
Tian kelimpungan menghubungi Puput yang sejak tadi sore sampai malam ini masih tak bisa dihubungi. Di telepon ga di angkat, di chat gak dibalas. Tidak biasanya Puput seperti ini. Puput memang sesekali menelantarkan ponselnya kalau-kalau sedang bersama Sherly. Tapi malam sudah larut begini, tidak mungkin ia sedang bersama Sherly. Dengan banyak pertanyaan yang masih menggantung di kepalanya, Tian pun memilih tidur meski sedang kesal-kesalnya.
Jika Tian melewati malam ini dengan penuh kekesalan yang terpendam, Sherly justru melewatinya dengan sendu. Perempuan yang masih belum move on itu sejak membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, ia malah membuka ponsel. Melihat kolom chat Tian yang tertulis online terus persis seperti saat dulu ia menunggui kabar dari Tian.
Hati kecilnya berkata, kalau Tian kini sudah punya yang baru. Tapi egonya juga berkata, tak mungkin secepat itu. Apalagi dengan adanya masalah distro yang pernah Tian sebutkan, pastilah Tian akan lebih memilih sendiri dulu agar fokusnya tak terpecah belah antara urusan pribadi atau bisnis.
Sherly tiba-tiba saja merindukan masa-masa ia sering chatingan sampai larut malam dengan Tian. Masa-masa Tian masih mengejarnya. Terus-terusan memberi kode pada Sherly tapi hanya ditanggapi sebatas teman. Hingga akhirnya banyolan receh Tian menjadi candu baginya. Dan luluh sampai jadi kekasih, namun tak sampai setengah tahun mereka sudah bubaran.
Padahal Sherly pernah bercanda dengan Puput kalau nanti mereka ingin menikah berdekatan. Puput dengan Zapata, Sherly dengan Tian. Dan hal itu pernah juga ia sampaikan pada Tian, malah Tian tertawa dan mengiyakan ide konyol itu.
Malam itu, Sherly sedang galau-galaunya. Ia tak bisa tidur karena terus-terusan teringat Tian. Ia sempat curhat pada Dinda, tapi belum selesai sudah banyak iklannya. Selalu ada saja gangguan. Bang Nanda kehilangan kaos kaki, Umar kepanasan minta mandi, dan lain sebagainya.
Giliran Sherly chat Puput, terkirim tapi ga di baca-baca. Pikirnya, mungkin Puput sudah tidur.
()()()()))((((
Pukul 6 pagi, ditepi pantai. Deru ombak menyapa alam. Mengawali hari yang cerah dengan sapaan hangat dari sang mentari.
Zapata terbangun dari tidur lelapnya. Terasa pegal tangannya karena menopang kepala Puput semalaman. Puput masih terlelap, dengan pelan Zapata mengubah posisi Puput agar tangannya bisa terbebas dari posisinya.
Zapata berlalu menuju kamar mandi yang letaknya ada di samping dapur. Ia mencuci muka, sikat gigi, dan setelah itu membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Zapata menyiapkan roti tawar lengkap dengan selai nanas dan membuat dua gelas kopi. Lalu ia kembali ke kamar.
"Sayang" ucap Zapata lembut membangunkan Puput dari tidurnya.
Puput menggeliat namun masih belum bangun juga. Akhirnya Zapata membuka gorden sepenuhnya hingga wajah Puput terkena semburat cahaya matahari.
Puput mengerjap kesilauan. Ia mencoba menutupi silaunya dengan bantal. Tapi Zapata buru-buru mencegahnya.
"Sayang, bangun. Jangan molor mulu"
Puput terperanjat saat mendengar suara Zapata. Ia baru ingat kalau semalam mereka tidur berdua.
__ADS_1
Puput melihat kalau pakaiannya masih lengkap. Zapata juga masih dengan pakaian yang semalam ia kenakan.
"Apa? Berharap ada adegan apa?" goda Zapata.
Puput berdecak sebal. Ia bangkit lalu meneguk kopi yang baru saja Zapata letakkan di atas nakas.
"Astaga, jadi gini calon istri aku yang sebenarnya?"
