Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Berai


__ADS_3

Seusai makan siang bersama klien, ternyata masih banyak undangan-undangan pertemuan yang harus ia penuhi hari itu. Zapata membujuk Eko untuk kembali ke kantor agar bisa menggantikannya.


"Bos, ya gak bisa dong. Ini kan hari cuti saya setelah kerja paksa waktu itu" ucap Eko via sambungan telepon.


"Mulai perhitungan kamu, Ko?" gertaknya.


"Bukan perhitungan bos, tapi kan ini udah sesuai kesepakan bersama"


"Saya mau kencan, gak enak kalo dibatalin" akhirnya Zapata ngaku juga.


"Lah, saya justru lagi kencan bos, makin gak enak lagi dong"


"Sejak kapan kamu punya pacar?"


"Haha, kepo... Kita tanding aja, siapa duluan nikah"


"Kekanak-kanakan. Silahkan aja kalo mau duluan, saya tinggal cari asisten baru" ancamnya.


Zapata memutuskan panggilannya. Ia mendengus kesal, harapannya bisa bertemu sang kekasih tampaknya menuai kegagalan hari ini. Walau sudah tahu dirinya tak bisa bertemu hari ini, namun Zapata masih enggan untuk menyampaikan hal tersebut pada sang kekasih.


Sedangkan di tempat berbeda, kekasih Zapata sedang makan siang dengan teman-temannya disebuah kafe. Ia tak begitu berselera makan karena jantungnya berdegup kencang entah kenapa. Mungkin karena hari ini akan jadi pertemuan pertamanya dengan Zapata.


Ia terus-terusan melihat jam. Perbincangan teman-temannya bahkan tak ia pedulikan. Ia terus saja menenangkan dirinya dengan memotivasi dirinya sendiri.


Dia jelek ga ya? Atau dia beneran setampan kepingan foto yang sering dia kirimkan? Gue udah cakepkan? Pokonya jangan sampe bikin malu diri sendiri.


Wanita yang sempat mengira kalau hubungannya dengan Zapata hanya sekedar pengisi kekosongan belaka, nyatanya dengan begitu intensnya berkomunikasi bahkan kadang sampai larut malam, tanpa sadar ia sendiri sudah mulai jatuh cinta pada Zapata. Ia sering menghubungi Zapata lebih dulu, itu sebenarnya sudah menunjukkan bahwa dia punya ketertarikan lebih pada Zapata.


Memang, Zapata itu tampan walau foto yang ia kirimkan masih penuh teka-teki. Wanita itu sering menatap foto Zapata sebelum tidur. Bisa dibilang, saat ini dirinya tengah kasmaran dan selalu berbunga-bunga.


"Oy, jadi kan kita nge-mall hari ini?" tanya temannya.


"Ha? Ngapain?" jawabnya.


"Ya keliling aja, sekalian cuci mata. Barangkali ada yang mau di beli"

__ADS_1


Wanita itu bingung.


"Ayolah, lo kan udah janji mau nemenin gue" ucap temannya lagi.


"Ya udah iya" jawabnya.


Ia pun akhirnya mengiyakan ucapan temannya. Walau sebenarnya keinginan untuk bertemu Mr. Z jauh lebih besar tapi dirinya sulit sekali untuk berkata tidak pada orang-orang terdekatnya.


Setelah usai makan siang, ia pun beranjak pergi bersama temannya. Meraka langsung bergerak menuju mobil karena perkuliahan hari itu juga telah usai.


Ia mengabari Zapata melalui whatsapp.


"Sayang, maaf banget hari ini aku ada urusan mendadak. Aku mau nemenin temen aku belanja, udah sempet janji juga. Gak enak kalo aku batalin. Maaf ya sayang, kita ketemunya besok aja. Ini aku udah dijalan sama dia"


Terkirim.


Detik demi detik berlalu, pesan wanita itu tak kunjung dibaca. Bahkan wanita itu sampai berulang kali melihat ponselnya untuk memastikan apakah pesannya sudah dibaca atau belum.


Ia ingin menelepon, tapi takut ketahuan temannya. Sebab, percintaannya dengan Mr. Z ia tutupi dari siapapun. Tak ingin di ledek ataupun dijadikan lelucon oleh teman-temannya.


Pantas saja Eko meminta bonus cuti waktu itu, ternyata karena dia sudah tahu akan ada banyak pertemuan di minggu ini. Dan ia sudah mengamankan nasibnya dari titah Zapata yang sering malas ke pertemuan yang dirasa tak terlalu penting seperti ini.


