
Malam minggu biasanya selalu jadi malamnya para anak muda. Tidak hanya di ibukota, tapi hampir diseluruh Indonesia. Malam minggu menjadi malam yang bebas untuk dihabiskan dengan teman atau pasangan. Karena tidak ada kewajiban untuk bangun pagi dikeesokan hari.
Sherly duduk di depan meja riasnya. Mengoreksi kembali dandanannya malam ini. Ia akan pergi malam mingguan bersama Tian. Entah apa yang menyebabkan lelaki itu tiba-tiba saja malam ini ngajak jalan. Sherly memilih satu tas kecil lalu menuju ke bawah.
Ia tahu bahwa sebentar lagi pasti Tian akan segera sampai. Ternyata benar, Sherly membuka pintu utama dan bertepatan pula dengan mobil Tian yang masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Sherly menyambut Tian dengan senyum manisnya. Lalu segera menghampiri mobil Tian.
"Kok langsung masuk? Apa kita ga izin dulu sama Mama Papa kamu?"
"Mama Papa lagi pergi kerumah Umar. Terus tadi aku udah kasih tau kok kalo kita mau jalan"
"Oh, ya udah kalo gitu"
Tian pun melajukan mobil menuju sebuah mall, karena rencananya ia dan Sherly akan menonton film di bioskop dan setelah itu jalan-jalan sesuai kemauan Sherly. Sherly dengan manja menggelayut di lengan Tian. Tian sebenarnya sudah berkali-kali menepis akan tetapi Sherly juga tak bisa dibilangin. Hingga Tian pun mengalah dan tak mempermasalahkan lagi.
Mereka nonton hampir 2 jam lalu keluar dari mall dan berkeliling sekalian cari makan. Sherly mau makan apapun dan dimanapun, Tian turuti. Sherly jadi sadar, betapa meruginya Mia yang melepaskan lelaki sepenurut ini. Tapi, kalau tidak dilepaskan Mia itu artinya Sherly juga tidak akan mendapatkannya.
Mereka selesai makan, Tian ngajak langsung pulang. Tapi diperjalanan, tiba-tiba Tian menghentikan mobilnya.
Sherly menatap Tian seolah bertanya ada apa?
"Kamu bahagia pacaran sama aku?"
"Iya, aku bahagia. Kenapa Yank?"
"Yakin?"
"Yakin"
"Bukannya aku selalu bikin kamu marah-marah ,ya? Karena cuek terus, suka ngilang, sering pergi ga bilang-bilang"
"Iya sih, tapi kan setelah itu kamu bisa bikin aku seneng lagi. Emang ada apa sih? Kok tiba-tiba kamu nanya gini?"
"Kamu bohong Sher, kamu tuh ga bahagia sama aku. Kamu tuh udah sering protes tentang sikap aku tapi aku ga sepenuhnya berubah. Masih sering ngulangin kesalahan yang sama"
"Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu ga pernah manggil aku sayang lagi. Kamu tuh udah terlalu banyak berubah. Kalo mau aku bahagia, ya jangan berubah-berubah dong. Harusnya kamu tuh sadar apa yang jadi kesalahan kamu, masa harus sampai mulut aku berbusa buat ngingetin kamu terus"
"Sekarang udah jelas kan? Kamu ga bahagia sama aku"
"Tian, ini ada apa sih? Kamu jangan bikin aku bingung dengan pertanyaan kamu"
__ADS_1
Hening
Keduanya sama-sama menatap lurus kedepan.
.
.
.
"Sher, aku mau kita putus"
Sherly tidak memutar tubuhnya untuk menghadap Tian. Telinganya terasa panas mendengar kata putus dari mulut Tian.
"Ini demi kebaikan kita. Kita kasih jarak dulu biar sama-sama introspeksi. Nanti kalau sudah tiba waktunya, dimana kita ternyata sama-sama saling membutuhkan, akan ada jalan lagi untuk kita kembali"
"Siapa yang harus instrospeksi? Kamu atau aku?" tanya Sherly dengan deraian air mata.
"Keduanya. Kita butuh ruang untuk sendiri dulu. Aku sayang kamu, aku mau yang terbaik buat kamu"
"Aku mau pulang" ucap Sherly.
