Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Easy Come, Easy Go


__ADS_3

Dihari yang sama, Sherly berangkat ngampus sendirian. Ia menghubungi Puput sejak semalam namun masih tak kunjung dibalas. Bahkan sampai di kampus pun ia tak menemukan Sherly.


Seharian itu, Sherly terus saja berpapasan dengan Tian. Tidak hanya berpapasan, tapi juga sempat duduk berdekatan saat perkuliahan.


Sadar atau tidak sadar, Sherly jadi terus mengamati Tian diam-diam. Mungkin saja lelaki itu juga merasa ada yang memperhatikannya, tapi berlagak acuh tak mau tahu.


Tian seringkali ngecek ponselnya, lalu raut wajah tampan itu dari yang biasa saja tiba-tiba berubah kesal. Sherly tidak tahu apa masalahnya, tapi selalu saja Sherly mengaitkan hal itu dengan Distro milik Tian.


Sepulang kuliah, Sherly mampir kerumah Puput. Mau menanyakan mengapa Puput tidak kuliah hari ini. Tapi Feza yang menyambutnya langsung mengatakan, kalau Puput sedang di culik Zapata entah kemana.


Sherly cuma melongo, enak sekali jadi Puput bisa pergi berduaan sama Bang Ta. Mentang-mentang sudah direstui dan bentar lagi mau nikah, pikirnya.


Setelah mampir sebentar dirumah Puput, Sherly pun pamit pulang pada Kak Feza. Ia memilih kerumah Umar karena sudah lama tidak kesana.


Sampai di depan rumah Umar, ia bertemu Jovan. Lelaki yang merupakan tetangga Umar sekaligus teman SMAnya dulu. Lulus SMA mereka berpisah, Sherly masuk Universitas yang sama dengan Puput, sedangkan Jovan ia memilih untuk masuk sekolah penerbangan.


Dulu, Jovan pernah tergila-gila pada Sherly. Tapi hanya sebatas cinta monyet. Sebab kini, ia sudah bahagia dan pamer kemesraan terus di media sosialnya dengan seorang calon pramugari.


Sherly berbincang sebentar dengan Jovan, basa-basi biasa. Lalu kemudian muncul Bang Nanda dari dalam rumah.


Sherly pun pamit masuk kerumah Bang Nanda pada Jovan. Lalu Jovan pun lanjut pulang kerumahnya.


"Tumben kesini siang-siang" ucap Nanda.


"Kangen Umar. Umarnya mana?"


"Masih tidur siang"


Sherly langsung masuk melewati Nanda.


"Heh, jangan di bangunin, kasian kak Dinda belum sempet istirahat"


Sherly masuk ke kamar Umar, ia menciumi pelan pipi gembul keponakannya. Umar menggeliat.


"Kalo nangis, kamu tanggung jawab" ancam Nanda.

__ADS_1


"Huu, gitu doang ngancem"


Sherly pun keluar dari kamar Umar. Ia menuju dapur. Biasanya, selalu ada saja makanan ringan atau bolu-boluan yang dimasak Dinda setiap hari.


Sampai didapur, ia melihat Dinda tengah masak ayam goreng krispi.


"Lho Sher, kapan datang?" tanya Dinda terkejut tiba-tiba dibelakangnya sudah ada Sherly.


"Baru 5 menit kak" jawab Sherly.


"Eh Sher, gimana kelanjutan cerita kamu kemaren?" tanya Dinda perihal curhatan Sherly yang bersambung dulu.


Sherly mendesah pelan, "Emang waktu itu aku cerita sampe mana, kak?"


"Kakak juga udah ga ingat Sher. Kalo mau cerita dari awal juga boleh" ucap Dinda seraya tersenyum.


"Yah, cape banget kak mau cerita dari awal. Tapi intinya ...


Akhirnya Sherly menceritakan kejadian di kampus tadi pada Dinda.


"Masa sih, kak? Kok cepet banget"


"Jangan polos-polos Sher, kita perempuan ini kadang suka terlalu positif thinking sama orang yang kita cinta. Tapi malah yang ada ga sesuai yang kita duga"


"Tapi kak, dia ga pernah posting apa-apa. Aku sering lho pantau sosmed dia, tapi ga ada apa-apa. Tiap posting, sendiri mulu"


"Emmm, bisa jadilah Sher dia memang mau sendiri dulu" ujar Dinda akhirnya.


