
Sampai dirumah Zapata, Puput memberikan bekal buatannya tersebut. Zapata makan dengan lahap sembari memeriksa email yang dikirim Eko padanya.
"Sayang, apa kamu ga mau ikut? Kamu ga takut aku ditawan sama cewe-cewe sana?" tanya Zapata.
"Gapapa, justru aku malah takut kalo kamu berseliweran disekitaran aku" jawab Puput.
"Ck, nanti nangis kalo aku ga pulang-pulang"
"Ya kalo nangis kan bisa di lap" sahut Puput.
Setelah memeriksa email dan mengenakan sepatu putih bercentang satunya, Zapata langsung menggandeng Puput menuju mobil. Mereka pergi menggunakan mobil Puput agar tak perlu diantar sopir. Karena mereka ingin menikmati waktu berdua sebelum Zapata berangkat ke Australia.
"Sayang, nanti mau oleh-oleh apa?"
"Emmm aku pikir-pikir dulu ya, nanti kalo udah tau mau minta apa aku chat kamu langsung"
"Oh iya, kamu udah jarang latihan nari ya sekarang? Kenapa? Udah keluar apa gimana?" tanya Zapata.
"Masih gabung kok. Cuman emang lagi sepi festival. Kampus juga lagi ga ada perayaan apa-apa. Kemaren ada sih niat mau kumpul-kumpul, tapi aku sama Sherly ga dateng. Males soalnya"
"Itulah sebabnya kalo ngajak kumpul ga disertai ancaman. Coba kalo ngajak kumpulnya sekaligus bilang ga hadir sama dengan meninggal. Dijamin itu, pasti hadir semua"
"Cuma orang gila aja yang ngajak kumpulnya maksa, sampe ngancem-ngancem segala" ujar Puput.
"Lah, kan ngumpul begitu ada tujuan positifnya. Jadi ga salah juga kalo harus diancam terlebih dahulu"
"Kamu kalo ngajak karyawan kamu meeting jangan-jangan diancam juga ya?"
"Nggak sih, cuma mereka tahu kalo mangkir dari rapat ya besok ga perlu ke kantor lagi"
"Ngeri banget"
Akhirnya sampailah mereka di bandara. Puput memeluk Zapata sebelum lelaki itu hendak check-in. Zapata mengusap kepala Puput dan sekilas mencium pipinya.
"Aku pergi dulu ya. Jangan nikah sama yang lain"
"Hah? Emang kamu perginya lama ya?" tanya Puput. Karena memang dipikirannya Zapata hanya akan pergi sebentar. Bukan hitungan tahun.
"Satu minggu" jawab Zapata.
Puput menghela nafas.
"Kalo cuma seminggu ya ga mungkin juga aku sempet nikah sama yang lain. Ada banyak yang mesti disiapin. Ada-ada aja" ucap Puput.
"Hehe, ya udah kalo gitu aku masuk ya. Kamu nyetir hati-hati" Zapata kembali mencuri kesempatan untuk mencium pipi Puput sekilas lalu berbalik. Puput memandang kepergian Zapata yang semakin jauh. Namun, tiap beberapa detik sekali, Zapata akan melihat kearahnya dan melambaikan tangan. Puput mendadak sedih karena ditinggal sang kekasih. Hingga akhirnya Zapata menghilang dibalik pintu kaca itu. Dan Puput pun kembali ke mobilnya untuk pulang.
Zapata memasuki pesawat tepat jam 10 pagi. Ia akan menghabiskan waktu selama 7 jam di pesawat menuju Sydney.
Sembari mengisi kekosongan, ia membuka galeri ponselnya. Menatap gambar dirinya dan Puput yang bergandengan mesra sedang merayakan anniversary mereka. Ia mengatur salah satu foto tersebut menjadi wallpaper dan latar belakang tampilan chat whatsappnya.
__ADS_1
Sampai di Sydney, Zapata langsung menuju mobil yang memang telah disediakan untuk menjemputnya. Didalam mobil itu, juga ada Eko yang terus-terusan memantau sesuatu dari layar ipadnya.
"Mana kartu simnya?" tanya Zapata.
Eko pun memberikannya sebuah kartu untuk dipergunakan Zapata berkomunikasi dengan kekasihnya.
