Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Ribut


__ADS_3

"Kamu udah liat nama gedungnya?" tanya Zapata.


"Emang ada namanya, ya? Aku gak liat. Disebelah mana?" Sherly berjalan menuju dinding kaca yang langsung menghadap pada kantornya Puput.


"Itu punya Puput" kata Zapata dengan berat hati.


Sherly tertegun, dadanya terasa panas. Ia masih berdiri membelakangi Zapata yang tetap setia memeriksa pekerjaannya.


"Punya Puput?" tanya Sherly kini menatap ke arah Zapata.


"Iya, itu pemberian aku waktu dulu pas masih sama-sama" jawab Zapata.


"Oh. Emm, ya udah aku pulang dulu ya!?" Sherly mendekat lalu mengambil tas dan ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja Zapata.


"Kenapa buru-buru?" Zapata menahan tangan Sherly.


"Gapapa, takut mama nyariin" alasannya.


Sherly menepis tangan Zapata lalu bergegas keluar ruangan. Zapata sadar dengan gelagat yang tak biasa ini, ia pun langsung mengejar Sherly.


Sampai di depan lift ternyata Sherly berpapasan dengan Eko. Sontak Sherly melempar senyuman sekilas pada Eko lalu ia masuk ke dalam lift. Zapata yang melihat Sherly senyum pada Eko merasa cemburu. Ia melewati Eko dengan wajah dingin dan sapaan Eko pun tak dihiraukannya. Lift yang hampir tertutup jadi kembali terbuka. Zapata masuk dan berdiri di samping Sherly. Keduanya sama-sama berwajah tegang. Hingga saat pintu lift tertutup sempurna barulah Zapata membuka suara.


"Kenapa kamu senyum-senyum sama Eko?"


"Karena aku kenal sama dia" jawab Sherly tanpa memandang lawan bicaranya.


Zapata yang tidak terima dengan sikap Sherly yang tiba-tiba acuh padanya jadi semakin kesal. Rasa marah sudah mulai menguasai hati dan pikirannya.


"Sher, jangan genit jadi cewek! Aku gak suka cewek yang kegenitan apalagi sama cowo lain"


Ucapan Zapata bak seribu duri yang menusuk tepat di hatinya. Sherly hanya diam saja. Rasa sakit saat tahu kalau Zapata takkan mungkin bisa jauh dari Puput tak ada apa-apanya di banding lontaran kalimat pedas dari orang yang di sayanginya.


"Kenapa diam?" tanya Zapata tanpa peduli sakit hati yang kini Sherly rasakan.


Zapata memegang pundak Sherly, mereka saling berhadapan. Zapata juga mencengkeram pundak itu dengan sangat kasar.


"Kenapa diam?" tanyanya lagi.


Mata Sherly mulai terasa panas. Ia coba tahan agar tak menitikkan air mata. Sherly menarik nafas dalam, mengumpulkan energi untuk menghadapi Zapata.

__ADS_1


""Kamu tanya kenapa aku diam? KARENA AKU TERSINGGUNG SAMA UCAPAN KAMU. AKU TERSINGGUNG KARENA KAMU BILANG AKU GENIT. MEMANGNYA APA BUKTI KALO AKU GENIT? PERKARA SENYUM SAMA MAS EKO, DOANG??? AKU YANG CUMA SENYUM BEGITU AJA KAMU BILANG GENIT, TERUS MANTAN KAMU YANG REBUT PACAR AKU ITU GAK GENIT? MASIH CINTA KAN KAMU SAMA DIA? SI PALING BAIK DAN GAK GENIT ITU!!!" cecar Sherly dengan sepenuh jiwa raga. Zapata saja sampai tercengang melihat kemarahan Sherly tersebut.


Ting


Zapata baru saja mau mencoba meluruskan, tapi pintu lift sudah keburu terbuka. Sherly langsung ambil langkah cepat untuk menghindari Zapata. Ia enggan mendengar penjelasan dari Zapata. Di kepalanya hanya ingin cepat pulang.


"Sher, Sherly" Zapata mengimbangi langkah cepat Sherly tanpa peduli tatapan karyawannya yang setia mengikuti kemana ia pergi.


Diluar kantor, Zapata akhirnya berhasil menahan Sherly. "Sher, kamu jangan bicara sembarangan! Aku ga mungkin masih cinta sama perempuan yang jelas-jelas berkhianat di depan mata kepala aku sendiri. Kamu jangan berpikir yang nggak-nggak sama aku. Please Sher, percaya sama aku"


"Terus gedung pemberian kamu itu ga di balikin sama Puput? Tetep di terima dengan lapang dada sama dia?"


