
Rama sepanjang hari selalu berada disisi Feza. Tak ingin beranjak pergi jauh dari anak dan istrinya. Ia menawarkan berbagai makanan lezat untuk Feza agar semakin sehat dan ASInya semakin lancar.
Rama juga bahkan menanyakan pada mamanya dan mama Feza makanan atau herbal apa yang baik untuk ibu menyusui. Mama Rama menyarankan minum jamu beras kencur dan juga makan jantung pisang agar produksi ASInya melimpah. Semua itu bisa Rama sediakan hanya dalam waktu singkat.
Alhasil, Feza jadi makan terus. Walau ada beberapa makanan yang tidak ia sukai namun karena di belikan oleh suami tercinta tentu saja ia sangat menghargainya dan mau memakannya. Jamu beras kencur yang sudah jelas rasanya sangat tidak enak, tetap ditenggak oleh Feza sampai tak bersisa.
Tak berapa lama, perut Feza tiba-tiba mules. Ia pun dibopong oleh Rama menuju toilet yang memang tersedia dalam ruang rawat Feza. Rama mendudukkan Feza di toilet lalu ia keluar.
Sudah lewat dari sepuluh menit, tapi Feza belum juga memanggil namanya. Rama pun berdiri di balik pintu toilet yang tertutup.
"Za, udah belum?" tanya Rama.
"Mas, gak mau keluar. Sakit banget" rintih Feza dari dalam.
"Gak mau keluar gimana? Keras maksud kamu?" tanya Rama lagi.
"Iya mas. Aku udah ngeden total masih gak bisa juga" rintih Feza sembari menahan sakit.
"Za, jangan kuat-kuat ngedennya. Kamu habis lahiran Za. Bisa bahaya buat peranakan. Pelan-pelan aja jangan dipaksa" ucap mama Rama.
"Iya Za, udahlah biar Rama beli Dul*colax aja" ujar mama Feza.
"Ma, ini kamu beli Dul*colax aja biar Feza lancar BABnya" mama Feza menyuruh Rama pergi ke apotik sambil mengeluarkan uang 50ribuan dari dompetnya.
"Ma, gak usah. Pakek duit aku aja" tolak Rama lalu segera berlalu pergi menuju apotek.
Setelah dibantu Dul*colax, akhirnya Feza kini bisa bernafas lega. Sampai kembali ke brankarnya, dua mamanya itu malah jadi menceritakan tentang pengalaman BAB mereka setelah persalinan.
__ADS_1
Ternyata hal itu memang lumrah terjadi. Buktinya dua mamanya itu juga mengalami hal yang sama. Bedanya, zaman mereka dulu belum ada Micro*lax dan Dul*colax. Mereka dulu hanya bisa mengkonsumsi buah pepaya dalam jumlah banyak agar BABnya tidak keras seperti Feza. Bahkan ada juga teman mamanya yang sampai dibantu pakai sabun agar fesesnya bisa keluar. Dan itu cukup membantu.
Sedangkan Rama yang mendengar cerita pengalaman para kaum hawa itu hanya cengengesan karena mama menceritakannya dengan selentingan komedi. Termasuk juga tentang para suami mereka yang mengeluh kala harus berpuasa lama saat istrinya tengah dalam masa nifas.
"Ma, udah ih. Kasian papa aibnya dibongkar-bongkar" potong Feza terhadap cerita dari mamanya sendiri. Sedangkan papanya sudah pamit menuju kantor tak lama setelah kepergian Bibin dan Zapata.
"Tuh, kamu tuh suka menganggap semua hal tabu. Nanti juga kamu bakal ngalamin sendiri pusingnya ngurus dua bayi" ujar mamanya.
Rama mengalihkan pandangan saat ucapan mama sepertinya ditujukan padanya. Tapi karena tak bisa menampik, ia hanya sanggup menghindari tatapan mata mama.
Yang paling miris adalah Puput, ia berada ditengah-tengah obrolan dewasa. Meski tahu istilah atau kalimat tersirat dari mamanya dan mama Feza, namun ia hanya bisa terdiam. Karena bagi gadis sepertinya, akan sangat aneh kalau menampakkan ekspresi bahwa dirinya sangat mengerti. Jadi, Puput hanya ketawa-ketawa sopan saja biar dikira gak ngerti.