Tanpa waktu lama, Zapata pun langsung mengabari Puput kalau dirinya sudah sampai dengan selamat. Mereka hanya berbincang sebentar lalu Zapata memilih mengakhirinya karena ingin segera beristirahat.
Selama Zapata pergi, Puput menghabiskan waktunya dengan bermain bersama ponakannya, yang bernama Satya. Saat Feza dan Rama tengah makan atau tengah ada kegiatan, maka Puputlah yang sering diminta untuk menjaganya.
Sembari menjaga Satya, ia juga kerap membagikan foto dirinya yang tengah menggendong Satya pada Zapata. Sebagai bukti kalau dirinya disini baik-baik saja dan tak perlu dikhawatirkan. Karena memang waktu Puput hanya ia pergunakan untuk ngampus dan bermain dengan Satya.
Disisi lain, saat Zapata tengah lelah mengurusi masalah serius yang terjadi di perusahaannya. Mendadak tersenyum simpul kala mendapati laporan dari Puput kalau ia dihari itu hanya menghabiskan waktu bersama Satya. Memandang senyum Puput yang cerah dengan Satya yang berada dalam gendongannya membuat Zapata merasa bahwa Puput dan Satya sudah seperti anak dan istrinya yang tengah menunggu dirumah.
Zapata
"Pulang dari sini aku lamar kamu ya"
Puput
"Tunggu aku selesai kuliah aja"
Zapata
"Keburu bangkotan akunya"
Puput
Zapata
"Takut kamu diambil orang"
Puput
"Aku setia, kamu tenang aja"
Zapata
"Ga mau tenang pokonya"
Puput
"Astaga😒"
Zapata
"Mau ya nikah sama aku"
Puput
__ADS_1
"Ya udah iya"
Zapata
"Yessss, maacih muach. Aku istirahat dulu ya, nanti mau lanjut lagi"
Puput
"Iya om Ta, kata Satya"
Zapata
"😂"
-
Setelah semua urusan selesai, Zapata mengajak Eko untuk segera pulang ke Indonesia. Eko sempat menolak karena baru saja urusan itu selesai tadi siang, sorenya Zapata sudah langsung mengajaknya pulang.
"Apa ga bisa istirahat semalam dulu kita disini" ucap Eko.
"No no, kita harus balik. Ngapain disini lama-lama, bukan selera kita juga makanannya. Saya udah kangen nasi padang"
"Lah, bos udah kangen nasi padang. Tapi kan saya belum"
"Pokonya tetap harus pulang. Saya tau kamu ga mau pulang biar ga bisa saya suruh-suruh dikantor besok"
Akhirnya mau tidak mau, Eko ikut membereskan seluruh pakaiannya karena tak punya alasan lagi untuk dirinya berada disana. Setelah itu mereka langsung berangkat menuju bandara.
Diperjalanan menuju bandara, Zapata tak lupa untuk mengabari sang kekasih bahwa dirinya kini tengah bersiap untuk pulang.
Sampai dibandara bertepatan pula dengan masuknya balasan pesan dari Puput.
P**uput**
"Sayang, aku baru inget. Aku pengen boneka kangguru sama koala yang khas australi itu lho. Terus sama coklat tim-tam, beliin semua rasa ya. Terus madu manuka, terus gantungan kunci yang lucu-lucu buat koleksi"
"Ko, pacar saya nitip" ujar Zapata dengan wajah tanpa dosa dan memperlihatkan chat Puput pada Eko.
"Lah, terus?" tanya Eko.
"Cari dimana ya?"
Eko menepuk keningnya. Tapi sedetik kemudian, ia menemukan jawaban.
"Kan di dalem ada toko. Kita beli disana aja"
Akhirnya mereka berburu oleh-oleh di dalam bandara. Mulai dari yang Puput pesan sampai yang tidak dipesan pun ikut diborong oleh Zapata.
Sesampainya di Jakarta, hari sudah cukup malam. Zapata akan memberikan oleh-olehnya esok hari pada Puput.
__ADS_1
Selain oleh-oleh, ia juga telah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Puput. Ia yakin, Puput akan bahagia menerima segala pemberiannya ini.
Lagi-lagi Zapata memandangi gambar dirinya dan Puput. Ia tersenyum sembari menggelengkan kepala. Begitu cintanya ia pada wanita yang beda 12 tahun darinya.