbuka dan mempersilahkan lida*hnya untuk mengeksplor segala ruang di mulutku. Aku tidak menduga bahwa ciuma*n pertamaku akan seliar ini. Tapi aku akhirnya mengikuti permainannya. Aku membalas setiap pergerakan li*dahnya.
Sampai akhirnya aku merasa sudah kehabisan oksigen, ia pun melepaskan pagu*tan kami. Ia menempelkan keningku dengan keningnya. Lalu mengelap bibirku yang basah.
"Manis" pujinya pada bi*bir merahku.
Aku tersenyum simpul.
Setelah itu aku diantar pulang. Sampai rumah, aku masih terus membayangkan pagu*tan tadi. Kupegang bibi*r ini, masih ada jejak bibi*rnya. Aku bercermin, masih terus mengingat bagaimana liarnya Zapata mencu*mbuku.
Hingga akhirnya dering teleponku berbunyi. Dan itu dia.
"Halo by? Udah sampe rumah?" tanyaku.
"Udah sayang, nih lagi otw ke kamar"
"Jangan begadang lagi, besok kamu ada penerbangan pagi lho"
__ADS_1
"Iya, aku bersih-bersih bentar ya"
Aku pun menunggunya bersih-bersih. 10 menit kemudian akhirnya selesai.
"Sayang, video call ya. Aku pengen liat muka kamu"
Akhirnya kami melakukan video call.
"Sayang, kangen" ujarnya.
"Ih, tadi baru aja ketemu" ucapku.
"Sayang, aku minta maaf"
"Minta maaf buat apa?" tanyaku.
"Karena udah nyosor duluan" ucapnya dengan tak enak hati.
Aku jadi bingung mau merespon apa. Bilang gapapa, kesannya kaya enteng banget. Bilang kenapa-napa juga kenyataannya tadi malah menikmati. Duh.
"Iya, aku maafin. Udahlah, jangan dibahas" ucapku.
"Kenapa?"
Oops, aku lupa. Pacarku adalah Zapata. Makhluk yang kalo dilarang semakin dilakukan.
"Kamu ga ngantuk?"
"Ih jawab dulu yang tadi"
"Huft, males aja bahasnya. Nanti kepikiran, kebayang-bayang, terus kepengen siaran ulang. Kan bahaya"
"Hahaha, tapi aku ikhlas luar dalam lho kalo kamu maksa" sahutnya.
"Kan, yang waras memang cuma aku"
Setelah video call selesai, kami pun langsung tidur. Besok, pagi-pagi aku akan siapkan sarapan untuk Zapata dan sekaligus akan mengantarnya ke bandara karena perusahaannya memang tersebar dimana-mana dan salah satunya di Australia. Dan disana, sedang ada masalah keuangan yang nampaknya sangat fatal sehingga mengharuskan Zapata menyusul Eko kesana.
Aku juga sudah persiapkan segala bahan untuk membuat sarapannya. Bahkan aku sudah berlatih lebih dulu agar bisa mengoreksi rasa dan tidak gagal di hari-H.
Hingga dikeesokan harinya, jam 6 pagi aku sudah berkutat didapur. Mama sudah tahu jika aku berpacaran dengan Zapata, tapi tidak dengan Mas Rama dan Kak Feza. Oleh sebab itu, mama tidak bertanya mengapa pagi ini aku sudah berada di dapur, tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Setelah Sandwich buatanku selesai, akupun langsung mandi dan bersiap-siap untuk menjemput Zapata.
POV Puput end