
"Laporan dari unit 303 Papua, telah terjadi serangan dari kelompok bersenjata Papua yang melukai 10 orang anggota TNI. Terlihat dari wajah mereka penuh luka dan ada beberapa senjata mereka yang direbut paksa oleh kelompok bersenjata tersebut. Kejadian ini terjadi pukul dua dinihari. Sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui kejadian ini. Kepada pemerintah, kami mengharapkan belas kasihnya. Sebab dari kejadian ini terlihat kalau mereka semakin berani dan tidak ada rasa takutnya lagi. Kalau sudah begini, kami disini bisa berharap pada siapa lagi. Mohon dipertimbangkan untuk pemberian hukuman seberat-beratnya pada organisasi bersenjata tersebut" ucap salah seorang rekan TNI yang baik-baik saja.
Setelah rekaman video dibuat, mereka pun menyebarluaskannya di akun instagram khusus yang sudah dibuatkan oleh Sherly. Zapata mulai lega karena bisa cepat pulang.
Setelah disebarluaskannya video tersebut, satu negara jadi heboh. Organisasi bersenjata pun tidak bisa memberi klarifikasi apa-apa dengan tudingan yang mereka tidak sangka-sangka ini. Dari markas besar TNI yang berpusat di Jakarta, mulai mengirim lebih banyak pasukan untuk membantu ke Papua.
"Ta, kalian bisa pulang tapi nanti malam. Gue udah kirim jemputan buat kalian"ucap Rama via panggilan telepon.
Zapata akhirnya pulang pada hari itu juga. Tepat saat maghrib Zapata, Bibin, Nanda, dan 3 orang banci itu pulang ke Jakarta dengan pesawat yang Rama sudah kirimkan khusus untuk menjemput mereka. Tentu saja secara rahasia.
Sampai Jakarta, waktu sudah dinihari. Zapata langsung pulang kerumahnya untuk dapat segera bertemu sang istri. Sampai rumah, Zapata langsung menaiki tangga menuju kamar utama. Nampak sesosok wanita bergelung di balik selimut. Mendadak niat Zapata untuk menjahilinya pun muncul.
"Yank..., Yank...." ucap Zapata mencoba membangunkannya dengan mengguncang tubuh Sherly.
"Hm" sahutnya dengan mata tertutup.
"Yank..., Yank...." panggil Zapata lagi.
Sherly pun membuka matanya sayu, "Apasih?" kesalnya.
"Katanya mau tidur, tidurlah" ucap Zapata polos.
Sherly hendak mengamuk, namun sepersekian detik kemudian menghambur memeluk suaminya. "Kamu udah pulang?" tanyanya.
"Udahlah, kalo belom ya ngapain disini" jawab Zapata dengan tangan yang sudah melepas pengait dibelakang punggung Sherly. Keduanyapun akhirnya melepaskan rindu dengar mengeratkan pagutan satu sama lain.
◇◇◇
Keesokan harinya tentu saja siaran Tv masih membicarakan perihal kejadian Papua kemarin. Tapi Zapata sudah tidak lagi memikirkannya. Ia kembali ke kehidupan normalnya sebagai pria pencari rezeki dalam bidang perbisnisan. Ia ke kantor lalu memencet tombol pin agar bisa masuk keruang kerjanya.
__ADS_1
Zapata masuk keruang kerjanya yang sudah sangat ia rindukan. Tak lama pintu diketuk.
"Siapa?"
"Saya, Bos" terdengar suara Eko dari luar.
"Mau ngapain?"
"Kasih berkas Bos buat ditanda tanganin"
"Lewat bawah pintu"
Akhirnya berlembar-lembar kertas harus di serahkan Eko dengan mendorongnya masuk lewat celah bawah pintu. Eko menggerutu kesal karena tak dibukakan pintu padahal Zapata ada di sisi pintu bagian dalam.
"Bos, buka aja kenapa sih pintunya"
"Nah itu, saya memang sengaja menghindar biar kamu ga liat muka saya jerawatan"
"Saya gak cocok tinggal di sana, kulit saya merah-merah terus jerawatan pula" ungkap Zapata.
"Mandinya ga dua kali sehari, kali" ledek Eko.
"Disana tuh panas, saya malah lebih dari dua kali mandinya" ucap Zapata.
Eko geleng-geleng kepala di luar pintu. Bos manjanya lagi kena tulah, pikirnya.
