
Puput kembali ke mobil Tian setelah Zapata menghilang dari sana. Ia juga menyampaikan pada Tian kalau tadi dirinya baru saja di putusi oleh pria yang merupakan kekasihnya itu.
"Udah ga penting lagi, Put" jawab Tian.
"Ha, maksud kamu?" tanya Puput tak mengerti.
"Aku pikir kamu udah selesai sama pria itu dari awal kita jadian, karena kamu sendiri yang bilang kalo dia ga pernah ada kabar lagi. Terus sekarang terbukti kalo kamu bisa kesana kemari. Sama aku iya, sama dia iya".
Puput menatap tak percaya dengan perkataan yang Tian lontarkan. Dirinya bukan perempuan bodoh yang tak mengerti maksud dari ucapan Tian barusan.
"Aku gak bisa percaya lagi sama kamu, Put".
"Tian stop! Setelah kamu bubarin persahabatan aku sama Sherly, setelah kamu puas nikmatin tub*h aku, dan sekarang kamu mau kita putus? Tian, kamu gila?? Berapa banyak kerugian yang aku dapat cuma demi kamu" Puput mengamuk pada Tian karena merasa Tian sama sekali tidak memikirkan dirinya yang telah banyak kehilangan hanya demi Tian.
"Put, kita ngelakuinnya atas dasar suka sama suka. Aku ga pernah maksa kamu. Dan sekarang aku betul-betul kecewa sama kamu karena kamu ga jujur dari awal sama aku. Kamu belum berakhir sama laki-laki itu. Dan tadi apa? Kamu nangis sewaktu dia nyamperin kamu ke sini. Tangisan kamu sudah cukup membuktikan kalo kamu takut kehilangan dia"
"Aku nangis karena aku takut kalo dia bakal aduin aku ke Mas Rama. Aku bisa di marahin habis-habisan juga sama Mama kalo tahu perbuatan aku kaya apa"
"Nggak Put, aku nangkapnya gak gitu. Kamu takut kehilangan dia"
Puput diam.
"Kenapa diam? Aku bener 'kan? Sekarang mau apalagi? Kita lanjut pun pasti ga akan sama. Aku udah terlanjur kecewa karena nyatanya kamu udah bohongin aku. Yang ada malah nantinya aku ga pernah bisa percaya lagi sama kata-kata kamu. Ujungnya apa? Putus juga 'kan?"
Plak plak
Puput menampar Tian dua kali.
"Iblis kamu Tian. Aku nyesal pernah cinta sama kamu. Tega-teganya kamu hancurin aku. Ingat ya Tian, sampai matipun aku tetap gak terima di perlakukan kaya gini sama kamu!!!"
Brak
Puput menutup pintu mobil dengan kasar. Ia pulang dengan berjalan kaki sampai kerumahnya. Tian sama sekali tak ada upaya untuk mengejarnya. Mata Puput juga sembab karena kehilangan dua-duanya. Tentu saja Tian dan Zapata. Tak ada satupun yang tersisa, seolah kompak mencampakkan Puput di waktu yang sama.
••••••••
POV Zapata
Keesokan harinya, aku beraktifitas seperti biasa. Jika orang-orang disekitarku tahu kejadian yang aku alami semalam dan mengira aku akan menangis sepanjang malam. Huh, nyatanya tidak sama sekali. Sedikitpun tidak ada air mata yang keluar dari kedua mataku. Sebab, sejak lama aku sudah mewanti-wanti hal ini akan terjadi.
Awalnya kukira, dengan menghadiahi Puput kejutan yang wah bisa merubah sifatnya menjadi setia kepadaku. Namun ternyata aku salah, karena aku masih terus saja menerima lembar demi lembar foto yang membuktikan kalau Puput ada main di belakangku.
Aku sadar kalau kesetiaan seseorang memang sangatlah mahal. Bahkan dengan bangunan senilai 5 miliar pun tetap tidak menghentikan kelakuan bejat Puput. Kurang baik apa aku? Menunggu berbulan-bulan, memberinya kejutan, menunggunya berubah, ah ternyata tidak ada hasilnya. Selingkuh tetaplah selingkuh.
Lalu bagaimana nanti? Aku harus bawa apa atau dengan siapa kesana saat menemui keluarga Puput untuk membicarakan hubunganku dengannya. Apa sebaiknya datang sendiri saja atau bagaimana? Ah, mengapa sulit sekali untuk bilang "Tante, aku ga mau nikah sama anak Tante lagi" atau "Ma, adek lu selingkuh".
Huft
__ADS_1
Malam harinya, sebelum masuk ke mobil aku sudah punya jawaban.
•••••••••
Tin tin tiiiinnn
Aku membunyikan klakson yang memekakkan telinga. Sengaja mengganggu Sherly yang tengah duduk di balkon sambil baca novel. Ia melihat ke arahku seolah bertanya. Aku menghubunginya namun tak kunjung di angkat.
Ah, terpaksa aku memamerkan kap mobilku yang bisa buka tutup ini.
"Angkat woy" ucapku. Barulah ia terlihat menempelkan ponsel ke telinga.
"Nomor baru ya, Bang?" ucapnya di telepon.
"Hm. Sher, temenin abang ke rumah Puput yuk!?" ajakku.
