
Sherly tercengang, belum terbayang bagaimana nantinya saat ia menikah muda dan tak bisa apa-apa karena selama hidupnya selalu di siapkan, disediakan, dan di fasilitasi oleh kedua orangtuanya dan juga abangnya. Belum lagi jika nanti saat dirinya resmi menjadi istri Zapata, lalu ada pihak dari keluarga Zapata yang tidak suka padanya lantaran masih terlalu belia. Pasti akan ada yang berpikir kalau dirinya hanya menginginkan materi Zapata saja. Sherly terlalu jauh terperosok dalam pikirannya sedangkan Zapata, Nanda, dan Dinda sedang menunggu jawaban darinya.
"Sher, abang ga akan maksa kamu. Semua keputusan di tangan kamu. Sekalipun kamu terima, abang juga gak akan menentang. Karena kamu yang lebih tau, yang terbaik buat kamu" kata Nanda.
Mendengar ucapan Nanda, Sherly jadi semakin bimbang. Antara Nanda benar-benar setuju dirinya bersama Zapata atau Nanda justru ingin Sherly untuk pikir-pikir lagi.
"Sher, jawab!?" cecar Zapata tak sabaran.
"Ayo pulang, kita obrolin lagi di jalan" ajak Sherly.
Mereka pun pulang. Sepanjang jalan Zapata masih tidak tahu alasan mengapa Sherly tidak menegaskan di hadapan Nanda kalau ia bersedia menjadi istri Zapata.
"Sher, kenapa kamu ga jawab di depan Nanda tadi? Kamu sebenarnya cinta atau nggak sama aku?"
"Aku bingung. Aku cinta sama kamu tapi aku juga gak yakin kita bisa hidup rukun. Sedangkan umur aku terlalu muda buat kamu. Apa kamu yakin aku bisa jadi istri yang baik? Apa kamu yakin di pernikahan kita nanti kita bisa saling mengisi? Jarak umur kita aja jauh, aku merasa aku masih belum dewasa. Kamu ngerti 'kan maksud aku?"
"Iya, aku mengerti. Mengerti kalo kamu cuma mau mempermainkan aku"
"Mempermainkan gimana maksud kamu? Aku udah bilang aku cinta sama kamu. Terus dimana letak aku mempermainkan kamu?"
"Sher, cinta itu butuh bukti. Butuh pengorbanan. Kalo kamu masih terlalu banyak kekhawatiran, itu artinya cinta kamu tidak lebih besar dari yang pernah Puput berikan ke aku"
"PUPUT LAGI??? TERUS AJA KAMU BANDINGIN AKU SAMA DIA. TERUS AJA KAMU PUJI-PUJI DIA. AKU PAHAM, AKU CUMA PERAN PENGGANTI YANG KAMU JADIKAN SEBAGAI BAYANG-BAYANGNYA PUPUT. DI HATI KAMU SEBENARNYA MASIH BERTAHTA NAMA PUPUT, IYA 'KAN? JANGAN KAMU KIRA AKU GA TAU!"
Zapata menghentikan mobil di pinggir trotoar.
"CUKUP!!!" Bentak Zapata sembari memukul setir. "Kamu ngerasa kamu paling tau tentang isi hati aku. Tapi kenyataannya kamu salah. Kamu ga tau apa-apa tentang aku. Kamu jauh lebih baik daripada Puput, asal kamu tau itu. Tapi kalian memang punya kesamaan. Sama-sama tidak bisa memberikan kejelasan buat aku" Zapata menghembuskan nafas beratnya.
"Aku mau tanya untuk yang terakhir kalinya. Kamu, bersedia menikah sama aku atau tidak? Kalau bersedia, aku kasih tau dari sekarang sama kamu. Aku ga mau nunggu lama-lama, setelah lebaran langsung nikah. Urusan mahar kamu mau minta berapapun akan aku turuti akan aku penuhi. Silahkan dijawab!" titah Zapata.
Sherly semakin tidak karuan. Hati dan pikirannya berkecamuk. Ada makna tersirat dari ucapan Zapara barusan. Bahwa sepertinya ia akan benar-benar kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Zapata jikalau saat ini ia menolak.
Sherly melempar pandangannya lurus kedepan. "Apa aku masih punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kalau semisalnya aku bersedia jadi istri kamu?"
__ADS_1
"Dasar polos, jadi kamu berpikir kalo aku bakal larang kamu kuliah, begitu?" Zapata mencubit pipi Sherly dengan gemas.
"Iya" jawab gadis polos milik Zapata itu.
