Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Perdana Jaga Bayi


__ADS_3

Sherly


"Ma, buah kurma muda sama buah zuriyatnya jangan lupa yaa"


Dua hari lalu orang tua Zapata telah berangkat umrah. Sherly mendoakan semoga mertuanya sehat saat disana dan pulang dengan selamat.


Sepulang ia kuliah, dirinya sengaja mampir kerumah Dinda untuk menjemput Umar. Karena sewaktu tasyakuran, ada satu ibu-ibu yang berbicara padanya begini, "Kalau kepengen buru-buru punya anak, rayu dulu Tuhannya. Tunjukkin kalo kita bisa jaga dan rawat anak kecil. InshaAllah nanti keinginan buat punya anak bakal dikabulin".


Setelah menjemput Umar, Sherly pun membawanya ke kantor Zapata. Sampai sana, ternyata Zapata sedang rapat. Ia pun mengasuh Umar diruang pribadi Zapata sembari membiarkan Umar mengeksplor ruangan yang tampak asing baginya itu. Beberapa benda yang cukup berbahaya juga sudah Sherly jauhkan dari jangkauan bayi tersebut. Umar tampak senang dibawa ketempat baru, beberapa kali bayi mungil itu menatap Sherly dengan tersenyum sampai memperlihatkan gigi putihnya yang baru tumbuh beberapa.


"Umay senang ya ikut kesini? Umay gak haus?" Sherly membujuk keponakannya dengan menyodorkannya botol dot, tapi bayi itu malah mengabaikannya.


Sherly merebahkan tubuhnya ditempat tidur, sedangkan Umay melempar-lempar bola ke sembarang arah. Bayi itu bermain sesuka hatinya. Karena kondisi ruangan cukup hening, tiba-tiba saja Sherly merasakan kantuk yang amat sangat. Lalu ia pun tertidur.


Umar berusaha meraih bola mainannya yang menggelinding di bawah meja. Bayi itu berdiri dan berpegangan sembari menyusuri tepi-tepi meja lalu kemudian terduduk. Ia merangkak dibawah kolong meja berusaha meraih bola mainannya. Saat bolanya sudah di dapat, Umar kesenangan dan langsung berdiri. Seketika itu juga terdengar bunyi yang cukup keras bersamaan juga dengan suara pintu yang terbuka.


"Eeeeaaaaakkk" jerit tangis Umar yang pecah.


"Sherly!" panggil Zapata tak kalah keras.


Sherly yang kaget mendengar suara keras dan panggilan dari Zapata membuatnya seketika terbangun. Posisi saat ia membuka mata, Umar sudah berada dalam gendongan Zapata. Zapata tengah membujuk bayi mungil itu agar berhenti menangis.


"Kamu gimana sih? Bukannya dijagain malah enak-enakan tidur. Kamu kalo ga bisa jagain mending jangan dibawa kesini" bentak Zapata.


"Cup cup cup, Umay jangan nangis lagi ya. Liat tuh dibawah ada banyak mobil gede. Umay punya mobil kaya gitu juga, nggak?" bujuk Zapata dengan nada lembut sembari membawa Umay untuk melihat jalanan melalui jendela.


Bujukan Zapata ternyata berhasil membuat bayi mungil itu berhenti terisak. Zapata sesekali memeriksa kepala Umar, tidak ada luka hanya saja terlihat sedikit benjol.


Setelah Umar sudah mulai bosan melihat jalanan, Zapata membawanya ke luar dari ruang pribadinya. Zapata mendudukkan Umar di kursi sofa dan kemudian memberikannya sebuah spidol dan kertas HVS untuk coret-coretan buat Umar biar ada kegiatan dan agar bayi tersebut anteng. Selagi bayi tersebut duduk diam memperhatikan spidol merah ditangannya, Zapata menghampiri Sherly yang sedang cuci muka di kamar mandi.


"Yank" panggil Zapata.


"Hm" jawab Sherly.


"Udah makan belum? Aku mau order makanan, kamu mau juga gak biar sekalian aku pesenin"


"Nggak" jawab Sherly.


"Ya udah, tapi order cemilan gak mau juga?"


"Nggak" jawab Sherly.


"Oke deh" Zapata pun keluar dari kamar mandi dan duduk di sisi Umar sembari pesan makan.


Sherly keluar dari kamar mandi. Ia merapikan ruang pribadi suaminya yang sudah berubah menjadi kapal pecah karena mainan Umar yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Sembari memunguti mainan Umar, ia mengomel dalam hatinya karena sebetulnya hatinya sempat sakit gara-gara bentakan Zapata. Lalu tanpa merasa bersalah Zapata malah terlihat santai saja dan sempat nawarin makan pula. Apa dia gak ngerti sama jawaban ketus Sherly tadi? Masa iya dia gak ngerasa apa-apa padahal itu Sherly jawab pertanyaannya singkat-singkat lho. Kan bisa dibilang gak pernah lho Sherly ngejawab singkat-singkat kaya gitu selain kalo lagi marah aja.