Tian mengangguk, menuruti permintaannya. Ia menekan persneling dan melajukan mobil menuju rumah Sherly.
Tian beranjak pergi saat Sherly sudah menghilang dari pandangan. Ia lalu menemui Puput yang tengah berada di kafe dekat rumahnya. Kafe yang menjadi tempat pertama Puput dan Zapata bertemu sebagai sepasang kekasih.
"Lama banget sih" ujar Puput karena sudah kelamaan menunggu Tian datang.
"Karena aku punya kejutan buat kamu"
"Hm? Kejutan apa?"
"Kejutannya adalah...
.
.
.
Aku udah putus sama Sherly"
__ADS_1
Puput tersenyum riang. Tian benar-benar menepati ucapannya. Tian jelas lebih memilih dirinya dibanding Sherly.
"Makasih" ucap Puput dengan merentangkan tangan. Tian lalu menghambur kedalam pelukannya.
"Kamu sendiri bagaimana?"
Pertanyaan Tian membuat pelukan keduanya terurai.
"Aku udah ga pernah ketemu dia lagi. Aku rasa, kami memang sudah berakhir. Kamu ga perlu khawatir, aku cuma buat kamu"
Keduanya pun melanjutkan berbincang sampai akhirnya Rama menghubungi dan meminta Puput untuk segera pulang. Keduanya berpisah di kafe tersebut.
Terbersit secercah rasa penyesalan dihati Puput karena sudah berbuat sejauh ini. Rasa bersalah pada Sherly yang begitu menguasai batinnya saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, Puput merasa tak bisa lagi untuk mundur. Ia dan Tian sama-sama suka. Ia dan Tian sama-sama bahagia. Keduanya sama-sama merasa lebih hidup dengan hubungan itu, dbanding dengan hubungan yang mereka jalani dengan pasangan sebelumnya.
Puput tidak tahu sampai kapan ia bisa terus-terusan menghindari Sherly. Dan bagaimana nantinya jika Sherly tahu.
()()()
Hujan turun membasahi bumi, air mata turun membasahi pipi. Sherly terduduk dilantai mendekap lutut, bersandar pada tepian tempat tidurnya.
Ada yang hilang malam ini. Ia tergugu menangis karena diputuskan oleh Tian. Lelaki yang pernah mendekatinya bahkan sudah ia kenalkan pada keluarganya. Awalnya sulit bagi Sherly untuk berani membawa teman laki-laki kerumah. Hanya Tian yang terang-terangan ia perkenankan datang kerumahnya. Pertanda kalau Sherly benar-benar menyukai Tian. Benar-benar mencintainya.
Sherly beranjak naik ke tempat tidur. Matanya masih belum mau terlelap. Bayang-bayang Tian masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Semakin terbayang semakin sayang. Cintanya masih terlalu besar daripada rasa bencinya akibat diputuskan tiba-tiba.
Sherly menatap layar ponselnya yang menampilkan wallpaper gambar dirinya dan Tian yang membelakangi kamera sambil bergenggaman tangan. Foto hasil jepretan Puput itu akhirnya ia hapus beserta foto-foto Tian yang lain.
()()()
Dikeesokan harinya, Sherly gemetaran rasanya berjalan di koridor kampus. Ia takut sekali berpapasan dengan Tian. Mungkin karena masih ada cinta tapi sudah kepalang tinggal cerita, dan ada hati yang masih luka.
Sherly melihat Puput berdiri tak jauh darinya, ia pun menghampiri Puput.
"Eh Put, baru nyampe?" sapa Sherly seperti biasa.
"Eh Sher, iya nih. Lo juga baru nyampe?"
"Udah dari tadi. Tapi gue ke perpus dulu"
Keduanya pun berjalan bersisian menuju kelas. Saat sampai kelas, nampaklah wujud Tian yang sudah berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Sherly berusaha biasa saja, tidak mau terlalu menunjukkan sikap kalau masih cinta. Jadi, ia duduk tak jauh dari Tian. Berhubung Puput duduk samping Tian, ia pun membiarkan saja.
"Sher, sini. Lo ngapain di situ?" pinta Puput agar Sherly pindah ke samping mereka.