Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Temu Kangen


__ADS_3

"Lo tau kenapa gue berpaling dari Tian? Karena Tian terlalu baik. Gue lebih suka cowo yang aktif gitu, inisiatif nanya-nanya atau ngajakin keluar. Sedangkan sama Tian semuanya lempeng, ga ada pasang-surutnya" ucap Mia karena Sherly baru saja selesai bercerita tentang kisahnya dengan Tian termasuk kejadian saat memergoki Tian kala itu. Hanya saja, Sherly masih baik menutupi aib Puput dengan menggantinya menjadi nama orang lain.


"Jadi, maksud lo bisa jadi Tian begitu karena gue terlalu pasif, membosankan, ga ada tantangannya?"


"Iya, apalagi mungkin cewek itu lebih menggoda atau menggoda Tian terus. Ya lama-lama runtuhlah pertahanan si Tian. Jangankan Tian, laki-laki. Gue yang perempuan aja mudah tergoda" ujar Mia lagi.


Sherly kemudian berpikir, bahwa benar apa yang dikatakan Mia. Mungkin saja Tian memang bosan padanya karena berhubungan dengan dirinya tidak bisa bebas keluar kesana-kemari. Sherly masih di pantau habis-habisan oleh kedua orangtuanya juga abang dan kakaknya.


Meski begitu, ia sangat bersyukur karena dirinya masih "terjaga" sampai detik ini pasti berkat penjagaan ketat dari orang-orang yang dicintainya. Perihal Puput, Sherly tak mau peduli lagi. Terserah apapun yang mau perempuan itu perbuat, Sherly tidak mau ikut campur. Pun juga dengan hubungan Puput-Zapata. Biarkan Zapata tahu sendiri. Kecuali kalau memang ada sesuatu yang membuat Sherly sangat wajib untuk mengatakannya, barulah ia akan menceritakan kejadian sebenarnya.


▪▪▪


POV Zapata


Sebagai acara syukuran atas studio dance Puput. Kami berencana mengundang makan malam bersama di sebuah restoran yang sudah aku booking dua hari sebelum acara.


Dan malam ini, kami akan merayakannya dengan membawa pasangan masing-masing. Aku mengundang Nanda-Dinda, Aidil-Ayu yang merupakan sahabat karibku juga yang resmi sudah jadi warga Jogja tapi kebetulan saat ini mereka sedang berada di Jakarta, lalu ada Bibin juga, dan tentu pula ada Rama-Feza, calon kakak iparku. Dan masih ada satu orang lagi yang kami undang, namun ia berhalangan hadir dengan alasan sedang menyelesaikan tugas kuliah. Orang tersebut adalah Sherly, adiknya Nanda yang sudah kuanggap sebagai adikku juga.


Semua sudah berkumpul di meja yang telah kami pesan. Aku dan Puput pun menyampaikan maksud dan tujuan kami mengundang mereka kesini. Mereka semua turut senang dengan pencapaian Puput yang hendak membuka sebuah studio tari. Rama dan Feza menatap bangga pada adik mereka itu. Aku tentu juga ikut bangga.


Sambil berbincang, makanan satu persatu disajikan. Mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutupnya.


Perayaan kecil-kecilan itu semakin mempererat hubungan persaudaraan diantara kami. Sudah lama kami tidak berkumpul dengan formasi lengkap seperti ini. Kami berfoto bersama untuk mendokumentasikan kebersamaan kami yang langka ini. Dan aku langsung memajangnya di status Whatsapp.


Saat acara makan malam usai, kami pun satu persatu pulang meninggalkan restoran. Puput dan aku berpisah di restoran. Karena aku masih harus ke kantor membantu Eko memeriksa berkas yang belum aku selesaikan. Sedangkan Puput pulang bersama Rama dan Feza.


Sampai di kantor, aku membalas beberapa pesan dari kolegaku yang memberi respon akan foto yang aku posting. Aku juga memeriksa siapa-siapa saja yang sudah melihat status tersebut.


Kulihat ada nama Sherly dalam daftar.


Tumben banget ga di komentarin.


Aku heran begitu karena Sherly termasuk orang yang paling sering mengomentari apa saja yang aku posting. Tidak pernah absen meledek aku yang terkadang berpose kaku atau senyum setengah hati.


Sembari memeriksa berkas, aku mengiriminya pesan.


