Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Awal Kebangkrutan


__ADS_3

Malam harinya Zapata pulang kerumah pribadinya. Karena seluruh karyawan dan koleganya hanya tahu alamat pribadinya saja. Dan biasanya Zapata memang open house dihari kedua lebaran. Sebab hari pertama memang ia khususkan untuk keluarga saja.


Sampai dirumahnya, ia menata lagi beberapa toples kue dan minuman di tiap meja tamu. Jangan tanya berapa jumlah ruang tamu dirumahnya, karena sangatlah banyak. Bahkan dilantai dua pun juga ada ruang tamu, hanya saja tidak pernah ada tamu yang sampai kelantai dua. Kecuali tamunya berasal dari keluarganya sendiri.


"Gila, cape juga ya ternyata" gumamnya. Karena ia harus melakukannya sendiri tanpa ada bibi yang membantu. Semua ARTnya ia izinkan pulang kampung.


Drrrrrtttt


Dering ponselnya berbunyi, Zapata tersenyum tipis sebelum mengangkat ponselnya.


"Hm" sapanya.


"Baru sampe rumah"


"Mau duit? Sini bantu-bantu abang nyusun kue. Ajak Puput sekalian"


"Kenapa?"


"Jangan siang-siang, pagi ya"


"Jam 6 lah, jam segitu tamu abang udah bermunculan"


"Oke siap"


Zapata akhirnya bisa beristirahat lebih cepat. Karena ia tak perlu mengatur semuanya sendiri. Sebab tadi, Sherly sudah mengiyakan untuk datang pagi-pagi kerumahnya membantu menyusun semua ini.


Sampai ke kamar, Zapata langsung membersihkan diri dan menunaikan sholat. Seusai itu, ia merebahkan diri di kasur.


Dengan tak disengaja, dirinya tiba-tiba menginginkan sosok istri. Zapata mengusap sisi tempat tidur yang kosong disebelahnya.


Semoga saja, hari ini Tuhan sedang bermurah hati untuk mengabulkan permintaanku. Aku ingin wanita yang baik yang akan kupersunting jadi istriku. Dan aku ingin kedua orangtuaku selalu sehat agar anak-anakku kelak bisa merasakan kasih sayang dari kakek dan neneknya.


Zapata baru menyadari malam ini, bahwa ternyata hidupnya begitu kesepian. Seperti malam ini, ia mengatur toples kue sendiri tanpa bantuan bibi. Memanaskan mobil sendiri karena tak ada satu pun sopirnya yang tinggal disana. Dan tadi saat pulang dari rumah orang tuanya, ia buka pagar sendiri.


Mungkin itulah yang dilihat orang terhadap kehidupannya. Sunyi, sepi, sendiri.


Ia memang sendiri, hanya saja selama ini hidupnya selalu ada yang mengurusi. Bibi yang bisa ia perintahkan untuk menyetrika baju dan menyiapkan sarapannya. Sopir dan satpam juga mempermudah kehidupannya. Sehingga semua terasa tercukupi. Tidak ada kebutuhan lain yang kekurangan.


Kemana pun pergi, dirinya memiliki uang. Membahagiakan orangtua pun sudah ia lakukan, bahkan ia juga sudah pernah berangkat naik haji bersama kedua orangtuanya. Lalu apalagi yang perlu untuk ia keluhkan? Sampai akhirnya Zapata menyadari, istri.


Hidup terasa tak pernah ada ujungnya jika masih sendiri. Tapi jika sudah berkeluarga, rasanya akan jauh lebih tenang. Dan juga, selama ini susah payahnya bekerja akan jelas tujuannya. Yakni semata-mata untuk mencari nafkah demi keluarga.


Fase berkeluarga itu yang Zapata mau. Tapi entah sampai kapan ia harus menunggu.


Lambat laun, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Zapata masih terhanyut dalam pikirannya. Ia pun bangkit dan membuka jendela kamarnya.


Teringat masa-masa dimana dulu ia pernah seminggu tinggal dihutan bersama Nanda, Bibin, dan Rama. Kedekatan mereka memang baru dimulai sejak saat itu dan terus berlanjut sampai detik ini.


