Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Ternyata Open Book


__ADS_3

Latihan di hari Kamis pun dimulai. Kini mereka sudah tahu tema drama yang akan mereka mainkan. Yang mana, Puput dalam perannya menjadi Zainab adalah seorang wanita yang sudah dewasa. Ia memiliki kekasih bernama Harun. Mereka sudah berpacaran cukup lama, bahkan Zainab sering kali ditanyai orangtuanya kapan Harun akan melamar putri mereka.


Tapi Zainab tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang diajukan kedua orangtuanya itu. Sampai-sampai ia kerap kali terlihat bertengkar dengan Harun ditepi sungai.


Zainab terus meminta Harun untuk segera menghalalkannya, dan Harun terus-terusan mengatakan secepatnya. Tapi jawaban itu sudah Zainab dengar sejak tahun lalu. Ia kecewa karena Harun sampai sekarang tidak kunjung membuktikan ucapannya.


Lalu ditengah-tengah drama nanti, akan masuk adegan tari yang menggunakan beberapa musik dangdut lawas. Sehingga penonton dijamin tidak akan bosan menonton drama musikal atau Film India versi mereka.


Hari berganti, latihan demi latihan terus mereka lakukan. Walau fisik kian hari kian terasa lelah, tapi Puput tetap menomor-satukan kuliahnya agar apa yang dikhawatirkan sang mama tidak terjadi.


Sampailah di minggu ujian semester dilaksanakan. Puput yang belajar sangat keras sampai dirinya tak kenal istirahat karena dikeseharian dirinya selalu menyempatkan diri berlatih drama di rumah bersama Sherly dan temannya yang lain.


Namun usaha kerja kerasnya dalam belajar itu ternyata sia-sia. Ia terkejut terheran-heran kala mendapati lembar soal yang dioper oleh temannya bertuliskan "Open Book". Puput menjatuhkan kepalanya ke meja. Kalau tahu begini, tentu semalam ia tak perlu repot-repot menghapal sampai ketiduran.


Setelah merutuk-rutuk singkat, ia pun mengerjakan soal demi soal dengan teliti. Sampai waktunya habis, Puput dan Tian menjadi yang paling pertama menyerahkan lembar jawaban mereka kedepan. Barulah kemudian disusul Sherly.


Mereka bertiga lalu menuju kantin untuk makan siang. "Lo gak ajak cewe lo sekalian?" tanya Sherly pada Tian.


"Udah putus" jawab Tian santai.


"Kenapa? Bukannya abis tanding waktu itu kalian jadi makin lengket?" tanya Puput.


"Semakin lengket, semakin patut dicurigai" tukas Tian namun makin membuat Puput dan Sherly bertanya-tanya.


"Maksudnya?"


"Maksudnya?"


Tanya mereka berbarengan.


"Gue pacaran sama dia seumur-umur gak pernah di surprise-in. Tiba-tiba aja pas tanding kemaren dia begitu ke gue. Gue sih suka ya, tapi bukan berarti bego. Gue pantau dia akhirnya. Ikutin kemana dia pergi. Akhirnya gue liat sendiri, dia jalan sama Dino. Temen basket gue, satu tim juga waktu itu. Ya udah, langsung gue samperin terus gue bilang: Makasih ya pelayanan selama ini, aku suka. Terus gue langsung cabut" tutur Tian kepada dua gadis didepannya.


"Hah? Jadi, lo pacaran sama dia pernah macem-macem?" tanya Sherly dengan mata terbelalak.


"Ya nggaklah. Cuma tukar ludah doang" sahut Tian.


"Enak banget dia bilang tukar ludah" ujar Sherly dengan mencebik kearah Puput.

__ADS_1


"Terus maksud lo bilang makasih atas pelayanannya tuh apa?"


"Biar dia dikira cewe gak bener aja. Secara gak langsung, menjurus ke situ tapi sebenernya nggak. Gue bisa liat raut merah di mukanya Mia. Tapi dia gak bisa bales gue, kan dia sendiri yang salah. Pacaran sama gue jalan sama orang lain"


"Belom putus dong berarti?" tanya Sherly.


Pertanyaan Sherly sendiri yang kadang akhirnya memancing Puput terus mengira dirinya naksir pada Tian. Udah kaya mengintrogasi pacarnya sendiri.


"Bagi gue udah. Karena gue gak bisa mentolerir pengkhianatan. Dikira cewek didunia ini cuma dia doang"


"Ya udahlah, ngapain bahas dia. Mending kita pesen makan aja" sambut Puput.


Mereka pun akhirnya memesan makanan sesuai selera masing-masing. Sampai akhirnya Mia datang menghampiri meja mereka.


"Tian, gue mau ngomong sama lo"


"Ngomong aja" sahut Tian dengan ketus.


"Kita perlu bicara berdua"


"Buat apa?"


