
Hari demi hari berlalu, Sherly tak kunjung hamil meski sudah coba berbagai cara. Namun, hanya satu cara saja yang belum ia tempuh, yakni memeriksakan diri ke dokter. Itu adalah hal yang ia sangat takuti, takut-takut mendapati kenyataan kalau dirinya ternyata tidak bisa memiliki keturunan.
Sherly berpikir keras sampai-sampai ia tidak konsentrasi pada perkuliahannya. Ia bahkan sampai kena tegur beberapa kali oleh dosennya yang berujung Sherly diminta keluar dari ruang kelasnya. Setelah ia diusir dari kelas, Sherly diam-diam kerumah sakit tanpa memberitahu sang suami.
◇◇◇
"Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata memang ada penyebab mengapa Bu Sherly tidak kunjung hamil. Berdasarkan hasil Rontgen dan CT SCAN, ditemukan adanya kelainan bawaan lahir pada organ reproduksi Bu Sherly" Sang dokter tersebut menjeda ucapannya. Ia sedikit iba melihat ibu muda dihadapannya yang nampak khawatir akan penjelasannya lebih lanjut. Namun, mau tak mau dokter itu harus menjelaskan secara rinci sesuai dengan hasil pemeriksaannya.
"Kelainan ini disebut Septate Uterus, kondisi dimana ada sekat di dalam rongga rahim. Wanita yang mengalami kelainan ini biasanya akan sulit hamil atau akan mengalami keguguran berulang. Tapi Bu Sherly jangan khawatir, sebab kondisi ini bisa ditangani melalui prosedur operasi"
Mendengar kata operasi, jelas menciut nyali Sherly. Tapi karena besarnya keinginan untuk memiliki momongan, ia harus berani mengambil keputusan.
"Jadi, kapan saya bisa di operasi, Dok?"
"Bu sherly bisa melakukan registrasi terlebih dahulu dan selanjutnya baru kita bisa atur waktu. Saya akan beri surat rujukannya setelah registrasi di depan"
Dengan jantung yang berdebar, Sherly mengikuti prosedur satu demi satu sesuai perintah dokter spesialis kandungan tadi. Beberapa hari bahkan ia tak masuk kuliah tanpa sepengetahuan Zapata karena terlalu sibuk bolak-balik kerumah sakit. Sampai tiba saatnya jadwal operasi Sherly keluar, barulah ia memberitahukan pada suaminya.
"Bang Ta" ucap Sherly lemah melalui telepon.
"Iya sayang, kenapa?"
"Lagi dimana?"
"Kantor, tumben nanya-nanya"
"Aku kesana ya"
"Yank, kamu baik-baik aja kan? Kenapa suaranya kaya lesu gini?"
"Nanti aku cerita" jawab Sherly lemah.
Setelah panggilan ia matikan, Sherly langsung meminta sang sopir mengantarkannya ke kantor suaminya.
Setelah sampai, ia bergegas turun. Sopir pun langsung pergi setelah mengantarkan Sherly. Sesampainya diruangan Zapata. Sherly dengan cepat berjalan sampai ia menubruk dada bidang suaminya dan menumpahkan tangisannya disana.
Zapata membiarkan sebentar, tapi kemudian ia melerai pelukannya.
"Sherly, ini ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba bersikap aneh?" tanya Zapata.
__ADS_1
"Aku operasi besok!"
"Operasi? Operasi apa maksud kamu?"
"Aku bermasalah. Selama ini kita ga bisa punya keturunan karena aku yang bermasalah. Aku punya kelainan, aku berobat diam-diam selama ini biar aku ga dikasihanin sama kamu"
Zapata mencerna kalimat istrinya baik-baik.
"Oke. Kamu punya kelainan. Dan besok harus operasi, begitu?"
"Iya"
"Kenapa harus disembunyikan dari aku? Kamu takut aku ninggalin kamu?"
"Bukan. Aku percaya kamu, kamu gak akan ninggalin aku. Tapi aku cuma gak mau dikasihanin. Aku gak mau kamu ikut meratapi nasib aku. Aku percaya, habis operasi ini kita pasti bisa punya keturunan. Tapi aku takut"
Zapata menarik istrinya dan memeluknya erat. Seakan ia memberikan kekuatan besar untuk istrinya menghadapi rasa ketakutannya.
