
Kulihat jemari tangan istriku yang kini ditutupi steples luka. Ada dua jari yang ditutupi kain kecil penutup luka itu. Aku tidak tahu apa yang dialami istriku hari ini, karena aku terlalu sibuk dengan urusanku ketimbang memperhatikan istriku.
Aku turun kebawah, bertemu dengan si Ijah yang baru saja selesai cuci piring. "Jah, Sherly hari ini kemana aja?" tanyaku.
"Wah, saya juga kurang tahu mas. Yang saya tahu cuma sepulang kampus Mbak Sherly sempetin masak terus bilang mau ke kantor Mas Ta"
"Dia beneran masak sendiri?" tanyaku.
"Idih, Mas Ta masa gak percaya sama istri sendiri. Nih ya Mas, saya kasih tau. Mbak Sherly bilang kemaren kalian berantem, terus Mbak Sherly pengen kasih kejutan katanya. Sampe luka-luka malah jarinya. Belum lagi lengannya kena panci panas Mas, wah saya sama yang lain takut bener kalo ketahuan Mas Ta ngebiarin istrinya babak belur di dapur. Tapi Mbak Sherly ngotot Mas, ga mau dibantuin".
Sial, kenapa gue malah kepergok makan makanan yang dikasih Puput disaat istri gue sendiri repot-repot sempetin masak buat gue. Apa jangan-jangan Sherly titip salam buat Puput itu sebenarnya lagi nyindir gue??? Dan dengan bodohnya gue sampein lagi ke Puput.
Aku kembali ke kamar dengan perasaan yang tak karuan. Belum kelar masalah satu, timbul masalah baru. Apa aku memang belum terlalu mengenal Sherly dengan baik? Kenapa terasa berat sekali rumah tanggaku yang baru seumur jagung ini.
Aku merebahkan tubuhku di samping Sherly. Tapi kali ini aku memilih untuk cepat-cepat tertidur karena cepat atau lambat pagi nanti pasti akan ada perang lanjutan. Setidaknya aku sudah istirahat total sebelumnya.
◇◇◇
Pagi hari pun tiba, Aku membuka mata dan sudah tidak ada siapa-siapa lagi disampingku. Penasaran, tapi kalau ketemu jujur aku takut. Ah sudahlah, paling masih disekitaran rumah.
Aku bangkit dan berniat untuk segera mandi, tapi dering ponselku mencegah langkah kaki ini beranjak pergi. "Kenapa, Ko?" tanyaku.
"Bos, Buk Bos pagi-pagi sudah di kantor. Dia bawa tukang buat pasang pin di pintu ruangan bos"
"Hah? Sepagi ini Sherly udah sampe kantor?" Aku melihat jam tanganku, baru jam 7 pagi. Kapan dia cari tukangnya? Pikirku.
"Bos, kata Buk Bos pinnya tanggal ulang tahun Buk Bos terus di kurang tanggal ulang tahun Bos di tambah dua"
"Gimana gimana?" tanyaku sembari menjepit ponsel pakai pipi lalu tanganku siap memegang kertas dan pena.
"Duh Bos, saya juga lupa. Pokonya ada tanggal lahir eh tanggal ulang tahun eh sama aja lah ya. Tanggal lahir Buk Bos sama Pak Bos. Terus di tambah-tambah"
"Kamu gimana sih? Coba bilang sama Sherly, suruh kirim pinnya ke saya"
"Aduh Bos, Buk Bos wajahnya lagi gak bersahabat. Boro-boro mau nyuruh begitu, buat negor aja saya takut"
"Saya ke kantor sekarang"
Tanpa mandi dan lain-lain, aku langsung bersiap menuju kantor. Kenapa tiba-tiba Sherly berniat pasang kunci pin di pintu ruang kerjaku.
Sampai kantor, kulihat si tukang masih ada tapi kucari-cari nampaknya istriku sudah tidak ada. Aku pun menghampiri Eko.
"Gimana, Ko? Berapa pinnya? Jangan sampai saya harus ngungsi kerja diruangan kamu"
"Saya beneran lupa Bos, habisnya ribet banget. Mending tanya ehem" kode Eko melalui tatapannya ke si tukang itu.
