Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Salah


__ADS_3

POV Sherly


Ini sudah dua hari setelah kami berkaraoke. Aku mendapat kabar dari Bang Bibin kalau Bang Ta sedang jatuh sakit. Bang Bibin semalam masih nginap disana sambil jagain Bang Ta, tapi nanti malam dia tidak bisa. Akhirnya Bang Bibin minta aku datang kesana untuk jagain Bang Ta. Dan aku setuju, tapi tidak sampai menginap.


Sepulang kuliah aku langsung berbelanja apa-apa saja yang pantas untuk di berikan ke orang yang sedang sakit. Aku beli susu segar, terus roti tawar, selai coklat, buah-buahan dan cemilan untukku.


Kufoto belanjaanku lalu kukirim pada Bang Ta.


Aku


"Jangan sembuh dulu, aku udah belanja nih"


Dan tak lama kemudian Bang Ta mengirimkan balasan pesanku.


Bang Ta


"Udah sekarat begini baru mau jenguk"


Aku


"Jangan pegang hp, istirahat aja bang Ta"


Dia pun tak membalas pesanku lagi.


Sehabis maghrib aku langsung pergi kerumah Bang Ta. Seisi rumahnya tampak tenang. ART yang menyambutku juga langsung mengantarkanku ke kamarnya Bang Ta. Saat sudah dilantai dua, Bibinya langsung pamit ke belakang mau nyiapin minum.


"Assalamu'alaikum" salamku dari depan pintu kamar.


"Masuk Sher! Wa'alaikumsalam" sahutnya dari dalam kamar.


Aku membuka pintu. Bang Ta sedang duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada dua buah bantal yang ia susun. Aku menghampirinya, duduk di samping tempat tidurnya dan meletakkan belanjaanku di atas nakas samping tempat tidur.


"Katanya sekarat" ucapku.


"Habis mandi tadi udah agak mendingan, Sher"


Aku meletakkan tanganku di keningnya.


"Masih panas, Bang"


"Iya, tapi ga keringatan kaya tadi lagi"


"Nih aku bawain sesajen. Pat Mbuh, ya!"


"Ga usah repot-repot Sher, ngapain pake bawa-bawa ginian segala. Abang cuma demam biasa"


Bibi yang mau bikinin aku minum tadi datang, ia membawakan segelas teh hangat untukku dan Bang Ta.


"Bi, minta gelas satu ya. Gelas kosong aja" pintaku pada Bibi.


"Baik Mba" Ia pun langsung pergi.


Aku mengupasi jeruk untuk Bang Ta. Aku kasihan pada Bang Ta, baru dua hari sakit tapi sudah kehilangan banyak berat badannya.


"Bang, pasti ga mau makan ya? Soalnya aku ga pernah liat siku Bang Ta kaya gini. Sekarang tulangnya udah keliatan jelas. Jangan kurus-kurus Bang, jadi kurang sexy liatnya"


"Kamu tuh kenapa sih Sher, namanya orang sakit mana ada badannya makin bugar. Ya pasti kurusanlah. Gimana juga mau makan, semua yang masuk ke mulut rasanya pahit. Jadi ga enak" ucap Bang Ta.

__ADS_1


Dan bibi akhirnya datang bawain gelas kosong yang aku minta. Aku pun menuangkan susu segar yang aku bawa tadi ke dalam gelas.


"Nih bang, di minum. Biar cepat sembuh" Aku mengulurkan segelas susu pada Bang Ta.


Ia menerimanya tapi dengan wajah terpaksa.


"Buruan diminum" paksaku.


Ia pun menenggak susu itu sampai setengah gelas. "Udah Sher, hambar rasanya. Ga enak" Ia mengembalikan gelas itu ke tanganku.


Tanpa pikir panjang aku pun menghabiskan sisa susu itu.


"Kok mau Sher minum di gelas bekas Abang. Emang ga jijik?" tanyanya.


"Jijik? Apa itu jijik?" Aku pun tersenyum padanya.


