
"Gak ada keluhan lain Dok, saya juga udah resapi betul-betul gak ada keluhan lain. Cuma itu aja"
Si dokter tersenyum karena Zapata betul-betul meyakinkan dirinya kalau keluhan pasiennya itu cuma satu itu saja tidak ada yang lain lagi.
"Kalau begitu, mungkin sumber dari semua keluhan bapak dua hari ini berasal dari sini" tolehnya ke arah Sherly.
Sherly cengo. "Hm? Kok jadi saya?"
"Biasanya kalo suami tiba-tiba mual faktor istrinya lagi hamil. Atau disebut juga kehamilan simpatik. Ibu sendiri sudah coba cek kehamilan belum?" tanya dokter perempuan itu.
"Belum" jawab Sherly dengan menggeleng.
"Ibu kalau mau ketemu dokter spesialis kandungan bisa segera konsultasi kesana" tunjuknya ke arah koridor ruang pemeriksaan kandungan. "Tapi, harus daftar online dulu di website rumah sakit ini. Linknya bisa dilihat di bagian resepsionis"
Setelah mendapat angin segar karena mengetahui dirinya kemungkinan sedang hamil, Zapata dan Sherly buru-buru ngambil nomor antrean lewat online. Walau kebagian nomor paling akhir, mereka tetap semangat mengantre dirumah sakit sampai habis maghrib demi memastikan kondisi Sherly yang sebenarnya. Sebab setelah dilihat-lihat di kalender, Sherly memang sudah telat dua hari dari jadwal datang bulannya.
Hingga tiba giliran Sherly untuk di periksa, keduanya menunggu dengan sabar saat dokter memeriksa perut Sherly lalu nampaklah di layar ada lingkaran kecil, yang mana Sherly dan Zapata tidak mengerti perihal gambar-gambar yang ditunjukkan di layar monitor itu.
"Ini, yang bulet-bulet ini calon debaynya. Ada satu, berarti solo ya bukan duo" canda si dokter.
Muka Zapata seketika memerah. Ia tahan-tahan rasa harunya sampai keluar rumah sakit.
Saat mereka sudah masuk ke mobil, Zapata langsung menumpahkan seluruh perasaan bahagianya pada sang istri. Ia menciumi wajah sang istri berkali-kali.
"Aku seneng banget, akhirnya penantian kita selama ini terwujud"
"Iya, aku juga seneng" ujar Sherly.
Tanpa berlama-lama, disampaikanlah kabar baik itu pada orang tua mereka. Baik orang tua maupun mertua, mereka turut bahagia mendapati kabar kehamilan pertama Sherly ini. Bahkan dua mamanya itu berniat akan berkunjung ke Bali untuk menemani Sherly karena kasihan kalau sering ditinggal kerja oleh Zapata.
◇◇◇
Enam tahun kemudian
"Pa, hari ini kamu yang jemput Celine ya. Aku mau masak buat makan siang kita nanti" ucap Sherly berdiri depan pintu kamarnya. Ia melihat sang suami sedang tidur-tiduran tidak masuk kantor, merupakan kesempatan bagus untuknya masak seperti dulu-dulu saat belum punya Celine -anak mereka.
"Siap Bos" jawab Zapata.
__ADS_1
Putri kecil Sherly dan Zapata kini sudah masuk TK (Taman Kanak-kanak), biasanya Sherly yang rutin antar jemput anak mereka. Sedangkan Zapata memang fokus bekerja untuk mencari nafkah. Putri kecil mereka tumbuh menjadi anak yang ceria yang wajahnya plek ketiplek meniru wajah sang ayah. Dagunya lancip, hidungnya mancung, rambut berponi, matanya kecil terus kalo senyum jadi kelihatan smile eyenya. Bahkan kelakuannya pun tak jauh berbeda dari sang papa.
Pukul 10.00 tepat, Zapata mulai bergegas jemput putri tercintanya di sekolah. Sedangkan dirumah, Sherly tengah mencuci sayuran untuk dimasak.
Kriiinggg Kriiing
Dering super nyaring terdengar dari ponsel Sherly. Tertulis dilayarnya Bu Rahma memanggil.
"Halo, selamat siang Bu" sapa Sherly.
"Selamat siang Bu Sherly. Mohon maaf, saya mau memberitahu kalau Celine baru saja membuat teman sekelasnya ketakutan. Apa ibu bisa segera temui saya di ruang guru sekarang juga?"
Waduh, ada apa ini. Sherly sampai memijat keningnya karena tiba-tiba sekali ia dihubungi oleh kepala yayasan tempat anaknya bersekolah.
"Emmm, nanti Ibu bicara langsung dengan suami saya saja soalnya hari ini beliau yang jemput. Dan nanti saya kasih tau juga ke suami, kemungkinan sekarang suami saya lagi dijalan Bu" ujar Sherly dengan ramah.
