
Tiga bulan kemudian...
"Hueekkk, hueeekkk"
"Kamu kenapa?"
"Pahit"
"Mana ada, enak gini kok" ucap Sherly dengan menunjukkan pada Zapata coklat yang ia makan.
"Huekkk, nih kamu abisin sekalian aja sama punya aku"
"Aneh kamu tuh, coklat manis gini dibilang pahit"
Setelah membantu Zapata mengeluarkan seluruh muntahannya, mereka kini berjalan menuju ruang tengah. Sesuai janji, harusnya hari minggu begini mereka akan jalan-jalan berdua menikmati pemandangan. Meski itu sudah jadi kegiatan rutin mereka setiap hari minggu, namun mereka tak pernah bosan. Karena ada saja kejadian tak terduga yang sering mereka alami dan cukup menyenangkan bertemu dengan turis atau penduduk lokal yang berbeda-beda setiap waktunya.
Kali ini, sepertinya kegiatan rutin mereka akan di stop terlebih dahulu karena Zapata tiba-tiba mual dan muntah-muntah setelah diajak pergi. Sedangkan dari pagi sampai tadi siang, semua baik-baik saja. Dan bukan karena coklatnya juga, sebab coklat itu sudah di konsumsi sejak dua hari lalu, dan buktinya Sherly baik-baik saja.
"Perut aku rasanya kaya di peras-peras, kamu pernah ngalamin juga gak?" tanya Zapata dengan mengusap-usap perutnya.
"Gak pernah, paling melilit doang kalo mau mens" ujar Sherly.
"Aahh, atau kamu ada minum obat pencuci perut ya?" tebak Sherly.
"Nggak ada, aku kemana-mana kalo gak minum air mineral ya minum kopi"
"Kita kerumah sakit aja, gimana?"
"Ayo, tapi aku lemes. Kamu yang nyetir, ya?"
"Aman!"
Sherly menuntun Zapata menuju mobil. Pak Wayan tidak lagi menjadi sopir mereka karena fokus menjadi sopir kantor. Dan sampai detik ini, pasangan itu belum memiliki sopir pribadi karena Zapata sendiri masih mampu untuk nyetirin istrinya kemana-mana.
Mobil berjalan, pertama-tama keluar dari pagar dengan pelan. 15 menit kemudian sudah keluar komplek dan masuk ke jalan raya.
"Aku biasanya keluar komplek cuma butuh 5 menit lho" ucap Zapata secara tidak langsung menyindir cara Sherly nyetir yang lama banget itu.
__ADS_1
"Aku udah lama gak pegang setir, ini aja rasanya kaya takut-takut gitu"
"Eh jangan terlalu kepinggir, ke kanan dikit bisa masuk got nanti" cegah Zapata.
"Tapi dibelakang ada mobil, nanti dia nyalip malah nyerempet kita"
"Aduh" Zapata pukul jidatnya. Waktu yang seharusnya cuma butuh 30 menit untuk sampai kerumah sakit terdekat, malah jadi 1 jam 15 menit.
Zapata di periksa di ruang Unit Gawat Darurat. Berdasarkan hasil pemeriksaan Zapata dinyatakan baik-baik saja tidak memiliki masalah kesehatan apapun. Tapi anehnya, Zapata masih mual-mual dan bilang kalau mulutnya terasa pahit.
Setelah diperiksa oleh dokter koas, sesuai permintaan Zapata akhirnya ganti dokter. Ia minta diperiksa ulang dengan dokter yang senior dirumah sakit itu. Diperiksanyalah Zapata bahkan sampai mengambil sampel darahnya juga, tapi sampai keluar hasil pemeriksaan sampel darah tersebut, masih tidak diketahui penyebab Zapata mual-mual. Kali ini pria yang tidak sabaran itu sudah pucat pasi karena seluruh cairan di tubuhnya sudah ia muntahkan semua.
Zapata akhirnya di colok infus. Tapi tidak dianjurkan sampai menginap dirumah sakit karena memang Zapata tidak sakit apa-apa. Ia malah di bilangin akan bisa pulang setelah cairan infusnya habis.
Jangankan Zapata, Sherly dan dua dokter tadi juga ikutan bingung dengan penyebab Zapata mual-mual begini. Hingga akhirnya cairan infus Zapata habis, tapi Zapata masih enggan di ajak pulang.
