Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Ternyata Dia


__ADS_3

"Aku apa?" tanyaku akhirnya karena sudah kelamaan menunggu.


"Sabar! Masih nyusun kata-kata" bentaknya.


Aku kembali terdiam, sepertinya dia membalas perbuatanku.


Terdengar grasak-grusuk di telepon.


"Kamu nyusun kata-kata atau nyusun apa sih?" tanyaku.


"Bentar, lagi ganti seprei tempat tidur"


Aku mengusap wajah.


"Kalo masih lama matiin aja. Aku mau pulang dulu, sampe rumah baru aku telpon lagi"


"Gak sabar banget sih. Kamu ngilang seminggu aja aku masih baik, sedangkan kamu nungguin aku ganti seprei tempat tidur aja males" omelnya.


"Gak gitu, aku kan cuma mau izin matiin bentar mau pulang. Tapi sampe rumah langsung telpon kamu lagi"


"Udah selesai"


"Oh, oke. Lanjut-lanjut"


"Lanjut apa?"


"Yang kepotong tadi. Kamu? Kamu apa?"


"Ya udahlah, toh kamu juga hadir dikehidupan aku gak bikin sial"


"Maksudnya?"


"Ya iya, itu"


"Jadi, aku nungguin kamu lama malah sampe ganti seprei tuh hasilnya gini doang?"


"Gak terima?"


"Hah? Tolong jangan lempar-lempar kesalahan sama aku"


"Ya udahlah putus aja"


"Lho? Kam-..."


"Di kasih kesempatan ha ho ha ho, giliran di putusin lha lho lha lho"


"Terima kasih sayang, kamu memang paling baik. Emm, aku turut berduka sama..."


"Gapapa, papa aku udah bahagia disana. Dia gak perlu nahan sakit lagi sekarang. Aku juga ikhlas, kalo gak gitu nanti mama makin sedih"


"Lembutnya. Aku suka tau kalo kamu ngomong lembut gini"


"Ya kamu yang bikin aku naik pitam duluan"


"Ampun ampun, gak lagi deh. Tapi, mana sayangnya?"


"Hm? Sayang apa?"


"Kamu gak panggil aku sayang dari tadi"


"Halah, makanya jangan cari gara-gara"


Aku pulang sembari masih telponan dengannya. Hal yang sebenarnya tidak aku sukai, nyetir sambil telponan. Tapi, karena kekasihku adalah tuan putriku maka ya sudahlah. Lagi pula, saat ini nasibku sedang dalam mode serba salah. Begini salah, begitu salah.


Aku tahu, memang aku perlu banyak mengalah dengannya. Pertama, karena rasa ibaku yang mengetahui bahwa papanya baru saja meninggal. Kedua, karena dia masih belia. Perlu banyak di bimbing. Tapi, kalau dia mendapat pembimbing sepertiku? Tampaknya, dia salah orang haha.


Sampai kerumah, aku lanjut ke kamar. Merebahkan diri sembari mendengar kekehan geli dari kekasihku. Yes, terbukti. Untuk membahagiakannya aku bisa. Takkan kubuat kecewa seseorang yang bisa menguasai hatiku.


"Enak banget jadi kamu, ketawa-tawa mulu"


"Emang enak hahaha"


"Kamu suka olahraga gak?" tanyaku.


"Emmm, suka. Badminton doang tapi"


"Mau? Main badminton sama aku?"


"Dimana?"


"Dirumah. Lengkap tau rumah aku, ada lapangan basket juga"


"Gak ah takut"

__ADS_1


"Takut apa? Takut terjadi sesuatu yang diinginkan? Eh maksudnya sesuatu yang tak diinginkan"


"Iya, itu"


"Tenang aja, rumah aku rame. Mau bukti?"


"Ga usah"


"Kamu tuh susah banget di ajak ketemu. Aku harus bujuk dengan cara apalagi?" ucapku dengan nada kecewa.


Dia malah tertawa.


"Ya udah, hayuk. Mau ketemu dimana?"