"Baik Bu, terimakasih"
Panggilan pun berakhir.
Mobil Zapata sudah memasuki gerbang sekolah anaknya. Belum sempat mematikan mesin mobilnya, ia sudah bisa melihat sang anak sedang berlari ke arah mobil. Begitu pintu dibuka, sang anak langsung ditangkap dan digendong oleh Zapata.
"Kamu kenapa lari-larian, nanti kalo jatuh gimana?"
Celine memalingkan wajahnya dari sang papa. Hal yang sering ia lakukan kalau sedang marah atau sedang pundung pada sang papa.
"Hei, papa ngomong kok dicuekin?" Zapata mengangkat-ngangkat tubuh anaknya tapi anaknya tetap tak bergeming. Tanpa ia tahu, ponselnya terus berdering.
Hingga akhirnya seorang perempuan paruh baya berjalan menghampirinya dengan disusul wanita muda yang menggendong seorang anak laki-laki.
"Selamat siang Pak" sapa Bu Rahma.
"Iya, selamat siang" jawab Zapata ramah.
"Kenalkan, ini Nyonya Renata ibunya Arkan"
Zapata bingung, kenapa dirinya seperti sedang dicomblangkan begini. Tapi ia tetap mengulurkan tangan berkenalan dengan perempuan muda itu.
__ADS_1
"Apa Bapak sudah diberitahu oleh Bu Sherly?" tanya Bu Rahma.
"Diberitahu apa? Ada apa?" tanya Zapata.
"Jadi begini Pak, Arkan baru saja pindah ke sekolah ini. Lalu dia jadi teman sekelas Celine. Awalnya Celine memang mendekatinya, mungkin mau mengajak berteman. Tapi, begitu pulang sekolah tadi, Celine mengejar Arkan dengan cepat sampai-sampai Arkan cemas dan akhirnya terjatuh. Beruntung jatuhnya hanya lecet-lecet saja. Celine juga sempat jatuh Pak" ungkap Bu Rahma.
"Saya juga sebetulnya gak mau mempermasalahkan ini, karena namanya juga anak kecil. Kita taulah gimana kelakuan mereka. Tapi, saya cuma mau bapak memberitahukan anak bapak agar gak terlalu berlebihan ke anak saya" ujar Nyonya Renata dengan lembut sehingga Zapata tidak tersinggung dengan maksud ucapannya.
"Celine!" panggil Zapata karena perempuan kecil itu setia memalingkan wajahnya ke punggung Zapata.
"Celine, jawab papa. Kamu kenapa nakal sama Arkan?"
Perempuan kecil itu akhirnya memutar wajahnya. "Karena kepala Arkan gundul kaya Ipin. Celine pengen pegang"
Anak Zapata dan Sherly itu memang penggemar berat kartun Upin dan Ipin. Memang selama 5 tahun hidup di dunia ini, Celine belum pernah melihat anak seusianya yang berkepala plontos. Oleh sebab itu, bagi Zapata ini juga hal baru. Mengetahui reaksi anaknya yang melihat manusia layaknya kartun kesukaannya.
"Celine kan bisa izin dulu baik-baik. Arkannya ngebolehin gak?" didik Zapata pada anaknya.
"Aku sampe jatuh dan lutut aku perih" timpal Arkan dengan suara bergetar. Ternyata anak laki-laki itu menangis. Tapi langsung ditenangkan mamanya.
"Aku juga jatuh bukan kamu aja" sambut Celine kesal.
"Kamu aja gak nangis" cerca Arkan.
"Tidak menangis bukan berarti tidak sakit" jawab Celine bergetar. Akhirnya perempuan kecil itu nangis juga. Yang semula ribut-ribut, kini berubah jadi adu tangis. Zapata dan Nyonya Renata saling maaf-memaafkan karena tampaknya yang salah bukan hanya Celine tapi anaknya juga ketus sekali kepada Celine.
Mereka berdua juga sepakat di hadapan Bu Rahma untuk memisahkan kelas anak mereka. Bu Rahma setuju, dan masalah dianggap sudah selesai.
Diperjalanan, Celine masih menangis terisak-isak. Rok Celine sedikit tersingkap sehingga Zapata bisa melihat kalau lutut putrinya kebiruan.
"Celine, jangan nangis lagi dong sayang. Nanti sampai rumah kita obatin ya" Zapata menoel pipi tembem putrinya.
"Kata mama, seusia aku belum saatnya nahan kesedihan. Kalo mau nangis, nangis aja"
"Iya betul sayang, tapi kan masalahnya udah selesai. Kenapa anak papa masih nangis?"
"Pengen pegang kepala Arkan, Pa. Tadi gak sempat"
__ADS_1