"Bang, kita 'kan udah sering kemana-mana bareng. Udah deketttt banget, kaya udah ga ada dinding pembatas di antara kita. Terus kenapa aku harus jijik minum di gelas bekas abang?".


"Sher!" Bang Ta menggeleng padaku, namun aku tak mengerti. Lalu ia melanjutkan ucapannya, "Abang bisa baper kalo kamu tiba-tiba dewasa kaya gini".


Kami berdua terdiam, hanya dentingan jam dinding yang terdengar. Ada hal yang baru saja aku sadari. Aku dan Bang Ta adalah dua orang yang sudah cukup umur dan berada di satu ruangan. Ini salah! Ini jelas-jelas salah. Mau sedekat apapun kita, berada di kamar cuma berdua tetap tak bisa di benarkan.


"Bang, kita keluar aja yuk" ajakku dengan air muka yang tak mampu aku tutupi lagi darinya kalau aku sedang tak nyaman saat ini.


"Ada apa Sher? Kenapa tiba-tiba ngajak keluar?"


"Ya masa kita di kamar. Apa kata orang-orang nantinya kalo kita cuma berdua aja di kamar ini" ujarku.


Bang Ta pun mengerti dengan maksudku. Ia hendak berdiri namun tiba-tiba saja ia meringis dan memegang keningnya. Aku segera membantunya agar tidak sampai terkulai lemas jatuh ke lantai.


"Bang, Abang ga papa? Mana yang sakit?" panikku dan membaringkannya di tempat tidur.


Aku memijiti keningnya. Dan Bang Ta hanya memejamkan matanya sembari menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Belum pernah aku melihat Bang Ta serapuh ini. Biasanya dia ceria, bahagia, dan tampilannya keren terus, tapi kali ini gak ada keren-kerennya.


Jemariku yang masih setia memijat-mijat kening Bang Ta mulai merasakan sensasi panas. Demamnya semakin tinggi, suhu tubuh Bang Ta terasa makin panas. Aku bergegas ke bawah mengambil sebuah mangkuk untuk mengompresi Bang Ta.


"Sher, makasih banget ya. Abang bukan ga mau menghargai kamu, tapi kalo Abang buka mata pusingnya makin parah"


"Udah bang diam aja.Ga usah ngerasa ga enakan gitu sama aku. Aku paham kok kondisi Bang Ta. Biar malam ini aku rawat Bang Ta ya, tapi aku ga bisa nginep, kira-kira jam 10 nanti aku pulang"


"Belum apa-apa udah ngomongin pulang. Pastiin dulu Abang baik-baik aja baru boleh pulang" sahutnya masih dengan mata terpejam.


"Di kasih hati minta jantung. Ini ngomong-ngomong, udah makan apa belum?"


"Udah Sher, habis maghrib udah di kasih bubur sama bibi"


"Abang ga kasih tau tante sama oom kalo abang lagi sakit?"


"Sher, abang udah tua. Demam doang ngapain ngadu-ngadu"


"Bukan gitu. Tapi Bang, bisa aja ini..." aku mulai membayangkan seperti di sinetron-sinetron yang sering mama tonton.


"Mulai deh. Kamu kira Abang bakal meninggal, gitu?"


"Becanda Bang" jawabku sambil nyengir.


"Dasar korban sinetron" ujarnya dengan menarik sedikit helaian rambutku.

__ADS_1


"Giliran bully aku langsung semangat" sungutku.


Dia cuma nyengir.


"Abang udah sembuh Sher, kayanya emang harus sering-sering bully kamu biar sehat terus"


"Nggak, itu pasti karna habis minum susu aku".


"Maksudnya susu pemberian aku" ralatku cepat.


Kami berdua canggung lagi.


"Sher"


"Iya Bang" sahutku.


"Sini" Ia menarikku. Menarikku sampai aku terjatuh dan terbaring tepat disampingnya. Ia memelukku. Rasanya panas, aku bisa merasakan panas tubuh Bang Ta di tubuhku.


