
Hari demi hari berlalu. Puput merasa kesepian yang amat menusuk dikehidupannya tanpa Zapata. Lain halnya dengan Zapata, lelaki itu bisa berkutat menghabiskan waktu dengan pekerjaannya lalu malamnya ia bersama Bibin dan Eko menuju ke tempat yang bisa membuat dirinya menjadi lebih tenang.
Puput terus mencoba menghubungi Zapata, walau ia tahu itu takkan berhasil karena Zapata sedang di luar negeri tapi ia tetap saja terus-terusan menghubungi ponsel Zapata dengan kode panggilan +62. Hampir satu minggu ia di abaikan oleh Zapata, sampai akhirnya Puput jatuh sakit.
Ia dilarikan kerumah sakit karena saat itu Puput belum juga keluar kamar padahal ia ada jadwal kuliah pagi. Dan mama menemukannya yang masih tertidur namun ketika dibangunkan tapi Puput tak kunjung sadar.
Selama di rawat tiga hari di rumah sakit, selama itu pula Zapata masih mengabaikan Puput. Puput kecewa berat padanya. Kondisinya yang belum stabil bahkan masih harus bedrest tapi Puput ngotot memilih untuk tetap masuk kuliah sebagai pelariannya untuk mencari kesibukan agar tak selalu memikirkan Zapata.
Cukuplah air matanya habis kala membayangkan saat dirinya terbaring di rumah sakit lalu Zapata buru-buru pulang ke Indonesia dan datang menjenguk karena mencemaskannya. Hah, itu hanya ada dalam pikiran Puput. Karena buktinya sampai berhari-hari ia keluar dari rumah sakit masih tidak ada tanda-tanda tuh kalau Zapata mau pulang ke Indonesia.
Puput juga sering menghubungi Bibin tentunya, tapi sama saja dengan Zapata. Tak bisa dihubungi.
Sedangkan Rama dan Feza, mereka tahu pasti ada sesuatu di antara Puput dan Zapata. Tapi sebagai kakak yang bijak, mereka tidak mau ikut campur. Sebab, Puput sendiri pun tidak membuka percakapan tentang Zapata kepada mereka. Dan saat ini, Feza dan Rama memilih pura-pura tidak tahu. Membiarkan Puput dan Zapata menyelesaikan urusan mereka sendiri.
Sedangkan Mama, wanita yang memiliki ikatan batin yang sangat erat dengan Puput itu juga tahu bahwa ada yang tidak beres. Dugaannya mungkin disebabkan oleh percakapannya dengan Zapata kala itu. Tentang pernikahan yang ditunda. Sebagai seorang ibu, tentu tak ingin membuat anaknya bersedih. Namun, ia juga khawatir jika Puput belum siap mental untuk menjadi seorang istri. Dan usia 21 tahun itu, juga termasuk kategori menikah muda.
Terhitung kini sudah hampir dua bulan hidup Puput tanpa kehadiran Zapata. Ia mulai terbiasa dan malah terkesan tidak mencari-cari tahu lagi kabar Zapata.
Sudah banyak pelarian-pelarian yang ia lakukan demi melupakan Zapata. Hanya saja, tak semuanya ia tekuni. Melainkan hanya satu yang ia tekuni sampai detik ini, yakni zumba yang seminggu tiga kali ia lakukan disebuah sanggar senam.
Puput memang pribadi yang suka bergerak. Itu sebabnya ia gabung Dance Theatre (DanTe) dikampus. Dan sampai detik ini DanTe masih hiatus, Puput jadi fokus ikut Zumba yang tempatnya cukup dekat dengan rumahnya. Sherly juga terkadang ikut, hanya saja Sherly tidak tergabung dalam member tetap. Ia hanya sesekali saja dalam satu minggu itu juga kalau mood.
Berat badan Puput menjadi sangat ideal. Tubuhnya pun juga semakin proporsional. Dikampus, banyak senior mendekatinya. Karena selain bodynya yang oke, Puput juga kini semakin pandai merawat diri. Diwajahnya kini sudah tak lagi hanya 1 brand, melainkan banyak macamnya. Rambut juga dari hari ke hari selalu berbeda-beda bentuk. Hari senin curly dibagian bawah, hari selasa bergelombang dari atas sampe bawah, hari rabu di sempol atas, dan lain-lain. Pokonya, melihat Puput dari hari ke hari selalu berbeda-beda. Ga bikin bosan mata memandangnya.