"Kamu jangan takut, aku akan selalu ada di samping kamu. Operasi itu gak sakit, cuma kaya digigit semut aja"
"Aku percaya sama kamu, tapi gak segininya juga bohongin aku" sambil jarinya mencubit punggung sang suami sampai Zapata meringis. "Bener, rasanya kaya digigit semut. Tapi digigit semut sekabupaten" sambungnya lagi.
"Jadi, operasinya besok jam berapa?" tanya Zapata sembari mengajak istrinya duduk di sofa.
"Iya, semangat yaa" ujar Zapata menyemangati.
"Hmmmm" jawab Sherly sembari menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Disemangatin kok malah lesu?"
"Kamu gak tau gimana perasaan aku waktu aku tau kalo aku bermasalah. Padahal aku awalnya yakin banget kalo aku ga kenapa-napa. Justru aku malah sempat ngira, kalo kamu yang bermasalah. Soalnya kamu sibuk kerja, sebelumnya juga kamu sering begadang, sering minum kopi. Tapi aku bisa terima kamu apa adanya sekalipun kamu bermasalah. Tapi ternyata, aku salah. Aku yang semula menempatkan diri sebagai orang yang paling mampu buat memaklumi, ternyata justru aku yang butuh dimaklumi. Makasih ya Bang Ta, selalu ada buat aku dari dulu sejak kita masih sibuk jagain jodoh orang sampe sekarang"
"Mmm? Maksudnya sampe sekarang kita masih jagain jodoh orang?" tanya Zapata bodoh.
"Ih bukan. Aaah, kamu bikin aku jadi emosi"
Zapata tertawa, "Nggak sayang, aku tahu kok maksudnya"
Hening. Zapata terus saja menatap istrinya yang tampak khawatir karena besok akan di operasi.
__ADS_1
"Jangan liatin aku kaya gitu, aku jadi makin takut kalo kamu natap aku prihatin" tegur Sherly.
"Bukan prihatin, tapi sejujurnya aku juga takut. Kan gak semua operasi berhasil, ada juga yang gagal"
"Aaaa, kamu jangan nakut-nakutin aku laah. Tadi baik, kasih semangat. Sekarang malah ngomong yang nggak-nggak"
"Tampar aku Yank!" titah Zapata.
"Ngapain?"
"Katanya, kalo orang jahat matinya payah"
"Jadi aku harus dzolimin kamu, gitu? Biar operasi aku lancar"
"Nah!" Zapata tampak ceria karena istrinya paham akan maksud perkataannya. Sampai menjentikkan jari di depan wajah istrinya.
"Mitos itu" sanggah Sherly.
"Coba aja dulu, sekalian kita pembuktian"
"Kalo aku..." ucap Sherly terpotong, yang pasti Zapata tahu maksud dirinya.
"Nah, baru bisa kita sebut mitos" sambut Zapata cepat.
"Kamu kayanya gak ada sedih-sedihnya kalo aku mati"
"Sssttt" Zapata mengusap wajah istrinya gemas. "Jangan ngomong sembarangan, kebiasan banget punya mulut gak di rem"
"Padahal dia juga gitu" gumam Sherly yang juga terdengar ditelinga Zapata.
"Kalo kamu pergi, aku ikut. Aku ga bisa jauh-jauh dari kamu. Kamu jangan bikin aku khawatir, ini cuma operasi bukan apa-apa. Kamu pasti bisa. Kamu pasti baik-baik aja. Gak akan terjadi apa-apa. Pokonya setelah operasi kamu bakal kembali kerumah dan kita rayain rumah baru kita"
"Rumah baru?" tanya Sherly dengan kening berkerut.
"Iya, aku udah siapin rumah baru buat kita berdua di Bali. Kamu suka 'kan?"
Sherly tidak menjawab.
"Harusnya mau aku rahasiain sampe kamu ulang tahun. Tapi gapapa kalo bocor duluan. Rumahnya dua lantai. Balkonnya luas. Pemandangannya juga bagus. Ada mushallanya, ada tempat gymnya, ada kolam renangnya, semuanya sesuai rumah impian kamu banget. Dindingnya kaca, tapi gak semuanya" Zapata menceritakan bagaimana rumah yang ia bangun tanpa sepengetahuan Sherly itu.
__ADS_1
"Aku suka" jawab Sherly singkat mendengar penuturan suaminya yang begitu bersemangat memberi tahu tentang calon rumah baru mereka.
"Makanya, kamu harus semangat yaa... Jangan takut lagi, rasa takut bisa bikin tensi kamu naik. Aku besok gak ngantor, aku bakal temenin dan tungguin kamu di rumah sakit"