Terngiang ceramah dari seorang Ustadz yang pernah mengisi acara Maulid Nabi dikantornya. Yang waktu itu ia berkata, "Tidak ada yang abadi didunia ini, bahkan sahabat pun tidak selamanya disisimu. Melainkan istri dan anak-anakmu. Merekalah yang akan terus mendoakanmu. Bahkan rezeki yang kau dapat hari ini, juga rezeki mereka. Maka tak ada satupun lelaki yang tenang hidupnya jika belum memuliakan istri mereka".


Kenapa gue jadi mellow begini sih?


Udahlah, ceramah ustadz kan masih banyak kenapa harus berpatokan sama itu doang?


Akhirnya Zapata membuka sosial media yang sudah bertahun-tahun tak pernah dibukanya. Ia mulai mengetik dikolom pencarian tentang ceramah atau amalan yang bisa mendekatkan kita dengan jodoh kita.


Bermunculan dilayar dengan berbagai nama penceramahnya. Zapata pun memilih satu video dari sekian banyak video yang muncul dengan durasi yang lebih lama. Video tersebut berkisar 8 menit, ceramah Ustadz Hanan Attaki.


Zapata mematikan lampu utama kamarnya, sehingga hanya lampu tidur yang menyala. Kemudian ia berbaring ditempat tidur. Zapata mulai mendengarkan ceramah itu dengan seksama sembari menelungkupkan ponselnya di kasur dan memposisikannya dekat telinga.


Ia meresapi apapun yang didengarnya dalam ceramah itu.


"Jodoh itu ditangan Tuhan, hak progratif Tuhan untuk menjodohkan laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, kita sebagai manusia juga jangan berpangku tangan. Melainkan berusaha.


Usahanya bagaimana? Bisa dengan memperluas silaturahmi atau bisa juga dengan bantuan orangtua. Sebab, orangtua memiliki kewajiban untuk membantu mencarikan anaknya pasangan jika sang anak sudah cukup umur namun belum juga menikah. Perjodohan ini bagaimana hukumnya? Boleh. Selama tidak ada paksaan. Karena perjodohan ini hanya sebatas membantu, bukan mengintervensi.


Bagaimana cara baiknya hendak memulai perjodohan? Yang pertama, tentu pilih yang baik akhlaknya. Kemudian, nah ini yang sering orang-orang salah. Tanyakan atau mintalah persetujuan terlebih dahulu pada pihak laki-laki yang hendak dijodohkan. Jika ia setuju, baru tanya perempuannya. Sebab apa? Jika laki-laki ditolak, biasa saja. Lain halnya dengan perempuan.


Semisal yang ditanyai lebih dulu adalah perempuan, lalu ia berkata setuju untuk dijodohkan dengan si laki-laki. Tapi kemudian saat ditanyai si laki-laki ternyata ia menolak. Tentu si perempuan akan sakit hati, terluka perasaannya. Karena ditolaknya laki-laki dan perempuan ini berbeda.


Perempuan itu kaum yang lemah perasaannya. Sensitif sekali hatinya. Oleh karena itu, tanyakan pihak laki-laki lebih dulu.


Zapata mulai terbuka pikirannya. Ia akan berpasrah diri kalau nanti suatu saat kedua orangtuanya berniat menjodohkan dirinya dengan perempuan pilihan orangtuanya.

__ADS_1


Karena tak ada alasan lagi bagi dirinya untuk menolak. Zapata mematikan ponselnya saat ceramah itu sudah selesai. Lalu ia segera mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


****


Pukul 4 pagi, Zapata sudah terbangun. Tidurnya semalam tidak berkualitas. Entah beban apa yang dipikulnya sampai terbangun pagi ini tubuhnya masih terasa lelah. Ia memilih bermain ponsel sembari menunggu adzan subuh.


Beberapa saat kemudian masuklah waktu subuh. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi yang terletak didalam kamarnya.


Sholatnya pun jadi tak khusyu' karena hal-hal yang menyangkut duniawi terus ia pikirkan. Selesai sholat, masih dengan posisi duduk tahiyat akhir. Zapata mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas berat lalu, ia bangkit berdiri memutuskan untuk mengulang sholatnya.


Di sholat yang kedua ini, ia jauh lebih baik. Tak ada do'a yang terpeleset ia ucapkan. Sampai di tahiyat akhir, ia berhasil melepas semua beban pikiran dan bisa sholat dengan khusyu' tanpa terganggu dengan apapun.


Satu jam kemudian, tepatnya pukul 6. Sherly dan Puput datang kerumahnya. Zapata membukakan pagar dan menyambut mereka layaknya tamu yang sudah ia tunggu-tunggu.