Ada satu lelaki yang akhir-akhir ini tiba-tiba jadi perhatian pada Puput. Awalnya Puput juga sudah mati-matian menolak segala bentuk perhatian dari lelaki tersebut. Tapi yang namanya wanita, semakin sering di perhatikan pasti luluh juga.
Dan lelaki itu adalah Tian.
Awalnya berat hati Puput untuk menerima kepedulian Tian. Karena ia tahu Tian adalah kekasih Sherly, sahabatnya sendiri. Dan Puput pun masih berstatus punya Zapata. Walau hubungannya dengan Zapata kini sedang tak jelas mau dibawa kemana.
Setiap kali pulang ngampus. Tian menghampiri Puput setelah ia sebelumnya memastikan kalau Sherly sudah lebih dulu pulang.
"Put, gue antar aja ya. Soalnya gue liat lo agak pucat hari ini. Ntar malah kenapa-napa dijalan"
__ADS_1
"Gapapa Tian, gue pulang sendiri aja. Kalo lo anterin gue, gimana nasib mobil gue"
"Gampang. Gue bawa mobil lo, mobil gue bisa titip ke abang gue"
Tanpa persetujuan Puput, Tian langsung memanggil abangnya yang kebetulan nongkrong di dekat parkiran. Ia memberikan kunci mobil pada abangnya lalu masuk ke mobil Puput.
Puput pun mau tidak mau beringsut masuk ke mobil menyusul Tian. Tian mengantar Puput sampai kerumah. Lalu Puput membiarkan Tian membawa saja mobilnya agar Tian tak perlu repot-repot pesan taksi. Lagipula, kasian Tian yang sudah repot-repot mengantarnya pulang. Dan itu membuka kesempatan baru bagi Tian untuk bisa menjemput Puput esok hari.
Sherly sampai dirumahnya, ia ditegur mama karena tadi pagi lupa membawa kue buatan Dinda untuk Feza. Rencananya tadi pagi Sherly mau jemput Puput ngampus sekalian nganterin kue buat Feza, tapi karena Puput bilang mau bawa mobil sendiri ya udah akhirnya kue itupun ketinggalan.
Sherly yang sudah kepalang lelah, memilih langsung kerumah Puput untuk mengantarkan kue. Biar istirahatnya sekalian nanti saja.
Sampai kerumah Puput, ia disambut Feza dan Rama yang tengah berkumpul dengan anak mereka. Saat itu hari memang sudah sore, makanya Rama sudah ada dirumah.
Tahu Sherly ada dirumahnya, Puput terlihat cemas. Ia buru-buru menemui Sherly.
"Loh Sher, baru nyampe?" tanya Puput.
Sherly sempet liat Tian nganterin gue ga ya? Soalnya kan Tian juga belum lama pulang dari sini.
"Put, lo kenapa? Sakit lagi?" tanya Sherly sembari memperhatikan wajah Puput yang nampak sedikit pucat.
"Biasalah Sher, lupa minum obat" ujar Puput.
"Makanya, sediain juga dalam tas lo biar ga lupa" imbuh Sherly karena memang saat makan siang dikampus Puput tadi tidak minum obat karena ketinggalan dirumah.
"Iya, lo tenang aja"
Sherly pun langsung pamit. Sampai rumah, ia baru berniat mengabari Tian kalau dirinya baru sampai rumah dua kali.
Tian
"Kok dua kali Yank?"
__ADS_1
Sherly
"Iya, soalnya tadi pulang ngampus disuruh kerumah Puput buat anterin kue. Nah ini baru sampe rumah lagi"
Tian
"Ya ampun yank, aku kira apaan. Terus ketemu Puputnya?"
Sherly
"Ya ketemu Yank, kan Puput juga udah pulang kampus"
Tian
"Oh gitu"
Sherly
"Yank, besok ngampus kamu jemput aku ya. Udah lama ga berangkat bareng sama kamu😗"
Tian
"Maaf sayang, aku ga bisa. Besok mau mampir ke distro bentar. Takutnya kalo aku jemput kamu, kita malah telat ngampus"
Sherly
"Ya udah gapapa sayang. Aku mandi dulu ya, kamu jangan lupa mandi"
Tentu saja Sherly tidak curiga, karena memang ada beberapa kali dalam sebulan Tian harus mampir ke distronya. Terkadang sekedar nganterin kunci buat karyawannya. Tian memang lelaki yang mandiri, diusianya yang masih muda ia sudah memiliki distro dengan total 2 cabang. Dan penghasilannya lumayan untuk seorang pemuda seusianya.
Tian
"Siap sayangku"
__ADS_1