"Dengar ya, kamu tetap boleh kuliah seperti biasa. Aku ga akan larang-larang"
"Makasih" Sherly lalu menghambur ke pelukan Zapata. Zapata pun dengan senang hati bisa memeluk Sherly untuk yang ke dua kalinya.
Sembari memeluk dan mengusap puncak kepala Sherly ia kemudian berkata, "Jangan tiba-tiba makasih. Jawab dulu dengan lantang, kamu bersedia jadi istri aku?"
Sherly mengurai pelukannya.
"Iya, aku mau. Tapi kamu jangan marah-marah saat tau kalo aku ga bisa apa-apa"
"Ck" Zapata menarik Sherly kembali dalam dekapannya. "Semua bisa di pelajari. Memangnya apa yang kamu maksud gak bisa itu?"
"Ga bisa masak, ga bisa bangun pagi kalo ga di bangunin alarm, ga bisa nyetrika rapi, ga bisa ngupas nanas, ga bisa ngupas duren, ga bisa benerin tali jemuran". Seusai menyebutkan segala kelemahannya, Sherly mendongak menatap Zapata. Ingin tahu bagaimana jawaban Zapata.
"Duh, banyak juga ya" keluh Zapata iseng.
Di saat itulah Zapata berkata, "Tapi boong" sembari tertawa. Sherly melihat Zapata masih dengan tatapan sedihnya. Zapata pun kembali mencubit gemas pipi Sherly.
"Ayo nikah! Aku ga butuh tukang servis tali jemuran. Yang aku butuhin sosok polos yang bisa aku tipu-tipu dan kemudian aku bahagiakan. Apa kamu bersedia?"
"Saya bersedia!" jawab Sherly lantang.
Zapata langsung melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya sekaligus ingin mengabarkan kalau dirinya siap nikah setelah lebaran ini.
"Kamu aja yang masuk, aku malu" ucap Sherly yang sudah ditarik-tarik oleh Zapata.
"Kamu kan udah pernah ketemu, ngapain malu"
"Waktu itu kan beda" kilah Sherly.
__ADS_1
"Itu calon mertua kamu, harus kamu anggap kaya mama papa kamu sendiri"
"Iya iya" akhirnya Sherly mengekor di belakang Zapata.
"Assalamu'alaikum" teriak Zapata di depan pintu lalu kemudian masuk karena pintu tidak terkunci sebab mamanya tahu kalau anak tunggalnya akan datang untuk mengantarkan kue.
"Wa'alaikumsalam" ujar mama Zapata seraya mengikat rambut sembari berjalan keluar dari kamarnya.
"Nih ma" Zapata mengulurkan kue kepada mamanya. Namun yang menarik perhatian sang mama justru tangan Zapata yang satunya.
"Kayanya mama ketinggalan banyak info nih" sindir mamanya karena tangan kiri Zapata setia menggaet tangan Sherly.
"Nih ma, calon menantu. Bilangin sama papa, kita lebaran pakek seragam yang tahun kemaren, ya. Biar seragaman yang buat tahun ini di pake pas aku lamaran"
"Lepasin dulu tangannya, dia mau salim sama mama"
Sherly pun mencium tangan calon mama mertuanya. Ia juga di ajak ke dapur oleh mama Zapata biar bisa bicara lebih nyantai.
"Selamat datang di rumah mama, ya. Sering-sering nanti main kesini ajak Zapata. Mama sama papa kesepian"
"Iya tante" jawab Sherly gugup.
"Kamu adiknya Dinda?" tanya mama Zapata.
"Lebih tepatnya adik ipar Kak Dinda, tante. Aku cuma berdua sama Bang Nanda, terus waktu kak Dinda nikah sama abang, orang tua kak Dinda minta aku jadi anak mereka, gantiin posisi Kak Dinda dan tinggal sama mereka" jelas Sherly apa adanya sambil membantu mama Zapata mengeluarkan kue dari kotaknya.
"Ooh gitu. Berarti baik banget ya orangtua kamu" puji mama Zapata.
"Iya, tante. Mereka ga pernah beda-bedain aku sama kak Dinda"
"Kasih tau mama papa kamu, ya. Lebaran hari kedua, tante sama oom mau main kesana. Mau silaturahmi aja. Kalo untuk lamaran, biar kalian berdua aja yang atur maunya kapan"
"Iya, tante"
__ADS_1
Selepas dari rumah orangtua Zapata, mereka pun lanjut ke rumah Sherly. Namun, tidak ada apa-apa yang Zapata sampaikan pada orangtua Sherly. Hanya sekedar cerita tentang pekerjaan saja. Sebab Zapata memang tidak tahu akan rencana kunjungan silaturahmi orangtuanya ke rumah Sherly.