Sepulang kerja, Zapata menyempatkan mampir kerumah orang tuanya. Ia berbincang dengan sang mama yang mengatakan gak sabar mau menimang cucu.
"Iya Ma, kita produksi terus tapi hasilnya belom dapat aja" jawab Zapata.
__ADS_1
"Udah minum obat subur, belom?"
"Ma, aku sama Sherly sehat wal'afiat kok. Belum terlalu butuh buat konsumsi obat-obatan kaya gitu"
"Itukan menurut kamu. Saran mama, coba aja. Mana tau berhasil. Nih, udah mama beliin lengkap sama vitaminnya".
Zapata mau tidak mau menerima obat pemberian mamanya itu. Kira-kira, kalau dikasih ke Sherly, Sherlynya bakal tersinggung gak ya? Zapata tidak mau memaksa jikalau Sherly memang belum siap hamil. Lagipula ia juga sudah bosan harus berantem karena pembahasan tentang anak. Meski berulang kali Zapata sudah mengatakan pada Sherly jika dirinya sudah siap bahkan sangat amat siap untuk memiliki keturunan. Tapi balik lagi ke yang punya rahim, kalau sudah begitu Zapata bisa apa.
Saat pulang kerumahnya, Zapata buru-buru menyembunyikan obat itu. Ia tidak tega jika harus membuangnya, apalagi itu pemberian dari mamanya sendiri. Namun, untuk memberikannya pada Sherly ia sama sekali tidak berniat seperti itu. Jadi lebih baik di simpan ditempat yang aman saja, pikirnya.
Zapata meletakkannya di sebuah laci penyimpanan jam tangan miliknya. Karena ia tahu Sherly paling tidak pernah membuka-buka laci tersebut.
Sepulang Sherly dari kampusnya, Zapata menyambut sang istri dengan senyum merekah. Sherly merangkul lengannya dan mengajak untuk nonton bioskop nanti malam. Zapata menyetujuinya sebab apa sih yang nggak buat istri tercintanya.
Sehabis makan malam, Zapata dan Sherly berangkat menuju bioskop. Keduanya memilih nonton sebuah film bergenre comedy-romantic dengan judul Friend Zone. Film asal Thailand itu dipilih Sherly karena ia memang penyuka film atau drama dari negara tersebut.
Sepulang dari nonton bioskop, keduanya menyempatkan diri membeli minuman untuk menemani perjalanan pulang. Zapata dengan kopi kesukaannya yaitu americano sedangkan Sherly dengan minuman bubble tea favoritnya.
Hampir jam 11 malam mereka sampai rumah. Zapata dan Sherly kemudian membersihkan diri lalu sholat isya sebelum sama-sama naik ke tempat tidur.
"Yank, krim malam kamu yang mana? Jerawat aku menyut-menyut banget ini" ucap Zapata mengeluhkan jerawat satu-satunya itu.
"Kan ada tulisannya. Baca aja"
Zapata pun memeriksa satu demi satu perawatan kulit milik istrinya. Hingga akhirnya ketemu dan ia pun memakaikannya dengan sangat banyak.
Sudah hampir tengah malam, keduanya masih belum tertidur. Zapata pun minta izin keruang kerjanya untuk memeriksa beberapa kerjaan yang memang belum selesai dan ia bawa pulang.
Sesampainya diruang kerja, ia meletakkan ponsel dengan keadaan terbalik dan mulai membuka laptop serta lembar demi lembar kertas yang berisi data-data rahasia perusahaan. Tepat pukul tengah malam dan saat sedang fokusnya bekerja, ponsel Zapata berbunyi dengan nada dering yang berbeda dari biasanya. Iapun membalik ponselnya dan tampaklah alarm pengingat yang menunjukkan tanggal hari ini dengan bertuliskan "Anniversary".
__ADS_1
Zapata mematikan dan menon-aktifkan alarm pengingat itu. Ia baru ingat jika dulu memang sempat memasang pengingat agar hari jadinya dengan Puput tidak terlupakan. Namun, setelah itu ia lupa menghapus alarm pengingat tersebut saat sudah putus.
Karena alarm tersebut, mendadak Zapata seolah ingin tahu kabar tentang Puput. Ia membuka aplikasi instagramnya lalu mengetikkan nama Puput di kolom pencarian. Zapata melihat satu demi satu postingan Puput. Karena termasuk orang yang gaptek (gagap teknologi) perihal sosial media, Zapata tidak menyadari kalau jemarinya sudah meninggalkan jejak love pada salah satu unggahan Puput tersebut.