"Wuih ada gosip apa nih?" sambung Nanda saat baru sampai ke dapur. Karena memang biasanya dua perempuan itu kalau sudah bertemu ada saja berita-berita terbaru yang kadang malah Nanda kalah cepat dari mereka untuk tahu apa yang sedang terjadi dengan dunia ini.


"Mana ada ngegosip" sambut Sherly cepat.


"Kata kak Dinda, kamu udah putus sama yang kemaren"


Sherly tercekat, ia tidak biasa berbicara tentang hal pribadi pada abangnya. Kini malah gugup mau jawab apa.

__ADS_1


"Abang seneng kalo kamu putus. Kamu ga usah pacar-pacaran dulu, abang udah bilang itu sejak kamu SMP, kan?"


Sherly mengangguk.


"Kamu fokus kuliah aja, Sher. Buat mama papa bahagia. Biarin aja temen-temen kamu punya pacar, kamu ga usah ikut-ikutan"


"Iya" jawab Sherly singkat.


Setelah diceramahi Nanda, Sherly langsung pamit pulang tapi sebelum itu ia sudah dibekali makanan oleh Dinda untuk dibawa pulang.


Sesampainya dirumah, Sherly hanya meletakkan lauk pemberian Dinda di atas meja makan lalu ia menuju kamarnya. Sampai di kamar, Sherly ngecek kolom chat Tian.


"Tumben ga online. Emm, apa iya Tian udah punya pacar?"


Setiap beberapa menit sekali Sherly memeriksa kolom chat Tian, tidak pernah bertuliskan online. Membuat Sherly makin yakin kalau Tian memang belum punya pacar lagi. Sherly merasa lega. Lega karena Tian masih sendiri. Sherly sangat yakin akan hal itu.


●●●


Ditempat berbeda, sejak pulang ngampus tadi Tian memang sengaja membiarkan ponselnya. Bahkan sampai ponsel itu mati sendiri masih tidak juga ia isi dayanya.


Ia ingin tahu, apakah Puput akan mencarinya. Sebab Tian sudah bosan menghubungi Puput yang tak kunjung ada kabar sampai hari ini. Puput yang biasanya rajin ngampus, tiba-tiba saja hari ini tidak masuk. Tidak ada surat keterangan dokter yang menyatakan kalau Puput sedang sakit. Lalu kemana menghilangnya Puput?


●●●●


Sore harinya, tepat pukul 5 Puput sampai dirumah bersama Zapata. Lalu Zapata sempat mengobrol sebentar bersama Mama Puput. Ia berterima kasih karena sudah diizinkan membawa Puput pergi bersamanya.


Setelah itu barulah Zapata pulang dengan diantar Puput sampai ke depan rumah. Saat Zapata sudah benar-benar pergi, barulah Puput segera memeriksa ponselnya dan menemukan banyak notifikasi dari Tian dan Sherly.


Puput segera menghubungi Tian, namun panggilan itu tak kunjung tersambung. Malah Puput hanya mendengar operator yang berbicara. Puput menggigit bibir karena di chat pun hanya centang satu.


Malam harinya, Puput mendatangi rumah Tian. Ia disambut oleh abangnya Tian. Puput di suruh menunggu diruang tamu. Lalu tak berapa lama, Tian datang menemuinya. Wajah Tian nampak malas menemui Puput malam itu.


Puput merengek minta maaf pada Tian dengan alasan ponselnya rusak tak mau dibuka. Dan ia tak masuk kuliah tadi pagi karena menemani adiknya konsultasi. Sampai Tian akhirnya jadi percaya dan setelah itu mereka pergi makan malam diluar. Mereka kembali akur.


Tian malam itu membelikan Puput bunga. Puput terkesima mendapati perlakuan manis dari Tian. Ia mencium pipi Tian sebagai tanda terima kasihnya. Tian juga balik mencium Puput karena sudah salah menduga yang tidak-tidak. Selain bunga, Tian juga membelikannya kalung. Kalung dengan liontin berbentuk oval itu adalah pilihan Tian sendiri. Dan Puput sangat suka dengan semua pemberian Tian malam itu.

__ADS_1


__ADS_2