Zapata inginnya mangkir, tapi tak enak. Masih ada perasaan berat jika memilih tidak hadir sama sekali. Jadi, ya beginilah. Ia duduk sembari memperhatikan jam di tangan kirinya. Mau membuka ponsel, tapi rekan bisnisnya sedang berbicara padanya.


Setelah hampir 3 jam terkungkung di ruangan itu, barulah Zapata berkesempatan membuka ponselnya. Niat hati, ingin segera menghubungi sang kekasih karena mungkin sudah menunggunya terlalu lama. Namun, apa yang terjadi.


Justru, yang ia dapati malah pesan whatsapp mengecewakan dari sang kekasih. Dalam hati, Zapata sadar kalau dirinya sebetulnya juga tak bisa bertemu hari ini. Tapi, ia punya niat lain. Rencananya, ia akan menguji kesabaran kekasihnya dengan marah-marah pada pacarnya yang seolah memang tidak pernah berniat serius dengannya. Bahkan lebih memilih jalan bersama teman dibanding bertemu dirinya.


Zapata


"o"


POV GSP


Sambil berjalan-jalan di mall, aku masih kepikiran dengan Mr. Z yang tiba-tiba hilang tanpa kabar. Apa dia kecewa padaku atau dia lupa dengan janji bertemu kami?. Tapi, tak mungkin lelaki itu lupa. Sebab, yang tak sabaran untuk bertemu itukan dia, bukan aku. Jadi, mana mungkin dia lupa.

__ADS_1


Saat aku sudah pulang kerumah, pesanku ternyata masih belum dibaca. Aku pun berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menghubunginya.


Tapi baru saja aku memegang handuk, ponselku bergetar di atas meja.


"Huh", desahku pelan.


Benar kan dugaanku, dia kecewa padaku. Sudah panjang-panjang aku chat dia tapi cuma dibalas o.


Kuurungkan niat mandiku, dengan segera aku cabut ponsel dari chargeran lalu aku berbaring ditempat tidur agar nyaman berbicara dengannya.


"Halo" sapaku saat panggilan sudah terhubung.


"Hm" jawabnya acuh.


"Kamu marah?" tanyaku.


"Apa? Marah? Peduli apa kamu sama aku? Ga usah nanya-nanya" omelnya.


"Aku minta maaf, tadi beneran pergi sama temen soalnya aku emang udah pernah janji mau nemenin dia belanja"


"Ya udah, peduliin aja temen kamu jangan peduliin aku"


"Aku salah memang, tapi kamu jangan bentak-bentak dong. Emangnya salah aku sefatal itu. Boleh kecewa sama aku, tapi kan masih bisa lain waktu ketemunya. Hiks"


"Ga usah acting. Kamu memang gak mau ketemu sama aku 'kan? Oke, aku gak akan maksa-maksa kamu lagi. Terserah kamu aja"


"Kamu tuh ngomong apa sih? Aku beneran mau ketemu sama kamu, jangan nuduh-nuduh sembarangan" Aku mengusap air mataku, sakit sekali rasanya dibentak oleh orang yang aku sayang.


"Aku gak percaya sama kamu. Mau ngomong apa lagi?"


"Ternyata mulut kamu kejam banget ya. Aku nyesal pacaran sama kamu"


"Terserah. Aku juga nyesal buang-buang waktu pacaran sama kamu. Wanita penipu yang mungkin aja diluar sana kamu juga punya pacar lain selain aku"


"Heh sialan, lo kalo mau maki-maki gue langsung aja jangan beraninya cuma lewat hp. Lo kira lo doang yang buang-buang waktu pacaran sama gue, gue juga ngerasa gitu. Apalagi cowok seumuran lo pasti juga udah banyak pengalaman sama cewek, gak mungkin juga lo lebih baik dari gue. Baji*ngan" Tut. Aku sangat marah rasanya pada laki-laki bang*sat itu. Kok bisa aku pacaran dengannya. Selama ini dia selalu bertutur kata baik dan tak pernah sekalipun menyakiti hatiku. Tapi kali ini, dia benar-benar sudah kehilangan topeng busuknya.

__ADS_1


Aku yang tersakiti, harusnya tak perlu buang-buang tenaga untuk menangisinya. Tapi, air mata ini luruh begitu saja. Aku sakit hati padanya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Membalaspun tak tau pada siapa, karena aku belum sempat mengenal parasnya.


__ADS_2