
Acara resepsi berlangsung dengan lancar sesuai harapan. Zapata ikut menyalami beberapa tamu yang ia kenal. Tak jarang, tamu-tamu senior menanyakan kapan dirinya akan menyusul. Hanya senyum simpul yang mampu ia tunjukkan kala mendapati pertanyaan tak mengenakkan itu.
Hingga ditengah-tengah acara, tarian pun akan di mulai untuk menghibur para tamu. Zapata memberikan dukungannya pada Sherly lewat kode-kodean. Dan Sherly menanggapinya dengan tersenyum.
Seusai tampil, Zapata mengajak Sherly untuk berfoto bersama. Keduanya memilih berfoto di luar aula resepsi.
"Sher, gandeng Sher" Zapata melingkarkan tangan Sherly ke tangannya. Dengan malas Sherly mengikuti saja apa mau Zapata.
Aidil dengan sabar menjepret dua orang yang tampak senyum melihat ke arah kamera. Setelah 3 kali jepret Aidil berkata, "Udah nih, mau gaya apalagi?"
"Udah-udah, aku gerah mau ganti baju" ujar Sherly.
"Mau abang temenin?" tanya Zapata posesif dan protektif pada Sherly.
"Ga usah, aku sama temen aja"
Setelah Sherly pergi, Zapata kembali ke dalam bersama Aidil. Ia berbaur lagi dengan para tamu yang tengah menikmati hidangan. Saat ia memiliki waktu sendiri, Zapata memposting di Whatsapp foto dirinya dan Sherly. Sengaja untuk memanasi Puput. Sekian jam berlalu bahkan saat ia sudah pulang kerumah, baru sadar kalau dirinya sudah ganti nomor dan tidak mungkin Puput melihat postingannya itu. Hadeh.
▪▪▪
Setelah beberapa hari berlalu, tiba-tiba Rama mengajak Zapata bertemu. Mereka janjian di sebuah minimarket 24 jam yang memang sering jadi tempat mereka berkumpul.
Sampai disana ternyata juga sudah ada Nanda dan Bibin. Saat itu jam masih pukul 10 malam. Mereka di ajak Rama bertemu untuk membahas sesuatu yang tampaknya sangatlah serius.
"Ada apa nih?" tanya Zapata saat baru saja turun dari mobil. Lalu ia duduk di salah satu kursi.
"Wah, ini berat banget. Gue bingung mau cerita darimana" ujar Rama dengan mengusap kepalanya kasar.
"Ya ada apa? Gimana kita bisa kasih solusi kalo lo belum cerita" ujar Bibin.
"Gue mau di dapuk jadi Menteri Kesehatan. Gantiin menteri yang sekarang masih menjabat. Pusing gak tuh? Gue gak tau apa-apa tiba-tiba di kabarin kaya gini" ujar Rama.
Nanda, Bibin, dan Zapata hanya diam. Tidak ada yang bisa kasih solusi walau Rama sudah membuka cerita.
"Guys, jangan diam. Tolongin gue"
"Ya gimana ya!? Kita juga gak tau mau bantu apa" ujar Nanda.
"Lo gimana? Mau apa nggak?" tanya Bibin.
"Gue bingung. Disatu sisi memang gue ngerasa ada yang kurang sama menteri yang sekarang. Tapi, gue juga gak pernah kebayang kalo gue yang jadi sasarannya"
"Lo cobain aja. Jujur sih, gue setuju-setuju aja kalo lo jadi pejabat. Secara bokap lo pun pernah menjabat jadi menteri juga, kemungkinan adalah tuh darah-darah kepemimpinannya nurun ke elo" sambut Zapata.
__ADS_1
"Tapi Ta, lo sendiri mundur di tengah jalan 'kan waktu jadi anggota dewan. Berarti emang susah terjun ke dunia politik. Ah, gak berani gue"
"Yakin mau nolak? Saran gue, lo maju aja. Daripada nanti yang di dapuk malah yang gak beres, gue sih mending elu" sambung Nanda.
"Kenapa kalian malah mendukung sih? Gue butuhnya yang gak mendukung" cecar Rama.
"Nih, kita usulkan Bibin untuk bicara. Karena kayanya cuma dia yang diam aja. Berarti gak ngedukung" sahut Nanda sembari memberi ruang dan kesempatan untuk Bibin berbicara.
"Eh gimana nih. Gue juga ngedukung, Ma. Soalnya lo kan jadi dokter udah cukup lama, terus juga performa lo sebagai dokter juga sudah teruji secara klinis dan mumpuni. Sudah banyak nolongin orang. Maju Ma, maju" sambut Bibin.
"Ta, lo bantuin guelah" pinta Rama.
"Weh, berarti maju nih?" sambut Zapata dengan menunjuk Rama.
