
Sherly dirawat hanya satu malam, karena setelahnya ia hanya cukup rawat jalan saja untuk pemeriksaan jahitan operasinya. Setelah pulang kerumah, ternyata ada kejutan yang telah disiapkan oleh kakak ipar dan abangnya. Rumah Zapata itu dihias sedemikian rupa untuk menyambut Sherly yang baru pulang dari rumah sakit. Hal itu juga awalnya adalah ide Dinda, yang tak sempat menjenguk ke rumah sakit lantaran baby Umar sedang demam dan rewel terus-menerus.
Keadaan rumah Zapata saat itu sungguh ramai, Sherly cukup terhibur meskipun kalau tertawa rasanya ngeri-ngeri sedap apalagi kalau hendak batuk atau bersin, siap-siap perutnya akan terasa nyeri.
Tapi keramaian itu tidaklah lama, karena semua harus kembali ke rumah masing-masing. Setelah itu, rumah mereka berdua hening lagi seperti sebelum-sebelumnya.
"Yank, ayo ke kamar aku bantu"
Sherly di tuntun oleh suaminya menuju kamar baru mereka. Iya, mereka tidak lagi menghuni kamar lantai dua karena bisa mempersulit pergerakan Sherly, itu sebabnya Zapata meminta semua barang-barang mereka untuk dipindahkan ke kamar bawah.
"Yank, antibiotik aku semuanya gak kelupaan 'kan?" tanya Sherly.
"Aman sayang, dari A sampe Z gak ada yang kelupaan"
Tok tok tok
"Masuk" titah Zapata.
"Mas Ta, ini barusan diantar Mas Nanda katanya pakaian Mbak Sherly sempat ketinggalan dimobilnya"
"Oh iya" Zapata buru-buru mengambilnya.
"Dari A sampe Z gak ada yang kelupaan. Kok bisaaaa tiba-tiba di mobil Bang Nanda" omel Sherly.
"Ya itu makanya aku bilang gak kelupaan dirumah sakit, kan udah di bawa Nanda"
"Ck" decak Sherly atas sikap tak mau mengakui kesalahan suaminya itu.
Sore harinya Zapata pun membantu sang istri mandi. Betapa repotnya mandi dalam keadaan dimana bekas operasi itu tidak boleh terkena air. Tapi Zapata sangat tekun membantu sang istri yang kewalahan untuk ngapa-ngapain. Perihal kuliah Sherly, berdasarkan kesepakatan Zapata, Papa Zapata, dan juga Sherly, sudah diurus cutinya. Sehingga tugas Sherly kini hanya fokus pada pemulihannya.
__ADS_1
Dan malah, setelah Sherly sembuh nanti mereka akan pindah ke Bali dan memulai produksi bayi mereka lagi. Mungkin saja jika mereka mencoba suasana baru akan mempermudah mereka mendapatkan keturunan.
◇◇◇
Kini, sudah 40 hari berlalu sejak Sherly operasi. Zapata juga sudah mulai menagih janji untuk meminta haknya sebagai seorang suami. Ia sampai rela "berpuasa" lantaran mau menunggu bekas operasi istrinya itu sembuh. Karena ia sendiri punya ketakutan kalau melihat perut istrinya. Apalagi kalau perut itu sampai terguncang-guncang oleh ulah Zapata, ia sedikit khawatir.
Sesuai janji Zapata sebelumnya, Sherly pulih maka mereka akan segera pindah. Kini sudah tiba saatnya untuk mereka mengepakkan pakaian.
"Yank, kalo aku rindu mama papa gimana?" tanya Sherly.
"Ya kita bisa balik ke Jakarta. Apa susahnya" jawab Zapata polos seolah jarak Jakarta dan Bali hanya 5 menit.
"Kalo pengen ketemu tiap minggu sama mama papa?"
"Ya tinggal berangkat aja, aku kan gak ngelarang-larang"
Sherly memajukan bibirnya karena nampaknya pikiran dirinya dan sang suami jelas jauh berbeda mungkin efek usia juga. Keduanya berangkat dengan diantar oleh mama papa Sherly. Mereka berpamitan sebentar lalu segera masuk ke pesawat.
"Pak Zapata!" panggil seseorang saat Zapata dan Sherly sampai di pintu keluar bandara.
"Pak Wayan!" Zapata berjabat tangan dengan pria itu. "Ini istri saya, namanya Sherly"
"Sherly" ujar Sherly seraya berjabat tangan dengan Pak Wayan.
