
Hari itu berjalan biasa-biasa saja, malah terkesan membosankan bagi Sherly. Pukul 12 siang ia sudah sampai dirumah karena perkuliahannya yang memang tidak full sampai sore.
Sesampainya di rumah, Sherly hanya menyibukkan diri bermain dengan peliharaannya. Sudah satu minggu kucingnya belum sempat di bawa ke salon, karena tak ada kegiatan akhirnya usai makan siang dan sholat dzuhur barulah ia membawa kucingnya ke salon sekaligus ke dokter hewan untuk pemeriksaan kesehatan.
Pulang dari cek kesehatan, ia membawa kucingnya untuk berjalan-jalan sekaligus olahraga agar tidak bermalas-malasan terus sampai obesitas.
[mon maap buat yang tersinggung, tapi suwer ini lagi ngomongin kucing, sumpahhhh!]ππ
Sembari mengajak kucingnya jalan-jalan, Sherly juga menyempatkan untuk jajan makanan jalanan yang bisa dibeli dengan harga murah dan banyak macamnya. Sampai dirinya lupa waktu dan pulang kesorean.
Sampai rumah, Sherly baru sempat membuka-buka ponsel. Beberapa notif whatsapp memenuhi layar ponselnya. Namun, karena masih lelah ia acuhkan dan memilih untuk membersihkan diri.
Dan saat malam harinya, Sherly merasa seperti kena teror karena ponselnya terus-terusan bergetar. Ia pun melihat sekilas nampak nama pengirimnya.
"Puput? Tumben ngechat!?" gumamnya lalu mencabut ponsel dari chargeran.
Membaca pesan yang dikirim Puput membuat kening Sherly berkerut. Bagaimana tidak, Puput ternyata sudah mengiriminya banyak pesan sejak sepulang kuliah tadi. Dan semuanya berisi amukan, marah-marah tak jelas.
Puput
"Gimana rasanya di gendong Tian? Enakkah?"
Puput
"Lo mau bales perbuatan gue? Sher, lo tuh terlalu baik. Baik-baik aja jadi manusia. Jangan urusin gue sama Tian, kita berdua udah bahagia"
Puput
"Kenapa ga dibales? Biar tetap di anggap baik? Hahahha"
Puput
"Satu lagi, lo ga secantik gue. Tian pun juga beranggapan gitu. Jadi, tolong sadar diri ya Sherπ Jangan melewati batas"
Puput
"Segitu takutnyakah lo sama gue sampe ga berani bales chat gue dari tadi siang? Udah kena mental kah?ππ"
Sherly heran dengan sikap Puput, "Yang katanya si paling cantik tapi kok kayak ketar-ketir gitu takut banget Tiannya gue ambil" Sherly bergumam sekaligus heran. Puput tak se-PD seperti yang ia ketik dalam chat.
Sherly
"Ngatain gue jelek tapi lu sendiri kaya takut tersingkir wkwkwk. Btw Tian juga bilang sama gue katanya sama lo enak, bisa di apa-apain"
Sherly tersenyum puas setelah memfitnah Tian, dan berharap semoga saja setelah ini mereka ribut parah. Sherly tidak benar-benar ingin merebut Tian, lagian dia juga sadar kalo Tian bukan cowok baik-baik. Tampilannya saja anak baik-baik, dalemnya? Ugghhh.
__ADS_1
Sherly membawa ponsel itu ke tempat tidur. Ia memposisikan diri senyaman mungkin untuk adu bacot melawan Puput yang akan membalas pesannya kapan saja.
Eh benar dong, gak lama masuk tuh pesan balasan dari Puput.
Puput
"Jangan asal ngomong ya Sher, Tian ga serendah itu mau blak-blakan sama lo. Dia aja ge srek buat temenan sama lo lagi"
Sherly
"Belain aja terus si pangeran lo itu. Sampe kesebar foto-foto b*gil lo, tetap belain terus ya!?"
Gila, berani banget gue fitnah Tian sejauh itu. Nanti ketauan banget gue pengen ngerusak hubungan mereka wkwkwk.
Puput
"Dari mana lo tau gue pernah ngirim foto begitu ke Tian? Lo ngecek Hp Tian? Gak sopan!"
What?? Puput? Gila, gue kan cuma iseng ngomong begitu. Nih cewe bego banget, harusnya dia jangan balas kek gini. Kan jadinya ngebongkar sendiri. Ah elah, jadi ga seru.
Sherly
"Tian sendiri yang ngeliatin ke gue. Kan kita di tangga darurat ga cuma 10 menit. Lama sayang, sampe dia bablas banget dah nyeritain lu. Gue kaget, cuman keinget waktu dia jadi baby di kamar lo, ya gak kaget lagi sih"
Lama menunggu, ternyata chat itu hanya di baca. Ya sudahlah, hari juga sudah malam akhirnya Sherly memilih untuk segera tidur.