Begitulah kurang lebih unek-unek Sherly pada suaminya yang tidak peka itu. Setelah semua mainan Umar terkumpul di dalam tas khususnya, Sherly pun keluar dan bergabung dengan Umar.


"Umay, Onti Celi minta maaf ya karena lengah sampe ga jagain Umay. Kepalanya Umay masih sakit, gak?" Sherly jongkok di depan sofanya Umar agar bisa memposisikan diri sejajar dengan bayi itu.


"Nggak" jawab Umar seraya mencoret-coret kertas.


"Jadi Umay ga mau maafin Onti Celi?" tanya Sherly lagi.


"Bukan itu, kepala Umay nggak cakit lagi"


"Tapi Umay mau kan maafin Onti Celi?"


Percakapan tante dan keponakan itu mengalihkan pandangan Zapata dari ponselnya.


"Terpakca" jawab bayi mungil itu.


Sherly merengek sejadi-jadinya. Kok bisa keponakannya ngomong begitu.


"Umay, Umay... Kok Umay terpakca maafin Onti?" tanya Sherly.


"Bunda yang nyuluh"


"Loh, kok jadi merepet ke bunda? Umay, Onti kan tanya, Umay mau gak maafin Onti Celi? Siniin dulu deh kertas sama spidolnya biar kita bisa ngomong baik-baik" Sherly mengambil spidol dan kertas dari tangan Umar.


"Umay maafin Onti gak?" tanya Sherly.


"Kan udah dijawab" jawab Umay.


"Apa jawabannya?" tanya Sherly.


"Terpakca Onti Celiiii" kesalnya.


"Nah itu, kenapa terpakca?" tanya Sherly gemas.


"Kan di pakca bunda"


"Loh, maksudnya?" tanya Sherly masih tak mengerti.


"Bunda bilang, kalo olang minta maap halus dimaapin"


"Nah, berarti Umay udah maafin Onti?"


"Belum, tapi telpakca. Kan di pakca bunda"

__ADS_1


"Yassalam. Umay, dengerin Onti yaa...-"


"Gak mau dengel, Umay mau main"


Hening. Bayi mungil itu secara spontan mampu membuat Sherly diam seribu bahasa. Zapata mengembalikan lagi spidol dan kertas ke tangan Umar sembari terkekeh menertawai keduanya.


Sherly kembali ke posisinya semula. Ia pura-pura tidak mendengar ketawa suaminya karena setelah ia meminta maaf pada Umar harusnya giliran Zapata untuk minta maaf padanya atas bentakan yang ia terima tadi.


Niat minta maaf pada Umar, selain memang tulus dari hati tapi juga untuk menyindir suaminya, malah gak kena. Yang ada ia malah disemprot Umar yang memotong ucapannya.


Anter pulang juga nih bocah, gerutu Sherly dalam hati.


Tak berselang lama, orderan makanan Zapata datang. Ia memesan nasi dengan lauk sei sapi, lengkap dengan sayurannya.


"Yank, mau coba gak?" tawar Zapata.


"Nggak"


"Aku suapin deh"


"Gak mau"


"Kamu kenapa sih, Yank?" tanya Zapata mulai ngeh dengan perubahan sikap istrinya.


"Gapapa"


"Aku ada salah ya sama kamu?"


"Ga ada"


"Yank, aku ngomong tuh diliat. Kamu marah, ya?"


"Nggak" jawab Sherly melihat ke suaminya. Tapi setelah itu buang muka lagi.


"Umay, Onti Celi malah" adu Zapata pada Umar.


"Onti Celi pasti anaknya ayah (Nanda), coalnya cama-cama cuka malah"


Zapata tertawa, "Kalo Onti Celi anaknya ayah, berarti Onti Celi kakaknya Umay, dong?"


"Umay mau punya kakak, tapi gak mau kakak Onti Celi" ucap bayi itu dengan sangat serius dan memelas.


"Gimana ceritanya kakak Onti Celi, udah kakak, Onti pula. Kalo kakak ya kakak, kalo Onti ya Onti" sambar Sherly.


"Gak ngelti" ujar bayi tersebut.

__ADS_1


Sherly memutar bola matanya jengah sekaligus gemas dengan kelakuan ponakannya itu. Sudah dia yang ngajak muter-muter (obrolannya), terus dengan santainya bilang, gak ngelti.


__ADS_2