"Sekarang bisa? Beneran langsung cabut nih aku"


Dia tertawa mendengar antusiasku.


"Gak cape kamu?"


"Demi bersua dengan engkau, punggung lansia pun menjadi tangguh. Laut sanggup aku sebrangi, bahkan gunung pun akan kudaki"


"Nyanyi lagu Padang dulu baru aku mau"


"Dibilangin aku udah gak pernah kesana"


"Emmm, aku mau dengar kamu nyanyi lagu Padang dulu"


"Bentar ya, aku cek yutub"


"Lah, kan hp kamu lagi dipake telponan sama aku"


"Pakek hp satunya" ujarku.


"Hp kamu dua?"


"Iya"


"Ohhhh..." sahutnya dengan intonasi aneh. Biasalah, kode-kodean wanita.


"Demi Tuhan, aku setia sama kamu. Aku punya hp dua karena emang mau memilah-milah aja. Yang satu buat kerjaan yang satu lagi buat pribadi"


"Iya, percaya"


Aku pun memutar satu lagu pop minang dengan volume kecil untuk aku menghapal. Setelah cukup hapal satu bait, aku lalu menyanyikannya pada dia.


Dia diam sembari menunggu aku siap bernyanyi.


"Tigo tahun la denai nanti


Den siram bungo, patang jo pagi


Tapi apo nan tajadi dek oyyy


^(dilirik sebenarnya adalah da oyyy, tapi itu karena penyanyinya perempuan dan lagunya ditujukan untuk laki-laki yang memang di Sumatera Barat, laki-laki biasa di panggil dengan sebutan uda)*


^kembali ke lirik*


Bungo den siram, kembang tak jadi"


"Ih enak lagunya. Lanjutin"


Akhirnya aku menyanyi sembari membaca lirik. Lagu ini familiar ditelingaku, karena uni Pika -adik papaku sering berkaraoke lagu pop minang waktu masih tinggal bersama papa.


"Udah selesai lagunya. Jadi, kapan bisa jalan?"


"Aku kan cewe, masa aku yang ambil keputusan"


"Nanti aku bilang sekarang, kamu bilang jangan"


"Aku ngikut aja pokonya"


"Ya udah, nanti malam gimana?"


"Oke, mau ketemuan dimana?"


"Aku jemput aja. Biar sekalian izin sama mama kamu"


"Jangan, mama masih belum bisa ketemu orang. Nanti ketemuan langsung ditempat aja. Gimana kalo, ketemunya di cafe deket rumah aku? Biar ga jauh-jauh gitu"


"Ya udah oke. Jam berapa?"


"Jam 7"

__ADS_1


Setelah sepakat akan bertemu nanti malam, kami pun sama-sama mengakhiri telponan karena harus mandi dan lain-lain. Aku teleponan dengannya memang sangat lama. Hampir dua jam, tapi rasanya seperti baru dua menit.


Malam harinya, aku berpamitan pada para pelayan untuk makan diluar. Aku pun memilih mobil yang cocok dengan styleku saat ini. Kupilih mobil mercy agar tak terlalu mencolok. Aku ingin menunjukkan sisi kesederhanaanku pada wanita yang baru akan aku temui ini.


Aku sampai disebuah kafe yang sudah ia kirimkan lokasinya. Sampai disana, aku bingung untuk memilih kursi karena para pengunjung duduk acak-acakan. Aku ingin mencari bangku kosong yang jauh dari pengunjung lain.


Akhirnya aku pun berjalan menuju sisi pojok. Saat masih berjalan, aku melihat seorang gadis yang kukenal sedang duduk sendirian.


"Heh, ngapain sendirian disini?" tanyaku yang memang sudah sangat akrab dengannya.


"Ah elah, ganggu aja" ucapnya.


"Ngapain malam-malam berkeliaran? Udah kaya hantu tau ga!?"


"Kepo" jawabnya.


Aku memilih duduk semeja dengannya sembari mengirim pesan pada kekasihku. Kubilang padanya bahwa aku sudah sampai.