"Ngapain?"
"Mau menyelesaikan misi. Ayolah, temenin ya!?" aku menempelkan tangan ke arahnya dengan tujuan agar ia tahu kalau saat ini aku betul-betul memohon kepadanya.
Sherly nampak berpikir.
"Hm, okelah. Tapi tunggu ya, aku mau siap-siap dulu"
"Dengan senang hati, Dikku (adikku)" ucapku lega akhirnya si Sherly mau menemaniku.
Tut, panggilan di matikan.
"Kenapa tuh muka? Udah butuh di operasi kayaknya" jahilku.
"Ngapain sih bang ajak aku tempat Puput. Biar aku iri gitu liat pasangan serasi? Males banget jadi obat nyamuk"
"Nanti kita buktiin, kamu beneran jadi obat nyamuk atau ngga?" jawabku lalu kami tancap gas.
Aku mau menutup kap mobilku dengan memencet tombol, namun Sherly menghentikanku.
"Jangan bang, seru kaya gini kena angin sepoy-sepoy"
Ya sudahlah, aku pun membiarkan kap mobilku tetap terbuka.
Jam 8 tepat, kami sampai di rumah Rama. Kedatangan kami disambut hangat oleh Rama. Sambutannya itu, membuat aku jadi merasa berat untuk menyampaikan tujuanku kesana.
"Mau cari Puput? Bentar gue panggilin"
Belum sempat aku menjawab Rama sudah main panggil-panggil saja.
"Ma, bukan Puput. Gue kesini ada perlu sama nyokap lo. Yaa sekalian sama lo juga sih" ucapku.
__ADS_1
"Sama gue? Ada apa?" tanyanya.
"Mending panggil nyokap lo dulu, biar gue bisa ngomong langsung sekali aja"
"Oke-oke" Rama pun masuk ke dalam rumah memanggilkan mamanya. Namun saat Rama sudah pergi, malah Puput yang nongol ke ruang tamu.
Aku tentu buang muka, tak sudi kumelihatnya. Eh ternyata sama, Sherly juga buang muka padanya. Wah, telepati macam apa ini. Kok kompak, sama-sama buang muka.
"Nih Ma orangnya, tumben nyari Mama" ucap Rama saat baru sampai di ruang tamu.
Saat Rama dan Mamanya datang, Puput beranjak dari sana. Namun kemudian di cegat Rama.
"Mau kemana? Sini aja, Put"
Mungkin Rama mengira hubungan aku dan Puput baik-baik saja, sehingga di kiranya mungkin aku kesini mau membahas pernikahan. Iya sih, memang mau membahas pernikahan. Tapi pernikahan yang tertunda untuk selamanya.
"Aku mau ambil minum, Mas" sahut Puput lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Mau bicara apa, Ta? Kok kayanya serius banget" ucap Tante Rita.
"Ini tentang pernikahan, Nte" jawabku.
Tante Rita tersenyum tipis. "Tente kan sudah pernah bilang, boleh nikah asalkan Puput sudah 21 tahun. Ga bisa ditawar-tawar lagi ya" ujarnya kepadaku.
"Bukan Nte, bukan itu. Maksud aku, aku ga bisa melanjutkan hubungan aku sama Puput lagi"
Sherly yang duduk satu sofa denganku langsung mendelik ke arahku. Dalam hatiku, "Nanti ya Dikku, akan abang ceritain di jalan aja"
"Hah? Kenapa, Ta?" tanya Tante Rita.
"Begini Tante, setelah aku jalani sama Puput memang aku ngerasa yakin betul sama Puput. Tapi, itu hanya sampai beberapa bulan yang lalu aja. Sekarang, kami berdua sama-sama seperti dua kutub yang saling bertolak belakang. Aku ga tau cara baik untuk nyampein ini ke Tante kaya gimana. Karena untuk nyampein hal ini, aku juga butuh keberanian lebih, Nte".
"Ada apa, Ta?" Rama bertanya kepadaku. Tentu saja yang ia harapkan adalah jawaban detail tidak seperti jawaban ngambang yang aku utarakan pada mamanya.
"Nanti gue cerita" jawabku sembari mengkodenya untuk jangan tanya itu sekarang.
Tante mengulas senyum simpulnya. Ia tampak tenang meski baru saja aku memberikan kabar yang kurang sedap.
"Tante, tolong jangan diam aja. Kalau Tante marah, aku tidak apa-apa. Aku bisa maklumi"
"Tante gak marah. Ya sudah kalau begitu, tante harap kamu cepat bertemu penggantinya yah. Kesalahan yang lalu, jangan di ulang. Pokonya harus jadi lebih baik" ujarnya.
"Iya tante, makasih do'anya" sambutku sembari mencium tangannya.
Setelah itu aku langsung pamit pulang. Mungkin setelah kepulanganku ini, seisi rumah Puput sedang mengerubunginya untuk mencari jawaban pasti dari berakhirnya hubungan kami.
"Sher, mampir kerumah ortu abang bentar ya. Mau kasih tahu yang tadi"
__ADS_1
"Iya, tapi bang... Abang belom cerita sama aku kenapa gagal nikah"
"Nanti-nanti, pulang dari sana kita cerita"