"Bang Ta, maafin Sherly ya" ucap Sherly yang langsung berjabat tangan dan mencium tangan Zapata.


"Iya Sher, abang juga"


Kemudian disusul Puput. "Bang, aku minta maaf juga barangkali ada ucapan atau perbuatan yang kurang sopan ke abang"


"Iya Put, sama-sama. Abang juga minta maaf" jawab Zapata.


"Bang, ada kue apa aja?" tanya Sherly ketika mereka baru masuk kerumah.


"Liat aja sendiri" sahut Zapata sambil duduk disofa memamerkan toples kue dihadapannya dengan gerakan tangan.


"Wuih, enak-enak nih kuenya" puji Puput.


Sherly membuka satu toples yang berisi kue kacang coklat. Ia memakan kue tersebut lalu kasih kode "ok" dengan jarinya kepada Puput.


"Enak? Mau juga dong" Puput ikutan mencoba kue yang Sherly makan.


"Silahkan-silahkan, tapi habis ini kalian bantu abang ya keluarin gelas buat disuguhin ketamu nanti"


"Hip bang" ujar keduanya dengan mulut penuh makanan.


Zapata pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Dihari lebaran seperti ini, dirinya tak bisa berlama-lama mengabaikan ponsel karena setiap tamu yang hendak berkunjung biasanya memastikan terlebih dahulu keberadaannya dirumah melalui Eko, sang asisten pribadinya.


Jam 7, Zapata turun kebawah. Diruang tamu ia tidak menemukan 2 gadis belia yang datang pagi-pagi buta tadi. Zapata pun keluar memastikan mobil Puput, ternyata masih ada.


Zapata berbalik masuk kedalam rumah. Ia telusuri rumahnya sembari memanggil nama kedua perempuan yang akan membantunya itu.


"Sher, Put"


"Kami disini" ujarnya dari arah ruang keluarga.


Zapata pun menghampiri mereka yang tengah menonton siaran ditelevisi. "Enak-enakan ya disini. Ayo kedapur, bantu abang keluar-keluarin gelas. Kalo kotor kita bersihin, kita lap-lap" ajak Zapata.


Keduanya pun menurut dan berjalan dibelakang Zapata. Sampai didapur, Zapata hanya berdiri diam sambil meletakkan tangan di pinggang. "Dimana bang tempat gelasnya?" tanya Puput.


"Abang juga gak tau".


Zapata mulai membuka satu persatu lemari dan rak yang ada didapurnya.


Sherly dan Puput ikutan membuka dan memeriksa tempat penyimpanan piring dan alat makan lainnya didapur itu. Tapi nihil, mereka tidak menemukan gelas khusus tamu.


"Bentar ya, abang telpon bibi dulu" Zapata pun pergi dari dapur itu untuk menghubungi salah satu ARTnya.


Selama ditinggal Zapata, Puput dan Sherly tetap mencari keberadaan gelas yang dimaksud Zapata. Hingga akhirnya Sherly menarik satu kursi dimeja makan untuk dipakai mencari gelas di rak bagian atas.


"Ini ada Put" ucap Sherly dengan mengeluarkan satu gelas ditangannya untuk ia perlihatkan pada Puput.


"Dasar Bang Ta, rumah sendiri tapi gak tau seluk-beluknya" omel Puput.


"Guys, di rak atas kata bibi" ujar Zapata sambil berjalan menuju Puput dan Sherly.


"Eh udah nemu ya?" ucapnya lagi saat melihat gelas-gelas sudah berjejer di atas pantry.


"Terus mau di apain ni Bang?" tanya Sherly.


"Cek dulu, bersih gak? Kalo kotor harus dicuci, kalo gak kotor, ya lap-lap aja dikit" kata Zapata.


"Gak kotor kok, aku cium juga gak ada bau apa-apa" ujar Puput.

__ADS_1


"Ya udah, di lap aja. Nih pake tisu" Zapata pun menyerahkan sekotak tisu wajah kepada Puput.


Selagi mereka membersihkan gelas, Zapata hanya duduk di pantry bermain ponsel. Puput dan Sherly yang kerjanya tidak dipantau akhirnya buru-buru menyusun gelas di nampan. Dan berpura-pura sudah selesai membersihkan semuanya.


"Bang, udah" ujar mereka.


"Hm, ya udah" Zapata mengangkat nampan yang lumayan berat itu ke meja makan.