"Heh, justru masalah aku tuh kamu. Sadar gak sih? Kamu tuh udah kepergok jalan sama Dion. Sekarang malah bertindak seolah gak ada kejadian apa-apa. Kamu tuh mikir, udah dewasa 'kan? Sadarkan kalo selingkuh itu salah?"


Perdebatan Tian dan Mia dikantin mendadak jadi pusat perhatian. Sherly dan Puput hanya melongo melihat dua orang yang beradu mulut dihadapannya tanpa peduli sekitar.


Sampai akhirnya ada senior yang menengahi keduanya dan meminta Tian untuk berhenti membentak Mia yang sudah menangis tersedu-sedu juga meminta maaf padanya. Tapi Tian tetap bersikeras tak mau memaafkannya dan meminta Mia untuk berhenti mengganggunya. Setelah itu senior tadi meminta Mia untuk pergi saja, karena ia juga sudah mendapat kesimpulan dari keduanya tentang kejadian sebenarnya. Yang mana, memang Mia-lah yang bersalah.


Setelah kepergian Mia dari kantin, Tian kembali duduk. Namun ia sudah tak berselera lagi untuk menghabiskan makanannya.


"Kalian habis ini kemana?" tanya Tian.


"Mau ke aula Porkes. Latihan drama buat acara ulang tahun kampus" jawab Puput.


"Gue boleh ikut? Soalnya gabut nih habis ngampus gak ada kegiatan lagi"


"Emang lo gak mau pulang? Istirahat gitu" tanya Sherly.

__ADS_1


"Gue udah terbiasa sibuk. Dari jaman SMP gue aktif basket, SMA juga. Boleh ya ikut kalian, gue janji gak akan ganggu" ujar Tian dengan menampilkan dua jari dihadapannya.


"Gimana ni Put?" tanya Sherly.


"Ya udah, bolehin aja. Daripada besok pagi kita dapet berita duka" sahut Puput dengan bercanda.


"Sialan. Modelan Mia jadi alasan gue mati, gitu? Yang ada di akhirat gue jadi bulan-bulanan" tampik Tian dengan melempar tisu bekas pakainya pada Puput.


"Tian ih, jorok banget. Beneran mau ikut apa nggak?" ancam Puput.


"Iya iya, jam berapa kita kesana? Pakek mobil gue aja ya" usul Tian.


"Cakepp, kebetulan kita berdua emang gak bawa kendaraan" sahut Sherly dengan senang.


"Hm, berarti sekalipun gue gak ikut kalian tetap minta tolong gue buat anter kesana 'kan?" tuduh Tian.


"Enak aja. Gue bisa telpon sopir terus minta dianter kesana sekalian minta tungguin sampe kita pulang" jawab Sherly.


Sehabis makan dikantin, mereka pun pergi menuju aula Porkes yang memang letaknya cukup jauh dari fakultas mereka. Selama ini Sherly nebeng Puput tiap kali mereka hendak latihan disana.


"Emang latihannya jam berapa?" tanya Tian saat masih di mobil.


"Jam dua" sahut Sherly yang duduk depan, samping Tian.


"Oh, masih ada 30 menit lagi. Gimana kalo kita jalan-jalan keliling kampus dulu?" tawar Tian.


"Boleh juga, emang lo tau jalannya?"


"Tau. Abang gue kan senior kita dikampus ini, jadi dulu gue pernah ikut dia kuliah. Terus karena dia temenan sama banyak anak dari fakultas lain, jadi gue pernah dibawa keliling kampus juga sama dia. Abang gue aktif banget pokonya. Segi pergaulan, dia lebih luas. Beda sama gue, jago segala macem tapi temen gue itu-itu doang"


Mereka cerita-cerita sambil berkeliling kampus sampai ke fakultas yang letaknya paling jauh dari gerbang universitas. Belum lagi, dibelakang sana ada juga lahan tempat anak pertanian praktek. Dan juga ada peternakan sapi dan ayam milik anak peternakan. Semakin jauh kedalam, pemandangannya tersisa hutan-hutan milik fakulatas kehutanan. Karena terpampang tulisan besar yang bertuliskan Fakultas Kehutanan serta dibawahnya ada tulisan yang lebih kecil berisi nomor-nomor penting berkaitan dengan penunjukan hutan tersebut oleh rektor.


Setelah 30 menit berkeliling, mereka kembali ke aula Porkes. Disana sudah ada pelatih dan beberapa anggota drama musikal yang terlihat sedang duduk dibangku depan pintu aula.


"Yuk kesana" ajak Sherly. Tian pun melepas sabuk pengamannya dan ikut turun dari mobil.


Selama Sherly dan Puput berlatih, Tian duduk sendiri di bangku kosong dalam aula. Beberapa anggota drama musikal yang laki-laki mendekatinya dan akhirnya mereka terlibat percakapan panjang.

__ADS_1


Sesekali Tian memperhatikan Puput dan Sherly yang tengah mempraktekkan dialog. Sampai akhirnya ia serius mendengarkan dan tertawa sesekali saat ada adegan receh menurutnya.


__ADS_2