Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Hati Yang Lain


__ADS_3

Sherly menolak tanpa ada alasan. Puput juga tak memaksa. Hingga akhirnya perkuliahan siang itu selesai.


Sherly ikut pulang kerumah Puput. Ia ingin curhat pada Puput kalau kini ia dan Tian sudah putus. Tian memutuskannya dengan alasan yang terlalu mengada-ada menurut Sherly. Puput mendengarkan semua curahan hati Sherly, tak banyak komentar hanya sesekali menanggapi.


Hingga sorenya, Sherly pamit pulang kerumahnya dan meninggalkan Puput yang langsung memberitahu Tian kalau ia tidak bisa pegang ponsel karena ada Sherly dirumahnya. Dan Puput juga memberitahu pada Tian kalau tadi Sherly curhat tentang kandasnya hubungan Tian dan Sherly.


"Terus, kamu kasih tahu dia ga tentang hubungan kita?" tanya Tian.


"Ya nggaklah. Aku masih takut kalo Sherly bakal benci sama aku. Kita kasih jeda dulu, biar dia ga curiga kalo sebenarnya kita udah nusuk dia dari belakang"


(()))(())


Disebuah gedung bertingkat, nampaklah seorang lelaki yang baru saja keluar dari ruang pertemuan. Lelaki itu memang sangat sibuk akhir-akhir ini, sampai ia hampir kehilangan cintanya karena kesibukannya yang terlalu padat. Sedangkan wanita yang ia cintai lagaknya seperti perempuan yang haus akan kasih sayang.


Siapa lagi kalau bukan Zapata dan Puput.


Hari ini, permasalahan perusahaannya yang waktu itu di Belanda sudah dipastikan selesai. Berkas dan beberapa bukti penipuan yang dituduhkan pada perusahaannya sudah ia serahkan pada pengadilan setempat. Sisanya, ia biarkan Eko yang mengurusi.


Kini, Zapata harus fokus mengurusi Puput. Setiap hari selalu ada saja kabar mengejutkan yang ia dapati dari orang kepercayaannya. Walau kesabaran Zapata hanya setipis tisu yang dibagi dua, tapi kalau dalam hal perasaan ia tak main sembarang memutuskan hubungan.


Ia menghargai apapun alasan yang akan Puput berikan. Sebab, memang salahnya yang pergi dan tak tahu kapan kembali.


Zapata menghubungi Puput malam itu. Dan panggilannya langsung dijawab oleh Puput dengan nada ketus.


"Kenapa?"


"Kamu yang kenapa? Aku hubungin kamu mau bicara baik-baik"


"Apa lagi yang mau dibicarain?"


"Put, aku salah dan aku mohon maaf sama kamu. Put, aku rindu. Aku pengen ajak kamu pergi ke suatu tempat. Kamu pasti bakalan suka"


"Aku ga bisa"


"Kenapa ga bisa?"


"Kuliah"


"Sepulang kuliah. Nanti aku bakal minta izin langsung sama mama kamu buat ajak kamu jalan"

__ADS_1


"Hm"


"Put, please! Kamu jangan jutek-jutek gitu dong!? Aku mau kita kaya dulu lagi"


"Ya kamu sendiri yang duluan ninggalin aku. Kamu pikir aku ga kehilangan kamu? Aku tuh berkali-kali hubungin kamu tapi kamu selalu ga bisa dihubungin. Bahkan sempet masuk, tapi ga kamu angkat. Mikir!"


"Put, aku bukan anak ABG yang kalo ngilang pertanda punya yang baru. Aku ngilang karena memang ada urusan mendadak. Aku kalo lagi punya masalah memang lebih suka ngadepin sendiri. Bukan ga mau berbagi, tapi aku mau selesain dulu sampai beneran clear. Kalo pikiran aku udah jernih, baru aku bisa cerita"


"Terserah kamu. Aku bosan kalo terus-terusan dituntut ngertiin kamu"


"Aku ga nuntut, Put. Tapi aku cuma mau kamu ngerti, kamu tahu kalo aku orangnya kaya gitu"


"Hm"


"Jadi gimana? Mau kan jalan sama aku? Aku jemput kamu dirumah ya!?"


"Iya"


"Makasih Sayang" sahut Zapata senang.


Setelah itu panggilan pun berakhir. Puput sengaja mengiyakan ajakan jalan Zapata karena menurutnya memang harus bicara secara langsung pada Zapata. Bicara tentang bagaimana baiknya hubungan mereka ini. Sebab Puput merasa sudah tak ada rasa lagi.


()()((()


Diperjalanan, mereka hanya berdua di mobil. Puput memilih diam sembari memperhatikan jalanan yang mereka lewati sedangkan Zapata fokus mengendarai mobil agar cepat sampai.