"Puput pernah mau balikin gedung itu ke aku, tapi gak mungkinlah aku terima lagi. Pantang bagi aku nerima barang yang udah aku kasih. Kamu paham 'kan maksud aku?"


Zapata memang lelaki yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Haram baginya jika menerima kembali barang yang pernah ia beri.


"Dan itu artinya kalian selalu bisa ketemu setiap hari?"


"Bisa Sher, bisa. Tapi aku gak mau! Gak akan pernah mau"


"Terserahlah, aku tetap mau pulang"


Zapata dengan cepat menahan Sherly.


"Kamu duduk disini, aku ambil Ipad bentar" Zapata mendudukkan Sherly di sofa tamu yang berada di dalam ruang kerjanya. Dan tak lama kemudian Zapata datang dengan membawa Ipad dan beberapa berkas lalu duduk tepat di samping Sherly. Zapata menempatkan kepala Sherly di pundaknya dan melingkarkan tangan Sherly di lengannya, lalu ia bekerja seolah di antara mereka tak terjadi apa-apa.


"Selain gedung, kamu pernah kasih apa aja sama Puput?" tanya Sherly sambil mendongakkan kepala menatap wajah pria tampan yang fokus menatap Ipad-nya.


"Jangan bertanya kalau kamu gak mau sakit hati" ujar Zapata.


"Udah terlanjur" balas Sherly dengan mencoba melepas rangkulan tangannya.


Zapata menahannya. "Jangan di lepas. Iya, aku akan jawab".


Barulah Sherly nurut.


"Pernah kasih dia tas, sepatu, bunga. Udah, kayanya itu aja" jelas Zapata dengan mengingat-ingat.


"Gimana cara ngasih bunganya?" tanya Sherly lagi.

__ADS_1


"Waktu itu malem-malem, sebenernya ga ada niat mau ketemuan malam itu. Tapi karena aku pulang dari kantor dan ngelewatin toko bunga yang kebetulan belum tutup yang akhirnya jadi kepikiran buat beliin dia bunga" jelas Zapata.


"Yang aku tanya cara ngasihnya" kesal Sherly.


"Iya iya, kamu jangan marah sama aku. Kan yang minta di jelasin tadi kamu. Jadi, aku nungguin dia di depan tempat senamnya. Aku tungguin sampe dia keluar terus pas dia keluar langsung aku kasih. Udah, gitu aja"


"Terus dia seneng?"


"Iya, dia seneng" jawab Zapata takut-takut.


"Kamunya seneng juga?"


"Iya. Emmh maksudnya waktu itu ya, waktu itu seneng"


Sherly diam. Zapata sudah tidak bisa konsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Mau berkutik sedikit saja ia takut. Bahkan sekedar untuk naruh Ipad ke meja saja ia gemetar. Sherly nampak tidak baik-baik saja. Tapi Zapata kepalang takut untuk bertanya. Setidaknya yang terpenting saat ini Sherly ada di depan matanya.


"Kenapa diem? Kerjaan kamu emang udah selesai?" tanya Sherly.


"Belum, tapi nanti bisa kok minta tolong Eko buat selesain"


"Kenapa gitu? Kamu udah gak konsen?"


Zapata mengangguk.


"Gak konsen kenapa? Kepikiran Puput?"


Yah, lemas sudah kaki Zapata rasanya. Sherly masih terus saja menyangkut-pautkan dia dengan mantannya.


"Bukan, bukan gara-gara dia tapi kamu"


Dengan kasar Sherly menepis tangan Zapata yang sebelumnya ia rangkul.


"AKU? AKU SALAH APALAGI DIMATA KAMU? SENYUM DIKIT AJA SALAH, TERUS SEKARANG APALAGI?" Sherly seakan berapi-api karena di anggap sebagai perusak konsentrasi Zapata.


Zapata sigap meraih kedua tangan Sherly dan di genggamnya lembut.


"Kamu tenang dulu, jangan marah-marah. Aku ga nyalahin kamu, aku 'kan cuma jawab jujur. Aku ga bisa konsentrasi lagi gara-gara aku tahu kamu sedang marah sama aku. Kalo kamu sedang marah aku ga bisa kerja dengan tenang. Kamu mikirnya jangan kejauhan. Mantan... Ga punya tempat lagi di kepala dan di hati aku. Kamu pegang tuh kata-kata aku"


Sherly mulai melunak, ia membalas genggaman erat di jemari Zapata. Ia juga mulai mengulas senyum manisnya pada Zapata. Hati Zapata mulai tenang, pikirannya pun tak sekacau tadi.

__ADS_1


"Aku kerja lagi ya!?" ucap Zapata.


Sherly menghembuskan nafas pasrah. Disusul dengan mulut yang berbunyi "Hufttt".


__ADS_2