Setelah puas menjenguk sang cucu, mama Feza dan mama Rama pun pamit pulang. Sedangkan Puput tetap disana, karena memang diminta Rama untuk menemaninya disana. Dan Puput malah sangat senang karena bisa nginap dirumah sakit bersama ponakan lucunya.
Sebetulnya Feza sudah diizinkan pulang sore ini, tapi Rama yang belum mau membawanya pulang. Karena menurutnya Feza masih dalam tahap observasi dan masih perlu diperiksa. Tanpa mau mendebat sang suami, Feza iya-iya saja. Toh rumah sakit ini milik suaminya, bebas mau nginap berapa lama.
Sebagian tentengan ternyata berisi berbagai macam makanan. Dan sisanya berisi kado untuk si debay (dedek bayi).
"Wah, lo gimana sih? Waktu itu lu bilang anak lu perempuan. Kok lahir tau-tau punya lonceng" protes Nanda.
"Ya gue liatnya memang gitu, mana ada gue nipu-nipu. Gue aja kaget pas lahirnya laki" ucap Rama.
"Hm, kenapa sih mojok-mojok gitu?" tegur Dinda pada dua lelaki itu.
Rama dan Nanda pun mendekat menuju mereka-mereka yang ada disana. Ikut duduk di sofa sembari menikmati kudapan yang dibawa Nanda sekeluarga.
"Umar kok gak ikut, Din?" tanya Feza.
__ADS_1
"Iya, dititip sama papa di-..."
"Nggak, dia kecewa" potong Nanda cepat.
"Kecewa kenapa?" tanya Feza.
"Dikira yang lahir lawan jenis, ternyata sejenis" jawab Nanda.
Semua tertawa karena jawaban Nanda mengada-ada saja. Jelas-jelas Umar tidak dibawa kerumah sakit karena takut dirumah sakit banyak virusnya.
Selama orang-orang dewasa itu berkumpul, bayi Rama yang masih tak punya nama itu tetap anteng dan nyenyak sekali tidurnya. Dicium-cium tante Sherly dan tante Puputnya ia tetap tak bergeming. Beda saat ia di gendong omanya. Baru dilepas kaos kaki saja sudah nangis melengking.
Dinda juga ikut menimang anak Feza. Sembari mencari-cari letak kemiripan bayi itu dengan wajah Rama dan Feza.
"Pasti lo mau bilang, mirip Rama" tuding Feza.
"Haha, iya. Mirip lo ada juga sih, dikit. Keningnya kening lo banget, tapi sisanya Rama" ucap Dinda.
"Eh tapi maaf Za, kita sempet beli serba pink tadi kadonya. Soalnya Nanda bilang anak lu cewe" sambung Dinda yang baru teringat akan kado yang sudah ia beli.
"Lo gimana sih?" kesal Rama pada Nanda.
"Lo baca lagi chat lo tadi pagi. Lo gak menginfokan jenis kelamin, lo cuma bilang anak lo udah lahir subuh tadi sama lo cuma nyebutin kondisi Feza baik-baik aja. Itu doang" sangkal Nanda cepat sebelum kena omel Rama lebih jauh.
Dinda memberi si bayi ke mama karena mama Dinda juga kepengen menimang anak Feza yang beratnya saat lahir hanya beda 0,2 ons dari Umar. Mama juga membetulkan posisi pakaian si debay yang sudah menclang-mencleng karena selalu berpindah dari tangan ke tangan.
"Eaaaakkkkk" lengkingan itu seketika memenuhi ruang rawat VVIP tersebut. Mama langsung berdiri untuk menenangkannya. Tapi si debay masih tetap menangis kencang. Akhirnya dikembalikan ke Feza.
__ADS_1
"Mas, kamu sadar gak? Anak kita kalo sama oma-oma selalu gak bisa anteng. Di toel dikit, langsung jerit. Beda kalo yang gendong masih muda-muda" ucap Feza sembari menyusui anaknya dengan posisi aman terhalang susunan bantal.