
Bulan suci Ramadhan semakin dekat. Zapata sedang meeting bersama beberapa direktur di perusahaannya untuk membicarakan perihal pemotongan jam kerja di bulan Ramadhan. Perusahaan mereka yang biasa pulang jam 5 sore atau bahkan lembur sampai jam 12 malam, kini harus di potong karena ia ingin memberikan keringanan bagi seluruh karyawannya di bulan baik nanti.
"Saya sudah mendengar segala masukan dari kalian. Dan saya juga sudah mengambil keputusan. Yang pertama, jam kerja hari Senin sampai Kamis berakhir jam 3 sore. Kecuali Jum'at, berakhir sampai jam 2 siang. Jam istirahat juga di potong menjadi 45 menit. Di hari Jum'at tidak ada jam istirahat. Sebab bagi yang nonmuslim bisa istirahat atau makan di saat yang lain sholat Jum'at. Kemudian tentang lembur, maksimal cukup sampai jam 9 malam. Ada yang keberatan?" tanya Zapata sembari melihat satu persatu orang yang ada di ruangan itu. "Ingat ya, hanya berlaku pada saat bulan suci Ramadhan!"
Hening, tanda tak ada yang keberatan.
"Saya rasa kalian semua sudah setuju dengan keputusan saya ini. Kalian sekarang boleh kembali ke ruangan masing-masing"
"Permisi, Pak" pamit mereka pada Zapata. Dan hanya di balas anggukan oleh Zapata.
"Pak, libur gimana Pak?" tanya Eko yang setia duduk disamping Zapata.
"Liat sendiri di kalender, kenapa tanya saya"
"Yahh, jadi ga ada libur tambahan Pak?"
"Saya kurang baik apalagi? Jam kerja udah saya kurangin, sekarang masih mau protes juga?"
"Huft" keluh Eko.
"Ko, hari pertama puasa kamu mau buka dimana?"
"Paling dirumah Pak, bareng keluarga"
"Saya gabung bareng keluarga kamu ya, kebetulan orang tua saya ke Padang hari ini mau ziarah ke kuburan kakek nenek saya sebelum puasa. Boleh ya Ko"
"Tumben amat Pak, nanti kita malah dicurigai. Hari pertama puasa, tiba-tiba Bapak duduk bareng di meja makan sama keluarga saya. Mana sama-sama tua belum pada nikah. Coba Bapak pikir-pikir lagi, bakal aneh gak?"
"Aneh gimana? Perasaan biasa-biasa aja" timpal Zapata.
"Kok bagi saya aneh ya?" Eko mengusap-usap jambangnya. Sembari menerawang ke langit-langit ruangan dan melanjutkan ucapannya. "Kesannya kaya lagi mau mendekatkan pasangan ke keluarga, gitu. Kaya lagi dikenalin ke orang tua, ajak buka puasa pertama dirumah"
"Stop Ko stop! Saya merinding ngebayanginnya. Saya ga jadi buka bareng keluarga kamu, lebih baik buka sendiri di rumah" potong Zapata karena pikiran Eko terlalu liar menurutnya.
"Mulai sadar kan sekarang?" ucap Eko.
"Bukan sadar, tapi lebih ke... Agak-agak setuju dengan omongan kamu"
"Berapa persen?"
__ADS_1
"20"
"30 lah Pak" tawar Eko.
"Gak, 20"
"Dikit amat Pak, 30 lah" tawar Eko lagi.
"Ah, kaya nawar apa aja. Saya mau pulang, males ngeladenin kamu"
Zapata bangkit dan meninggalkan ruang meeting itu. Ia pulang menuju kediaman orang tuanya.
"Spadaaaa" salamnya sembari nyelonong masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Spada spada, salam yang bener" gertak mamanya.
"Assalamu'alaikum mama muda" ucap Zapata menuruti perintah sang mama tapi malah hampir di pukul dengan spatula.
"Wa'alaikum salam"
"Ma, jadi ke Padang hari ini?" tanya Zapata.
"Ya jadilah, ini mama lagi siapin banyak makanan buat di bawa kesana. Ini ada kue juga dari Uni kamu, dia ga bisa ikut pergi jadi cuma nitip aja"
"Tiketnya udah di batalin. Tapi barangkali kamu berubah pikiran, dan mau ikut mama papa? Hayok" ujar mamanya.