"Bang, gak ada tugas lagi kan?" tanya Puput.


"Gak ada, kalian kalo mau istirahat di kamar tamu aja. Terserah mau yang dilantai bawah atau atas"


Keduanya pun beranjak menaiki tangga karena mereka lebih memilih kamar tamu lantai atas. Selain pemandangannya indah, mereka juga tidak akan mengganggu tamu-tamu yang datang dengan keberisikan mereka berdua.


Zapata menuju kamarnya, mengganti pakaian yang semi formal untuk menjamu kolega, teman kuliah, dan juga para karyawan dari perusahannya yang hendak bertandang hari ini.


Jam 9 pagi, para tamu sudah mulai berdatangan. Kehadiran mereka tak luput dari pantauan Sherly dan Puput. Keduanya sesekali bercanda sambil tetap memperhatikan situasi.


"Eh Sher, liat mbak yang pake kaftan ungu itu. Itu yang baru aja turun dari mobil" tunjuk Puput pada seorang wanita muda yang berjalan anggun menuju pintu utama.


"Wuih, cantik banget. Hm... jangan-jangan gebetannya Bang Ta" ujar Sherly.


"Bening banget ya, gilaa perawatan dimana" gumam Puput.


"Kita juga bening tau, cuman jauh dari kata anggun aja" sahut Sherly.


Sampai akhirnya, tamu dirumah Zapata pun satu persatu pergi. Sherly dan Puput turun kebawah untuk membereskan ruang tamu agar rapi seperti semula. Dan mengisi ulang toples kue yang isinya telah berkurang. Sedangkan Zapata mengangkut gelas-gelas kotor kebelakang.


Setelah pekerjaan Puput dan Sherly usai, mereka menghampiri Zapata yang tengah mencuci gelas.


"Udah tugas kalian?" tanya Zapata.


"Udah dong Bang" ujar Puput.


"Bang, hadiah buat aku kan mobil. Terus kalo buat Puput apa?"


"Ih, jadi kamu mau dikasih hadiah mobil ya Sher? Gak adil banget, kita kan bantunya sama-sama. Gak bisa gitu dong Bang, aku juga mau" protes Puput dengan cemberut.


"Kamu tuh Sher, coba diam. Gak bakal rugi dua kali abang" ucap Zapata sembari membilas gelas. Sedangkan Sherly hanya bisa menampilkan senyum tipis dan wajah tanpa dosa.


"Bang, aku mau juga" lanjut Puput dengan menghentakkan kakinya.


"Mau apa?" tanya Zapata.


"Mau hadiah" jawab Puput lagi.


"Ya bilang hadiahnya apa?"


"Biayain liburan ke eropa dua minggu plus biaya hidup selama disana" sahut Puput dengan tersenyum senang.


"Huh, ya udah iya. Mau berangkat kapan?" tanya Zapata akhirnya.


"Nantilah, sebelum masuk semester 3. Biar liburnya lama karna penerimaan mahasiswa baru" sambut Puput.


"Lo sendirian?" tanya Sherly.


"Ya nggaklah, mau ajak mama papa, mas Rama, kak Feza terus sama Arse juga" jawab Puput.


"Ih gak bisa gitulah. Aku aja hadiahnya ya buat aku sendiri. Kok kamu malah buat rame-rame gitu, terus akunya gak diajak. Gak boleh gitu dong Bang Ta" kali ini giliran Sherly yang protes.


Zapata malas terlibat dengan percekcokan kedua gadis itu, ia pun kabur kekamarnya setelah selesai membilas gelas.


"Lah kamu sendiri, harga mobil kan mahal. Tapi dimakan sendiri. Mending aku, dipake buat rame-rame"


"Put, jangan gitulah. Kasian Bang Ta. Gimana kalo mobilnya kita pake ganti-gantian. Terus liburan ke Eropanya, berdua aja kita. Kan udah gede nih, boleh kali keluar negeri tanpa orangtua dan abang-abang kita" rayu Sherly.


"Wah bener juga tuh. Kalo gini kan enak" sahut Puput setuju.


Mereka pun berjabat tangan.


"Put, sering-sering dicuci ya. Gue khawatir kalo mobil gue ditangan lo"


"Aman👌. Lo juga, minta mobil padahal sendirinya gak bisa nyetir"

__ADS_1


"Ih, ya makanya ajarin ya Put" bujuk Sherly lagi.


__ADS_2