"Iya. Mari Pak saya antar"
Pak Wayan merupakan salah satu sopir di cabang perusahaan Zapata. Namun selama Zapata dan Sherly belum punya sopir pribadi di Bali, mereka akan menggunakan jasa Pak Wayan sebagai tukang antar jemput mereka.
Sampai dirumah, Sherly begitu bahagia saat baru melihat tampilan rumahnya yang sesuai dengan keinginannya. Rumah itu memiliki pagar warna hitam setinggi dua meter. Lalu halamannya luas dan di teras rumah terdapat hiasan dinding dari besi membentuk salah satu karakter animasi kesukaan sang suami. Dan saat pintu utama terbuka, memperlihatkan ruang tamu dan ruang keluarga yang bersebelahan dengan kolam renang yang di pinggirannya berdinding kaca. Dengan pemilihan plafon yang tepat, terpaan sinar matahari bisa tembus ke dalam rumah, sehingga rumah dengan nuansa hitam putih itu terlihat terang di siang hari.
__ADS_1
Setelah melihat-lihat rumah barunya, Zapata mengajak Sherly kekamar untuk beristirahat. Akibat disambut rumah baru, Sherly jadi tidak merasakan letih. Sedangkan Zapata sudah pegal-pegal ditambah lagi mesti bantu ngangkutin barang dari mobil ke kamar.
"Jadi betah dirumah kalo kaya gini" ujar Sherly senang karena setiap sudut rumahnya tampak instagramable sekali. Mau foto disudut manapun tetap akan kelihatan bagus.
"Jangan lupa, saweran buat aku tiap malam" ucap Zapata mengungkit dan menagih perihal haknya yang sudah lama tak tersalurkan.
"Aman beibeh" ujar Sherly seraya duduk di pangkuan sang suami yang akhirnya memicu si Joni meronta-ronta ingin masuk ke sarangnya.
◇◇◇
Waktu begitu cepat berlalu, Sherly mulai memasuki fase jengah karena sekalipun dirinya sudah memeriksakan diri ke dokter dan sampai di operasi, sampai mencoba suasana baru di Bali, ia tetap tak kunjung hamil. Mulai dari stres kemudian bangkit lagi, stres lagi dan mencoba susah payah untuk bangkit lagi, sampai akhirnya ada perasaan iri yang tak terbendung lagi kalau melihat postingan orang tentang anak.
Seolah mereka yang telah memiliki keturunan kehidupan rumah tangganya sudah mencapai taraf paling bahagia. Dan selalu, Sherly membanding-bandingkan hal itu ke dirinya. Walau hidup di Bali tak ada tetangga usil yang selalu menyinggung perihal momongan, tapi karena terlalu sering dirinya keluar masuk sosial media membuatnya stres juga.
Sampai akhirnya Sherly sempat cekcok parah lataran Zapata kesal karena sang istri selalu membanding-bandingkan kehidupan mereka dengan pasangan lain. Hingga tudingan Sherly yang tanpa disengaja menyebut Zapata tak subur.
Tudingan Sherly itu, karena terlontar saat kondisi Zapata tengah letih pulang kerja, jadi bumerang untuk keduanya. Zapata sampai melempar barang dan bersumpah kalau ia tak punya masalah, sumpahan Zapata yang terdengar keras ditelinga membuat Sherly tak lagi berkesempatan untuk meminta maaf karena mulutnya yang sembarang ucap.
Lalu akhir dari pertengkaran itu, Sherly dan Zapata pisah kamar. Mereka tidur masing-masing. Menunggu salah satu atau keduanya menurunkan ego masing-masing.
Sampai tiga hari berlalu, keadaan masih sama. Zapata selalu pergi kerja sebelum Sherly terbangun dari tidurnya. Dan pulang saat sudah larut malam. Sherly tahu, bahwa Zapata menghindari dirinya.
Hingga disuatu hari...
Tok tok tok
Sherly membuka pintu.
Keduanya berhadapan, ada kecanggungan pada tatapan keduanya. "Ayo kerumah sakit sekarang juga! Temani aku periksa" ucap Zapata dingin.
__ADS_1
"Bang Ta, waktu itu aku gak sengaja. Aku gak bermaksud nuduh kamu kaya gitu. Aku salah ngomong. Maafin aku, karena kesalahan aku kita jadi menjauh" Nyatanya, lontaran kalimat itu hanya mampu diucapkan dalam hati.
Sherly mengangguk. "Aku siap-siap dulu" Sherly ke dalam kamar tanpa menutupnya, karena ia ingin membiarkan saja. Jikalau Zapata ingin masuk, ia tidak akan marah. Malah senang karena itu akan jadi suatu pertanda hubungan mereka akan mencair.