Puput lalu meletakkan kembali gelas itu ke nampan. Dan segera berlalu menuju kamar mandi.
Zapata menunggunya di kamar. Tak berapa lama, Puput kembali dengan wajah yang jauh lebih segar.
"Ayo sarapan"
Keduanya sarapan di balkon kamar. Pemandangan diluar sangatlah indah. Sepanjang mata memandang hanya terhampar pasir putih dan gelombang air yang saling kejar-kejaran.
"Kamu suka?" tanya Zapata.
"Suka banget. Selain tempatnya bagus juga ada sarapan yang langsung siap waktu baru buka mata"
Tapi, sudah jelas kini mereka 'kan sudah baik-baii saja. Ah, ya sudahlah. Zapata mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang beberapa lembar foto Puput yang ia terima dari orang kepercayaannya.
"Yang, kita udah kaya pasangan honeymoon" ujar Puput.
"Yahh, maunya sih gitu. Tapi apalah daya, cinta terhalang Undang-Undang" sungut Zapata dengan tersenyum kecut.
Puput jadi tidak enak karena sudah mengingatkan Zapata tentang hal itu.
"Yank, jangan marah sama Mama aku, ya? Aku minta maaf, karena kita ga bisa nikah secepatnya"
"Udahlah Yank, aku ga marah kok sama Mama kamu. Cuman aku rada nyesel aja karena udah terlalu cepat ngumumin di depan keluarga besar kamu"
"Kenapa nyesel?" tanya Puput dengan raut tidak suka.
__ADS_1
"Ya terlalu cepat aja, sedangkan nikahnya masih lama"
"Atau, kamu ada kepikiran kalo kita bakal gagal nikah?"
"Bukan, bukan gitu. Takutnya mereka ngira kalo dalam waktu dekat ini kita bakal nikah. Tapi nyatanya masih lama. Malah keburu mereka ngira kita ga jadi nikah beneran" ungkap Zapata.
"Biarin aja jadi urusan Mama. Selebihnya tergantung kamu, bertahan menunggu atau ..."
Puput tidak melanjutkan ucapannya.
"Atau apa?" tanya Zapata meminta Puput meneruskan.
Puput tetap diam.
"Jangan kamu kira aku akan menyerah. Aku berkali-kali bilang kalo aku serius sama kamu. Ga ada niat sepintas pun untuk ninggalin kamu atau berpaling dari kamu. Aku yakin, kalau kita sama-sama berjuang jangankan 2 tahun 5 tahun pun aku sanggup. Satu hal lagi, aku memang pernah ngeluh sama kamu tentang lamanya waktu aku menunggu. Tapi itu manusiawi, bukan? Ga ada manusia yang ga mengeluh"
"Iya sayang iya. Zapata, fighting!!!" ucap Puput menyemangati Zapata.
"Aku udah ga kuat nunggu Yank, bisa nikah siri aja ga?"
Puput mendorong tubuh Zapata karena ucapan lelaki itu sebelumnya terdengar layak untuk dipercaya tapi ujungnya malah ngajak untuk nikah siri saja. Zapata tertawa karena Puput terlihat kesal pada dirinya.
"Becanda Yank, aku juga bisa di bantai sama papa mama aku kalo ketahuan maksa anak gadis orang buat nikah siri"
"Makanya, jangan aneh-aneh" timpal Puput.
"Kalo ketahuan, kalo ga ketahuan gak masalah" Lagi-lagi Zapata mengusili Puput. Ia sampai dicubit oleh Puput karena terus-terusan menggodanya.
"Iya maaf sayang, cuma bercanda" Zapata nyerah, Puput pun mengakhiri cubitannya.
"Jadi nanti kita pulang jam berapa? Atau ga usah pulang? Kita selamanya aja disini biar bisa kel*onan terus?" tanya Zapata dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Mulut kamu tuh lama-lama aku sumpel ya. Enak banget ngomong ga disaring dulu. Untung disini ga ada siapa-siapa" ujar Puput murka.
__ADS_1
Sedangkan Zapata tertawa riang karena bisa puas menjahili Puput hari ini.