"Pikir-pikir dulu deh, Ma"
"Pikir-pikir dulu katanya? Hei bujang lapuk, ini berangkat sekitar 3 jam lagi. Kamu mikir ajakan yang kemaren aja dua minggu. Pantes jodoh kamu lama Zap Zap" geleng-geleng kepala mama Zapata dengan kelakuan anak tunggalnya itu.
"Jodoh lagi, jodoh lagi. Udah sih Ma, jangan bahas jodoh mulu. Lama-lama tersinggung aku"
"Ya udah, ayo ikut ke Padang. Mama cariin jodoh orang sana aja"
"Halah, Jakarta yang metropolitan kaya gini aja, yang orang-orangnya pada kurang tidur semua, nggak menolong sama sekali. Apalagi di Padang, sebentar-sebentar waktunya tidur. Baru mau pedekate, eh udah adzan maghrib"
"Itu tandanya kalo cewek-cewek disana tuh baik-baik, gak suka keluyuran"
Mulut Zapata sudah mau terbuka lagi untuk menyanggah ucapan mamanya. Tapi mamanya lebih cepat bertindak sebelum mulut Zapata memulai lagi.
__ADS_1
"Apa? Mau menjawab lagi kamu? Gak pernah ya mau nurut sama mamanya. Sudah di sekolahin betul-betul malah jadi kayak bukan anak mama"
"Ampun mama sayang, bukan ga mau nurut. Tapi apa yang mama bilang belum tentu seratus persen benar. Ah mama gitu, dikit-dikit aku yang salah" rajuknya.
"Makanya, ayo ikut ke Padang. Setidaknya nongol sesekali, Zap. Sejak kakek sama nenek meninggal kamu ga pernah lagi mau ikut kesana"
"Ya abisnya disana aku ga punya temen main. Sepupu disana cewek semua, masa aku main boneka"
Zapata di sabet pakek kain lap yang mamanya pakai untuk membersihkan noda di pinggiran kompor. Dan Zapata selalu berhasil menghindar.
"Sepupu kamu udah pada gede, ga main boneka lagi. Bener-bener ya, mama kehabisan nafas kalo ngomong sama kamu"
"Ya bagus kalo ga main boneka lagi. Aku mau ikut kalo gitu"
"Hah? Serius?" tanya mama dengan mata berbinar.
"Iya, kalo boleh. Ga boleh juga alhamdulillah"
Mama pun siap mencari alat untuk gebukin anaknya itu.
"Nggak, maksudnya ga boleh juga ga papa" ucap Zapata dengan tertawa puas karena selalu berhasil mengerjai mamanya.
"Kamu tuh selalu main-main. Yang seriuslah Zap, cepet tua mama kalo kamu kaya gini terus"
"Hahaha, emmuach" Zapata mencium kening sang mama yang berkeringat karena dekat kompor. "Iya, aku ikut. Aku pulang dulu, mau siapin barang-barang"
Zapata langsung balik ke mobil dan pulang menuju rumahnya.
"Anak itu, kadang romantis kadang bikin pesimis. Kasih tau papa ah, pasti papa ikut seneng" ucap mamanya dan bergegas mencari keberadaan sang suami.
☆☆☆
Pintu pesawat terbuka, rombongan keluarga Zapata malam itu telah sampai di tanah kelahiran sang papa. Zapata membantu mamanya menurunkan beberapa barang dari kabin pesawat.
"Ma, besok cari oleh-oleh yuk" ajaknya.
"Baru sampe sini kamu udah mikir oleh-oleh buat ke Jakarta?" geram mamanya.
Zapata mengangguk, alarm tubuhnya sudah memberi isyarat kalau dirinya akan di amuk oleh mamanya itu.
__ADS_1
"Nggak ma, cuma becanda" ujar Zapata yang seketika membungkam mulut mamanya yang sudah minim kesabaran itu.
Keluar dari parkiran bandara, Zapata dan keluarganya menuju ke kediaman sang kakek yang kini ditempati oleh keluarga kecil adik pertama dari papanya. Disana mereka disambut dengan sangat baik. Mereka duduk berkumpul diruang keluarga sembari berbincang santai dan saling melepas rindu. Selain itu juga mereka disuguhi banyak makanan adapula rendang yang menjadi hidangan wajib untuk acara kumpul-kumpul keluarga itu.