"Maju aja dulu, kalo ga sanggup ya mundur"
Nanda, Bibin, dan Zapata bertos ria. Salah satu di antara mereka bakalan masuk ke jajaran menteri. Tentu saja mereka ikut senang.
"Gue stres, kalian pada senang" gerutu Rama.
"Bukan gitu, kan jadi lo punya kekuasaan lebih. Kita juga jadi berasa ikut ke angkat. Secara bisa temenan sama menteri" sahut Nanda.
"Kapan pelantikan?" tanya Zapata.
"Berapa lama lagi?" tanya Bibin.
"Kurang lebih sebulan lagi"
"Asoy, jadi pejabat ni yee" ledek teman-temannya.
•••
40 hari berlalu, kini Rama tengah di umumkan di hadapan publik sebagai Menteri Kesehatan yang baru. Tentu saja setelah melewati beberapa tahapan uji kepatutan dan kelayakan (Fit and Proper Test).
Zapata dan teman-temannya yang lain mengirimi papan bunga serta ucapan selamat secara langsung pada Rama. Lelaki yang sempat gusar dan bimbang itu, kini sudah bisa tersenyum lebar karena sudah betul-betul siap menerima profesinya yang baru.
Dengan naiknya nama Rama, tentu membuat para warganet penasaran dan mengulik sampai ke kehidupan pribadinya. Termasuk istri, orangtua atau mertua, adik-adiknya, sampailah ke mantan kekasihnya.
Awal-awal kemunculan Rama menuai banyak kontroversi. Kontroversi pertama, tudingan perselingkuhan antara Rama dan Feza. Sebab mereka menikah terkesan mendadak sedangkan ada banyak informasi yang menyebutkan kalau Rama kala itu menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Maudy.
Kontroversi kedua, kembali mencuatnya video Feza menjambak rambut Dinda. Namun hal itu dengan cepat di konfirmasi oleh Rama kalau saat ini hubungan istrinya dan Dinda baik-baik saja.
Hal lain yang di soroti warganet juga adalah adik perempuannya, siapa lagi kalau bukan Puput. Wanita cantik yang mendadak viral dengan segudang prestasi. Tak hanya pintar di bidang akademik namun juga nonakademik.
__ADS_1
Sherly menonton Tv sembari senyum masam karena infotainment yang ia tonton terus memuji-muji Puput yang cantik bak bidadari. Punya tubuh yang sempurna dan pengikut sosial medianya terbilang cukup banyak.
Netizen gak tau aja kelakuan sebenarnya, ucap Sherly dalam hati lalu mematikan televisi dan masuk ke kamarnya. Sudah seminggu ini semua acara Tv memuji-muji Puput, tentu saja hal itu membuat Sherly muak.
"Gedek banget gue dimana-mana Puput, semua orang muji Puput. Itu yang dipuji-puji kelakuannya kek tai. Kebetulan aja gak ada yang tau, jadi kesannya si Puput kek gak punya dosa" gerutu Sherly.
Saat ia sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tiba-tiba saja dering teleponnya berbunyi.
"Kenapa Bang Ta?" tanya Sherly.
"Ikut keluar gak? Mau makan malam rame-rame di deket pantai. Kalo mau biar Abang jemput"
"Ada siapa aja?"
"Mas Rama, Bang Bibin, Bang Nanda, Kak Feza, Kak Dinda. Rame pokonya"
"Mau, aku siap-siap dulu"
"Bukan malam ini, malam besok"
"Issshh, bilang kek dari tadi"
"Hahaha, maap-maap. Emang ngarep banget malam ini ya?"
"Pfftt, bosen aja dirumah"
"Mau jalan?"
"Kapan? Lusa nih jangan-jangan"
"Su'udzon aja. Ya sekaranglah!"
"Mau, jemput aku ya bangs" seru Sherly senang.
"Hooh, otw nih dari Bandung"
"Apa? Bang😈, ish seriuslah" Sherly mulai naik pitam.
"Ya gimana, Abang emang lagi di Bandung. Ini baru mau jalan ke Jakarta"
"Bete banget"
"Haha, maaf Dikku. Tapi kamu temenin Abang aja ya, Abang otw sendirian soalnya"
__ADS_1
Untuk menghibur diri, akhirnya Sherly setuju untuk menemani Zapata selama di perjalanan pulang ke Jakarta. Entah kapan ia ke Bandung dan apa yang pria itu lakukan selama di Bandung, tahu-tahu sekarang bilang mau pulang ke Jakarta. Selama berbincang terus-terusan mereka bercanda hingga akhirnya Zapata sampai kerumahnya. Tentu saja mereka tidak pergi jalan, ya karena Zapata saja sampai ke Jakarta sudah kemalaman.