GSP


"Aku juga udah sampe. Kamu dimana?"


Zapata


"Udah di dalem. Kamunya mana?"


GSP


"Aku juga udah di dalem"


Zapata


"Apa buktinya kalo kamu udah disini?"


GSP


"Ayo, barengan kirim bukti biar sama-sama percaya"


Aku pun langsung berfoto selfie dengan tak lupa menunjukkan latar belakang yang khas dari bagian interior cafe tersebut. Bahkan wajahku hanya kumasukkan setengah ke kamera agar lebih di dominasi oleh latar belakangnya.


"Dasar orang tua norak!" ejek wanita didepanku melihat aku yang tengah berselfie.


"Ini mbak makanannya" ucap seorang pelayan yang datang menyajikan makanan pesanannya.


Dia langsung memotret makanan yang baru datang itu dengan kamera ponselnya.


"Sama aja" ejekku balik.


Lalu aku mengirim foto selfieku pada kekasihku. Bersamaan dengan itu, foto bukti darinya juga masuk ke ponselku.


Kuperhatikan foto makanan yang ia kirim. Lama aku menata pikiranku, hingga akhirnya.


"Puput?"


"Bang Ta?"


Kami kaget bersamaan. Aku masih tidak menyangka jika wanita yang sering berceloteh panjang diteleponku adalah adik sahabatku yang ku kenal sebagai perempuan kekanakan.


Lantas bagaimana bisa ternyata selama ini aku mengencaninya. Sedangkan di dunia nyata aku sudah menganggapnya dan juga Sherly sebagai adik kandungku.


Aku sadar, dia sama terkejutnya denganku.


"Put, jadi kamu pacar abang?"


"Jadi, itu abang?" tanyanya balik.


Aku hanya bisa ketawa nafas saat ini. Bukan karena lucu, tapi karena mengakui bahwa betapa bodohnya diriku.


Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Aku jelas canggung pada Puput. Tampaknya, dia pun begitu. Itu karena rasa hormatnya padaku yang memang lebih tua darinya.


Tapi, aku menyayanginya. Aku sudah terlanjur nyaman karena intensnya aku berkomunikasi dengannya, aku tidak pernah merasa kehabisan topik. Selalu ada saja hal-hal yang bisa aku perbincangkan padanya. Bahkan tak jarang, terkadang aku menyelipkan candaan yang berbau-bau me*sum padanya. Karena aku sungguh memang menganggapnya kekasihku. Bukan adik atau keluargaku.


"Put, kenapa diam?" Aku mencoba memancing agar dirinya lebih dulu berbicara tentang hubungan kami. Kalau dariku, tentu saja aku ingin tetap berlanjut.


"Aku ikut Bang Ta aja" jawabnya.


Aku pun menegakkan badanku. Puput memang selalu tidak enakan. Akulah yang dituntut harus menjadi yang paling tegas diantara kami.


"Aku sayang sama kamu. Kita lanjutin aja hubungan ini. Lagipula, tidak ada yang salah dengan hubungan kita. Kamu single, aku juga single. Nanti aku akan minta izin sama Rama karena sudah mengencani adiknya" ucapku.


"Bang Ta, jangan dulu. Kita jalanin aja kaya biasa. Urusan Mas Rama, nanti juga bakal tau sendiri. Soalnya, kalo Bang Ta minta izin ke dia kesannya hubungan kita kaya udah mau ke pelaminan aja" cegahnya.


"Emmh ya udah, kalau mau kamu gitu. Tapi bisa ga, manggil aku jangan Bang Ta lagi. Aku-kamu aja kaya biasa"

__ADS_1


Puput pun tersenyum mendengar ucapanku. Aku mendadak merasa lega. Lega karena aku sudah tahu siapa kekasihku sebenarnya, dan bonusnya aku malah sangat tahu latar belakang keluarganya.


Aku akhirnya ikut memesan makanan dan kami ngobrol banyak di cafe itu. Sekaligus sesekali menertawakan cara kami berkenalan lalu kencan virtual. Norak sekali katanya.


__ADS_2