Hingga akhirnya, tibalah mereka disebuah bangunan yang Puput yakini bahwa itu pastilah sebuah villa yang berdiri tepat di sisi pantai. Pemandangannya dimalam hari pastilah sangat indah. Puput berlari kecil menuju tepian pantai. Merentangkan tangan menghirup angin sepoi-sepoi yang menerjang tubuhnya.


Zapata menerima kunci villa dari pengurusnya. Ia memang sudah mempersiapkan ini dari seminggu yang lalu, bahkan juga mengatakan pada pengurus villa kalau Puput merupakan calon istrinya.


Pengurus villa tersenyum sembari mengingat nama Puput. Agar jika suatu saat Zapata kembali kesana, ia bisa menata villa tanpa bertanya lagi siapa nama istrinya.


Urusan dengan pemilik villa selesai, Zapata kemudian menyusul Puput. Melihat pujaan hatinya berdiri memandang lautan lepas, membuat Zapata berniat untuk segera melepas rindunya dengan cara yang romantis. Ia memeluk Puput dari belakang. Menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Puput.


Darah Puput berdesir merasakan hembusan hangat dilehernya. Tanpa ragu, ia mengusap tangan Zapata yang memeluknya erat. Mereka menikmati indahnya pemandangan pantai yang terbentang luas tanpa bicara. Deru ombak yang bergemericik mengenai kaki mereka membuat keduanya makin hanyut dalam buaian.


Zapata memutar tubuh Puput hingga mengahadap padanya. Mungkin Puput sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Puput mengalungkan tangannya pada leher Zapata. Zapata tersenyum karena seolah mendapat persetujuan Puput. Ia memajukan wajahnya perlahan hingga hidung mereka bertemu.


"Sekalipun kamu bersedia aku cium, tapi aku tetap takkan melakukannya" ucap Zapata tanpa sedikit pun menjauhkan wajahnya dari Puput.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Puput polos.


"Karena kalau aku sudah mendapatkan bi*birmu, maka aku juga akan menuntut yang lebih dari itu"


"Lebih dari itu, maksudnya?"


"Sssttt" Zapata kembali memutar tubuh Puput sehingga ia bisa memeluk Puput dari belakang.


"Sayang, aku udah minta izin sama Mama buat bawa pergi kamu sampe besok"


"Apa?"


Zapata tersenyum melihat kekagetan Puput.


"Ga nyangka 'kan? Aku bisa dengan mudah dapet izin bawa kabur kamu sampe besok?"


Puput mengangguk pelan.


"Rahasia" dengan isengnya Zapata menggoda Puput.


Semakin sore langit dan pantai jadi semakin indah. Puput dan Zapata bahkan telah memesan makan malam mereka ditepi pantai. Zapata juga telah mempersiapkan banyak keperluan mereka selama disana. Tak hanya pakaiannya tapi juga pakaian Puput.


Mereka mengambil banyak foto dengan berbagai gaya. Ponsel Zapata bahkan sampai penuh memorinya karena Puput yang terus-terusan merekam keindahan pantai dari menit ke menit.


"Kamu rekam pake Hp kamu aja lagi ya!? Hp aku udah mau abis batrenya" ucap Zapata.


"Hp aku ketinggalan dirumah. Abisnya tadi muka kamu kaya nahan marah waktu aku dandan ga selesai-selesai"


"Ya udah, nih" Zapata menyerahkan kembali ponselnya pada Puput. Biarlah, karena waktu mereka bersenang-senang seperti hari ini sangatlah langka. Jadi Zapata tidak mau ada cemberut diwajah kekasihnya.


Seusai makan malam romantis di tepi pantai, keduanya memutuskan masuk ke villa. Mereka sejenak menghabiskan waktu menonton televisi. Lalu, saat Puput berpamitan hendak masuk ke kamar tiba-tiba Zapata menarik tangannya.


"Temenin aku tidur"


Puput menatap tak percaya pada apa yang Zapata katakan. Tapi Zapata dengan cepat meralat ucapannya.


"Hanya tidur, gak ngapa-ngapain"


Puput diam, berpikir. Tapi Zapata langsung menuntunnya menuju kamar milik Zapata. Disitu Puput masih diam membisu. Hingga akhirnya Zapata menuntun Puput untuk berbaring di tempat tidur ukuran besar itu.

__ADS_1


Puput masih diam. Lalu Zapata berbaring disamping Puput, memeluk dan menenggelamkan wajahnya di leher Puput. Tak butuh waktu lama, Zapata kini tertidur lelap.


Puput akhirnya ikut terlelap setelah memastikan kalau Zapata beneran sudah tertidur nyenyak disampingnya. Kejadian malam itu, menjadi salah satu kenangan indah yang Zapata ukir untuk Puput.


__ADS_2