Zapata


"Kok ga komen? Biasa juga jadi komentator dadakan"


Setelah mengirim pesan, aku kembali pada layar laptopku. Cukup lama Sherly membalasnya.

__ADS_1


Sherly


"Lagi sibuk"


Zapata


"Sibuk apa?"


Sherly


"Cari jodoh"


Zapata


"😂


Sher, abang kangen sama kamu"


Aku berkata demikian karena memang sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku merasa, Sherly sudah terlalu susah untuk ditemui. Selalu saja ada alasan sibuk nugas atau apalah.


Sherly


"Aku juga😔"


Zapata


"Besok ke kantor abang ya, katanya kangen"


Balasku berbasa-basi.


Sherly


"InshaAllah"


Bingung mau balas apalagi, aku pun hanya membacanya saja.


Jam 12 malam aku sampai dirumah. Kondisi kamarku gelap, wangi parfum yang kupakai hari ini mendominasi seluruh sudut kamarku. Lampu utama dikamar itu aku nyalakan, lalu tas kerja kuletakkan di tempat biasa. Aku bergegas membersihkan diri.


▪▪▪


Keesokan harinya, 10 menit sebelum jam makan siang Sherly muncul diruanganku. Ia menyalamiku karena memang sudah selama itu kami tak bertemu. Terakhir bertemu saat aku menjemput Puput di kampus, tapi kami tak sempat saling bicara kala itu.

__ADS_1


"Masih ada jam kuliah?" tanyaku.


Karena ia dan Puput tak sekelas lagi seperti dulu. Entah mengapa Sherly memilih kelas yang berbeda dengan Puput. Padahal mereka sebelumnya susah untuk dipisahkan.


"Udah ga ada" ujarnya sembari memainkan jam pasir yang berada di atas meja kerjaku.


Aku membiarkannya duduk di hadapanku sedangkan aku masih membaca berkas yang hendak aku tandatangani. Tak berapa lama, masuk jam istirahat.


"Udah makan siang belom?" tanyaku.


"Belom" jawabnya singkat.


"Kamu lagi kepengen makan apa? Biar abang pesenin"


"Aku mau sushi sama minuman boba"


Akhirnya aku pun memenuhi keinginannya. Kubeli dalam porsi cukup banyak agar Eko bisa ikut bergabung dengan kami.


Dan kami pun makan bertiga di ruanganku. Baru 30 menit, Sherly terlihat sudah akrab dengan Eko, mungkin karena pada dasarnya Eko adalah seorang playboy membuatnya mudah mendekati siapapun. Karena skill komunikasinya sudah terasah tajam dengan ratusan pengalamannya.


Ditengah-tengah percakapan, tiba-tiba Sherly berkata, "Bang, kok gak pernah gila lagi?"


Eko tertawa tertahan. Aku memandanginya sinis.


Aku paham maksud gila dalam ucapan Sherly ini. Karena biasanya aku menyebut nama orang lain dengan nama yang aku ciptakan sendiri. Dan terkadang aku suka mengeluarkan istilah-istilah dengan bahasaku sendiri.


"Bentar lagi abang membina rumah tangga. Masa harus terlihat kaya anak muda terus!?" ucapku.


Sherly mencebikkan bibirnya.


"Anak muda?" ulangnya.


Aku pun akhirnya menceritakan perihal mimpiku semalam. Karena bisa jadi, mimpi itu yang membuat jiwa gilaku hilang entah kemana.


"Jadi, abang tuh kaya lagi study tour gitu ke suatu kota atau negara. Ga taulah, pokonya abang sendirian terus dibawahnya tuh ada air ngalir. Bagus bangetlah pokonya. Abang jalan terus, terus ada pulau. Pengen banget nyebrangin pulau itu, tapi ga ada jembatan. Satu-satunya cara ya harus nyebur"


"Bang, jangan di lanjut dulu. Aku mau kasih tau, biasanya, kalo orang mimpi kaya gitu tanda-tanda mau meninggal"


Eko tertawa puas. Aku tahu Sherly sedang mengerjaiku. Aku tak ambil pusing, langsung kulanjutkan lagi ceritanya.


"Abang udah niat pengen nyebur, tapi ga jadi"

__ADS_1


Sherly menginterupsi lagi. "Nah, berarti ga jadi mati bang"


"Iya itu Pak, saya baru ingat kalo memang ada mitos yang kaya gitu" sambut Eko mengerjaiku.


__ADS_2