Aku pun berjalan mendekat pada si tukang yang lagi serius pasang tombol di pintu ruang kerjaku. Kutepuk punggungnya agak kencang.
__ADS_1
"Pak, saya yang punya ruangan ini. Mau tanya, pinnya berapa?"
"Rahasia Mas, kata ibu muda tadi pinnya cuma boleh disebutin sekali. Tuh, udah disebutin sama mas itu tu" tunjuknya pada Eko.
Eko menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Setelah tukangnya pergi, aku dan Eko mencari alat supaya pintu ruang kerjaku tidak tertutup. Sebab kalau sempat tertutup, niscaya tidak akan bisa lagi aku masuk keruangan itu.
Diganjallah si pintu itu dengan sebuah gelas. Jadi kalau tertutup posisi engselnya tidak bertemu dan memang membuat pintu tidak akan tertutup rapat.
"Wah cakep nih, Bos" puji Eko.
"Cakep dari mana, bisa kesandung tamu-tamu yang datang kesini"
Eko melihat-lihat tombol angka yang dipasang si tukang tadi. Terbacalah dimatanya kata "Reset".
Plak
Eko sontak bertepuk tangan.
"Heh, ngapain tepuk-tepuk tangan" tegurku.
"Baca nih, Bos. Bisa kita atur pinnya"
"Ah, kenapa gak dari tadi"
"Yah, kalo gini ceritanya ngapain pasang pin. Toh ujung-ujungnya semua orang juga bakal tahu pinnya berapa" ucap Eko sembari nempel kertas yang bertuliskan nomor pinnya di pintu.
"Alah udah, nurut aja ngapa" gertakku kesal sambil pasang dasi. Aku baru saja selesai mandi pagi di kantor.
Setelah rapi, aku kembali serius bekerja. Sesekali aku tersenyum karena selicik-liciknya istriku, masih lebih licik aku hweee😛.
Sepulang kerja, Rama lagi-lagi mengajakku bertemu membahas perihal percakapan kemarin yang sempat menggantung. Aku mengajak Bibin dan Nanda juga agar kalau-kalau aku tidak bisa maka mereka bisa jadi pilihan keduanya.
"Lama ni gak ketemu pengantin baru, udah isi jangan-jangan" goda Bibin padaku.
"Isi lemak" jawabku ketus.
Setelah itu barulah kami membahas topik yang serius.
"Gue udah sembilan kali datang ke parlemen untuk kasih tau seberapa efektifnya hukuman kebiri ini, tapi sepanjang gue bicara disana selalu mental dan ujung-ujungnya sampai detik ini pelaku kejahatan *****al masih bisa hidup tenang dan nyaman karena hukuman mereka yang gak seberapa. Jadi, kemaren Zapata kasih masukan buat gue katanya mending gue cari gara-gara di Papua biar organisasi pembela HAM ini fokusnya terpecah belah. Dari kalian berdua, ada usul lain?" jelas Rama yang kemudian menanyakan pendapat Bibin dan Nanda.
"Setuju-setuju aja. Soalnya kasian juga di Papua kelompok bersenjatanya seolah dilindungi dari hukuman karena kalo di tembak mati di anggapnya Pelanggaran HAM padahal sudah berapa rakyat sipil yang jadi korbannya" ujar Bibin.
"Iya, yang harus di bela harusnya Hak Asasi rakyat sipil. Yang bikin rusuh harusnya gak perlu di bela. Sebab kalo di bela, mereka akan jadi besar kepala dan makin semena-mena" sambung Nanda.
"Iya, tapi harus cepat ini. Karena bisa-bisa pembahasan tentang kebiri ini redup dan tenggelam gitu aja sedangkan kasusnya nambah terus" ucap Rama.