Aku hanya bisa diam, tubuhku kaku seperti tak bisa digerakkan.


"Dingin Sher, peluk Abang" ucapnya dengan pelan.


Aku menggapai selimut yang terbentang rapi di ujung kaki dengan kakiku. Aku menyelimutinya, namun ia masih kedinginan sehingga akupun menuruti keinginannya. Kurapikan rambutku agar tak mengganggunya lalu kupeluk ia erat. Kurasakan hembusan nafasnya di ceruk leherku yang terasa sama panasnya dengan tubuhnya. Cukup lama kami berpelukan lalu kemudian ia mendongakkan kepala sehingga wajah itu bisa menatapku dan secara tak sengaja b*bir kami bertemu.


Hening


Bibir kami menempel, tidak terlalu lekat. Namun tak ada satupun dari kami yang bergerak untuk menjauh. Sepersekian detik kini nyatanya, justru malah semakin menempel lekat.


Bang Ta mencumb*ku. Ia menahan kepalaku dengan tangannya. Aku tak membuka b*birku sedikitpun. Namun ia terus saja memainkan lidahnya, hingga ia mendorong paksa sampai aku tak kuasa lagi dan malah memberi ruang untuk dirinya leluasa menci*umiku lebih dalam sampai lidahnya bisa menyentuh setiap inci dalam rongga mul*tku.


Air mataku menetes. Tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari orang yang paling aku percayai.


Sampai akhirnya ia berhenti dan menyadari kesalahannya setelah melihat sendiri bagaimana air mataku mengalir di pipi.


"Sher, A... Abang minta maaf Sher" ucapnya.


Aku diam. Aku masih terbaring disana. Aku tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kataku. Hanya air mata ini saja yang mampu mewakili rasa kecewaku padanya.


"Sher, abang tidak bermaksud... Sher, maafin abang"


Aku memejamkan mataku. Aku tak mau melihatnya.


Bang Ta melepas selimutnya. Ia bangkit dan mendudukkanku. Ia memelukku dengan terus mengucapkan kata maaf ditelingaku.


Sedangkan tubuh ini, bagai raga tanpa nyawa. Di peluk Bang Ta pun ia tak berdaya lagi untuk menolak. Aku kehilangan tenaga sekaligus kehilangan rasa hormatku padanya.


"Tolong maafin Abang Sher, maafin Abang. Sherly maafin Abang" terus-menerus hanya itu kata yang keluar dari mulut Bang Ta. Sampai aku bosan mendengarnya.


Aku masih tak merespon apa-apa. Ia menjauhkan tubuh kami. Aku bisa melihat kalau ia juga menangis. Tapi untuk apa ia menangis?


"Aku mau pulang" ucapku pelan.


"Sher, maafin Abang. Abang tau Abang salah Sher. Sumpah Abang ga sengaja Sher. Maafin abang Sher" Bang Ta memelukku lagi. Kali ini, air mataku sudah mengering. Hatiku beku, aku tidak iba melihatnya mengemis maaf padaku.


Aku memberontak, aku mendorongnya sampai ia terhuyung ke belakang. Aku dengan cepat turun dari tempat tidur dan segera pergi dari sana. Aku tidak mau melihatnya lagi. Aku tidak mau berhubungan apa-apa dengannya lagi. Aku kecewa padanya. Aku tidak butuh kata maaf yang keluar dari mulutnya. Aku hanya butuh dia pergi sejauh-jauhnya dariku.


Aku melajukan mobil dengan cepat. Tidak akan pernah aku kembali ke tempat ini lagi. Belum pernah aku merasa sebodoh ini. Aku memang jauh lebih muda darinya, tapi tidak sepantasnya dia melakukan ini padaku. Dia memanfaatkanku. Dia mengambil keuntungan dariku. Dia memanfaatkan situasi dengan sangat baik. Berpura-pura sakit agar niat busuknya terlaksana dengan sempurna.

__ADS_1


"AKU BENCI ZAPATA"


POV Sherly end


__ADS_2