βββ
Jam setengah 10 malam, Tian pulang dengan penuh keringat. Ia baru saja pulang futsal bersama teman-temannya. Niat hati pulang ke rumah untuk dapat segera beristirahat malah justru di sambut ajakan pertikaian oleh Puput yang memaki tak jelas padanya lewat kolom chat.
Tidak kepikiran lagi untuk membersihkan diri, melainkan Tian memilih untuk langsung menghubungi Puput menanyakan apa yang sedang terjadi. Dengan cepat, panggilan itu langsung di jawab.
"Cerita apa aja kamu sama Sherly?" hardik Puput langsung.
"Apalagi sih, Yank? Aku kan tadi udah jelasin. Bukannya udah clear!?"
"Jangan banyak alasan, kamu cerita semua ke Sherly kan? Kalo aku ada kirim foto b*gil ke kamu. Terus kamu juga cerita ke dia kalo aku bisa di pake. Maksud kamu apa? Aku pikir kamu bisa di percaya, ternyata begini cara kamu"
"Udahlah, kalo kamu ga percaya. Aku capek jelasin sama kamu, ga pernah ngerti!"
Tut
Malas mendengar celotehan Puput, Tian langsung mematikan panggilan. Bukan hanya celotehan, tapi juga tuduhan-tuduhan tak beralasan itu. Sedangkan dirinya sadar betul kalau di tangga tadi hanya berbicara seperlunya pada Sherly. Mengapa tiba-tiba jadi cerita foto b*gil.
Tian meletakkan ponselnya lalu berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Seusai mandi, ia tak mau membuka ponselnya lagi karena ingin menghindari Puput. Ia lebih memilih langsung tidur, daripada ribut-ribut dengan kekasihnya itu.
__ADS_1
βββ
Keesokan harinya
Sherly masuk ke kelas yang masih sepi karena perkuliahannya belum dimulai. Namun, kelas sebelah alias kelasnya Puput baru saja usai. Sherly duduk di bangku sembari memainkan ponsel. Tiba-tiba Puput datang menghampirinya dan menggebrak-gebrak meja. Disusul Tian terbirit-birit menenangkan Puput.
"Put, kamu bisa tenang dikit ga? Jangan cari keributan di kampus" ucap Tian tegas sembari menggenggam lengan Puput dan menariknya dari hadapan Sherly.
Mia yang baru masuk ke kelas langsung bertanya pada Sherly, "Kenapa Sher" tanyanya dengan tatapan mengikuti arah Puput dan Tian pergi.
"Gak tau"
Tian rupanya menyeret Puput ke dalam mobil.
"Kamu apa-apaan sih? Cuma gara-gara aku nolongin Sherly kamu marah ga selesai-selesai. Mau kamu tuh apa?"
"Ya makanya, kemaren jangan bantuin dia. Pakek acara di gendong segala lagi. Aku yang pacar kamu aja ga pernah di gituin"
"Kalo bukan aku siapa lagi. Di tangga itu cuma ada aku sama Sherly. Dan aku masih punya rasa kemanusiaan buat nolongin dia" ucap Tian membela diri.
"Terus berapa lama kalian di dalam sana. Lama? Cerita apa aja kamu sama dia?" gertak Puput.
"Aku ga ngerti sama kamu. Udah cape aku jelasin kalo aku ga cerita apa-apa, bahkan aku cuma ngomong seperlunya"
"Bohong! Kamu kasih tau dia kan kalo aku udah kirim-kirim foto b*gil ke kamu. Kamu juga bilang kalo aku bisa di pake. Awalnya aku biasa aja, tapi karena kamu sudah menganggap aku cewe bi*pak, aku ga terima. Aku-..."
Plak
Tian menampar pipi Puput. Tidak terlalu kasar namun cukup untuk membuat Puput terdiam.
"Kamu tampar aku? Kamu udah berani nampar aku?"
"Aku ga bermaksud, tapi kamu dari tadi ngomongnya ngelantur. Aku ga ngerti apa yang kamu maksud. Bilang kamu cewek b*spak, kirim foto b*gil. Apa sih?"
Puput mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan chat antara dirinya dan Sherly semalam.
Tian membacanya sambil mendesah pelan.
"Kamu terlalu bodoh ketipu dengan pancingan Sherly. Dengan balasan kamu kaya gini, seolah mengiyakan tudingan Sherly ke kamu"
"Maksud kamu?"
"Baca aja sendiri" Tian mengulurkan ponsel itu kepada Puput. Sembari Puput menganalisa chat itu Tian berkata, "Saran aku, kalo lagi emosi lebih baik jangan pegang HP. Takutnya malah merugikan diri sendiri".
Setelah berucap demikian, Tian pun keluar meninggalkan Puput sendirian. Ia juga kesal pada Puput yang membuat nama baiknya pun di depan Sherly jadi ikutan hancur. Cukuplah kejadian kepergok waktu itu, sekarang ditambah lagi dengan foto-foto. Apa yang akan dipikirkan Sherly tentangnya.
__ADS_1