__ADS_1
"Ma, mon maap nih. Tapi, lo kan pasti punya tim ya. Kenapa gak lo obrolin sama tim, lo? Dengan begitu kan jadi lebih gampang, selain dibiayain pasti gak ngerepotin lo juga. Karena lo cukup duduk dengan tenang mikirin taktik aja. Sedangkan ini lo ngobrolin sama kita. Apa jangan-jangan lo gak percaya sama tim lo sendiri?" tanya Bibin.
"Itu lo tau. Iya, gue gak percaya sama mereka. Karena gue udah pernah tes sendiri. Gue minta mereka bagikan dana dari anggaran negara buat tenaga kesehatan di pelosok-pelosok sekitar dua trilyun, tapi dari dua trilyun itu yang sampe ke tangan penerima cuma satu trilyun. Coba lo pikir, satu trilyunnya kemana? Dan juga, satu trilyun itu banyak, pasti susah nyembunyiinnya. Karena itulah gue jadi tahu. Tim gue sendiri ga bisa di percaya"
"Oke, biar enak dan gak ribut. Mending lo langsung tunjuk aja yang mana dari kita bertiga mau lo kirim kesana buat cari gara-gara" ujar Bibin.
"Lo, sama Zapata aja. Kalo Nanda susah dia, bawa embel-embel negara soalnya" tunjuk Rama dengan entengnya.
"Ha, gimana nih Ta?" tanya Bibin padaku.
"Lah, gue izin istri dulu lah" ucapku beralasan. Semoga saja Sherly merindukan belaian suaminya ini lalu tidak mengizinkanku pergi. Secara, dia sangat takut suaminya jatuh ke tangan wanita lain. Positif, aku akan selalu di jaga ketat.
Pulang dari kediaman Rama, aku langsung mengajak istri tercinta ngobrol serius. Tentu saja sebelumnya aku sujud-sujud minta maaf dulu karena tidak menghargai usahanya masak demi aku.
"Yank, Rama minta tolong. Aku disuruhnya ke Papua buat melancarkan misi. Katanya imbalannya gede. Bisa kaya sampe delapan turunan. Terus juga ada tunjangan istri, tapi resikonya LDR (Long Distance Relationship). Gimana, Yank? Aku sih bodo amatlah dengan imbalan, mau ratusan trilyun kek, tapi disuruh pisah sama kamu ya mana maulah aku"
"Oke boleh" sahut Sherly.
"Yank, ga mau pikir-pikir dulu, apa?"
"Pergi aja sana. Daripada kamu di sini bisa ketemuan terus sama mantan"
"Yank, LDR lho..."
"Biarin, kita serumah juga jarang ngobrol. Apa bedanya, iya kan?"
"Kamu ngincar duitnya, ya?"
"Heh, Zapata Rismandanu. Jangan sembarangan nuduh, coba kamu ingat-ingat lagi. Aku selama jadi istri kamu udah ngabisin berapa duit? Hah?"
"Emm... Kurang lebih sepuluh juta"
"Nah! Itu artinya aku ga begitu musingin duit. Jadi, kalo mau pergi, ya silahkan"
"Yank, ga kangen emangnya?"
"Ya kangenlah. Tapi anggap aja aku kaya lagi nitipin anak ke pesantren, inshaAllah pulang-pulang jadi lebih baik"
"Tega kamu Yank sama aku"
"Lebih tega mana? Aku demi kamu sampe kulit kena panci panas, tapi kamu lebih-..."
"Ya allah Yank, iya ampun-ampun. Aku pergi nih bantu Rama, kamu jangan aneh-aneh selama aku tinggal. Kalo aku telpon harus di angkat cepat, soalnya aku bakal curiga kalo kamu ga angkat telepon, sekalipun kamu mandi harus bawa HP" cecarku.
"Tenang aja, HP bakal aku gantungin ke leher"
◇◇◇
__ADS_1
Tiga hari setelah percakapan dirumah Rama itu, kini aku dan Bibin akan segera terbang menuju Papua. Kami sudah mengantongi alamat barak TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang akan menjadi tempat tinggal kami sementara. Istri dan pekerjaan sudah aku titip pada mama dan Eko. Beruntunglah aku dikelilingi orang-orang yang pandai ngomel tapi hatinya baik.