"Daripada nginap di mobil mending nginap disini, Yank" ujarnya lemah.
"Halah, bilang aja to the point kalo aku nyetirnya kaya keong"
Zapata yang lemah, lesu, lunglai hanya mengacungkan jempolnya ke udara. Membuat Sherly mengguncang ranjang suaminya.
"Jahat banget" ucap Zapata dengan ketawa lemes.
Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya mereka pulang. Jam 12 malam sampai rumah.
"Yeaay, sampe rumah langsung sahur" ejek Zapata.
Sherly cuek saja di ledek oleh suaminya yang punya nyawa tinggal setengah itu. "Ayo turun, hati-hati. Nanti sebelum tidur makan dulu ya, terus minum obat biar ga mual-mual lagi"
Zapata mengangguk lemah.
Sampai dikamar, Sherly membaringkan suaminya dengan hati-hati. Lalu ia segera menyiapkan makanan agar setelahnya Zapata bisa minum obat.
◇◇◇
Keesokan harinya, setelah bangun tidur keadaan Zapata sangat membaik. Tidak mual-mual seperti sore kemarin. Ia bahkan bisa dengan lahap makan dan minum apapun. Tapi, saat hari mulai memasuki jam 3 sore, lagi-lagi keadaan Zapata memburuk. Anggapan kalau dirinya sudah sembuh total ternyata salah. Zapata lagi-lagi harus nunduk depan westafel untuk mengeluarkan seluruh makanan yang sempat masuk dari tadi pagi sampai tadi siang. Sudah habis makanan, kini malah cairan bening ikut keluar.
__ADS_1
Sherly memijat bagian punggung sampai tengkuk Zapata berulang-ulang agar seluruh muntahannya keluar. Zapata sampai kumur berkali-kali karena rasa pahit yang persis seperti kemarin ada lagi.
"Yank, apa jangan-jangan kamu dikerjain orang kali" pikir Sherly mulai mistis.
"Ah, gak mungkinlah Yank. Zaman serba canggih gini masih ada yang main begituan"
"Bisa jadi, Yank. Makanya sering-sering dengerin cerita horor" timpal Sherly.
"Nah itu gara-gara kamu sering dengar yang kaya gitu jadi sering ketakutan sendiri 'kan jadinya"
"Yee, namanya orang gak punya kesibukan. Mau buka sosmed, kamu larang"
"Lagian, kamu tiap abis buka sosmed selalu negative thinking sama aku. Cuma perihal hp ketinggalan diruang tamu aja kamu udah nuduh aku selingkuh"
"Hehe, itu namanya cinta. Kan aku cinta sama kamu" ucap Sherly beralasan.
"Cinta sih cinta, tapi gak main tuduh sembarang gitulah. Aku yang gak tau apa-apa tiba-tiba disemprot"
"Jadi gimana? Masih mual?" tanya Sherly kembali ke topik semula.
"Udah nggak, tapi mulut aku rasanya pahit banget"
"Apa kita kerumah sakit lagi? Kan kemaren mulut kamu gak di periksa"
"Oh iya, kenapa kemaren gak mereka periksa mulut aku?"
Akhirnya pasangan itu kembali kerumah sakit yang sama. Mereka sampai lebih cepat karena Zapata yang mengemudi.
"Loh, ada apa lagi Pak?" tanya perawat yang sama dengan yang nyambut Zapata kemarin.
"Mulut saya pahit, kemaren belum sempat diperiksa. Cuma sampel darah sama mual-mualnya aja yang diobatin" kata Zapata.
"Ya sudah, duduk saja dulu pak di situ. Nanti ada dokter yang bakal periksa" ujarnya.
Zapata dan Sherly duduk di kursi tunggu yang tersedia. Ada banyak pasien yang mau cek kesehatan. Mereka juga sama, sedang menunggu dokternya datang.
Sampai akhirnya tiba giliran Zapata menghadap dokter yang berjaga di situ. Dokter koas yang beda dengan kemarin.
__ADS_1
Zapata diminta buka mulut lebar-lebar, lalu mulutnya di senterin dengan alat yang cukup kecil sehingga mampu menyinari sampai ke seluruh rongga mulut Zapata. Setelah memeriksa, dokter itu menggeleng.
"Saya tidak menemukan gejala penyakit apapun, Pak. Barangkali ada keluhan yang lain selain rasa pahit?" tanyanya.