Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Tentang Gedung Sebelah


__ADS_3

"Kenapa?"


"Kapan-kapan mainlah ke kantor, katanya rindu"


"Idih, kapan aku bilang rindu"


"Ya udah, biar aku aja"


"Kamu apa?" tanya Sherly.


"Aku rindu"


Ceilah, senyuman Zapata ngembang sampai ke telinga. Kasmaran jilid keseratus dalam hidupnya masih saja kaya anak SMA kalo lagi jatuh cinta.


"Hai Rindu, kenalin nama aku Sherly"


Sayangnya, kobaran api asmara milik Zapata tersiram air karena tanggapan Sherly bak main-main.


"Udah serius, malah di tanggepin kaya gitu" sungut Zapata.


"Hahaha, ih ngambek"


"Mau tidur ajalah" rajuknya.


Sherly terus saja menertawainya.


"Aku rindu, kamu malah cuma ketawa-tawa aja"


"Iya, aku juga rindu. Rindu buatan rindu sungguhan susah dibedakan" sahut Sherly dengan bernyanyi.


"Ah kamu mah" Zapata mulai ngambek-ngambek kek anak bayi.


"Becanda sayangku, cintaku, si gantengku" gemas Sherly.


"Makanya, main ke kantor aku. Kamu kan waktu luangnya lebih banyak, sedangkan aku kerja terus full seharian"


"InshaAllah besok deh ya kalo bisa"


"Janji?" ancam Zapata.


"Yah, ga bisa janji juga. Kan aku juga kadang ada kegiatan BEM"


"Huft, terus saja kau duakan cintamu itu" kesal Zapata tapi malah terdengar lucu bagi Sherly.


"Kek gini nih resiko pacaran sama om-om. Ga di ladenin ga di kasih transferan"


Zapata tertawa gara-gara ucapan Sherly tersebut. Ia jengkel tapi nyadar juga dengan kelakuannya yang ada-ada saja.


"Aku ngantuk" ucap Zapata.


"Beneran ngantuk atau kamu marah sama aku?" tanya Sherly.


"Iya, beneran ngantuk"


"Ya udah, tidur sana. Jangan lupa napas!"


"Kan, kamu selalu gitu. Ngedo'ain aku mati"


"Ih nggak, justru aku ngingetin kamu biar tetep bernapas. Kamu negative thinking mulu sama aku"


"Sebenarnya aku di bolehin tidur atau nggak sih?"

__ADS_1


"Hahaha, boleh boleh. Ya udah, selamat tidur yaa... Nanti sahurnya aku bangunin"


"Makasih" ucap Zapata dengan senyum hangatnya.


"Ya udah matiin. Kamu tidur yang nyenyak!"


"Iya, daa"


Masih sempat-sempatnya Zapata dadah-dadah ke kamera. Lalu setelah itu panggilan video ia matikan. Sherly pasang alarm berlapis karena ia sendiri takut tak terbangun sedangkan sudah bilang pada Zapata kalau dirinya akan membangunkan Zapata sahur.


◇◇◇


Pagi harinya Zapata terbangun karena semburat cahaya mentari mulai masuk melalui celah kecil tirai balkonnya. Ia memeluk bantal dan menenggelamkan wajahnya disana karena masih terlalu berat matanya untuk terbuka.


Sahur... Sahur...


Terputar dikepalanya kata sahur yang membuatnya teringat akan sesuatu. Zapata bangkit dari pembaringannya lalu melihat ponsel. Dimana disana sudah terpampang jelas waktu yang menunjukkan pukul 07.30. Lalu ada pula berjejer notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan Whatsapp yang di kirim oleh Sherly.


Sherly


"Bang Taaaa, maaf ga bangunin. Aku telat juga soalnya, udah adzan baru kebangun😭😭😭😭"


Sherly


"Bang Taaaa, udah bangun belom siii? Subuh nih👺👺"


Sherly


"Bang Taa, aku main ke kantor pagi aja yaa. Soalnya siang mau kuliah, sorenya mepet belom lagi mau bantu mama. Ok?"


Zapata


Zapata langsung bergegas membersihkan diri. Ia takut kalau Sherly malah lebih dulu sampai di kantor. Belum lagi asisten pribadinya yang punya banyak tipuan muslihat. Bisa saja selama ia belum sampai kantor Sherly sudah dirayu oleh asistennya itu.


Setelah mandi, ia buru-buru memilih setelan yang akan ia kenakan. Parfum puluhan juta tak ketinggalan ia gunakan. Apalagi ia akan bertemu Sherly, harus wangi dan rapi, pastinya.


Sampai di kantor ternyata hening. Diruangannya belum ada siapa-siapa. Zapata cek ponselnya.


Sherly


"Itu doang balesannya? Kamu marah sama aku?"


Ih ribetnya nih perempuan.


Zapata


"Sumpah demi Allah nggak. Aku ngetik sambil senyum malah. Kok di kira marah sih.


Katanya mau kesini, aku tunggu"


Sherly


"Aku mandi dulu ya"


Zapata


"Baru mau mandi? Aku malah sempet ngira kamu udah di kantor"


Sherly


"Nggak, aku kan tadi baru ngasih tau doang. Udah ih, aku mau mandi daaaa"

__ADS_1


Zapata


"Kirim foto dulu" Balas Zapata cepat sebelum Sherly keburu masuk kamar mandi.


Sherly


"Ga mau. Aku udah andukan"


Zapata


"Mukanya aja" tawar Zapata.


Ah, ternyata tak di balas lagi. Zapata meringis padahal ngarep banget bisa lihat muka polos khas belum mandinya Sherly.


Pukul 11.00 siang Sherly sampai di kantornya Zapata. Ia naik lift khusus petinggi di perusahaan itu. Sampai di lantai tempat Zapata berada, ia melihat koridor ruangan nampak sepi. Langkah kaki Sherly terdengar anggun di sepajang lorong yang ia lewati.


Tok tok tok


"Masuk" titah Zapata.


Sherly membuka pintu dan saat mereka bertemu tatap, Sherly lantas menyunggingkan senyuman. "Selamat siang" sapanya.


"Di Wa bilangnya pagi mau kesini. Tapi datangnya siang" protes Zapata.


"Ternyata dosennya gak masuk, makanya gapapa kalo aku mengulur waktu, iya 'kan?" Sherly duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerja Zapata.


"Sahur katanya mau bangunin!?" sindir Zapata sembari fokus dengan pekerjaannya.


"Hahaha, iya maaf. Mungkin volume alarmnya kekecilan jadinya ga kedengeran" ucap Sherly beralasan.


"Kamu tuh kebo" pungkas Zapata.


"Ih nggak ya, sembarangan aja"


Tidak ada lagi perdebatan di antara mereka karena Zapata harus berkonsentrasi penuh pada laporan keuangan yang sejak semalam belum selesai ia periksa. Sedangkan Sherly menjatuhkan kepala di meja sembari jempolnya aktif menggeser layar ponselnya. Sesekali ia memencet ikon love pada postingan yang menurutnya sangat menarik.


"Pasti lagi liat foto cowo-cowo ganteng" lirih Zapata.


Sherly bangkit, menegakkan kepalanya. "Iya, nih cowo gantengnya" Sherly menunjukkan video panda tengah bergerombol yang mana salah satu dari segerombolan itu sedang bad mood. Sehingga hewan lucu itu terlihat seperti sedang kesal pada teman-teman yang menganggunya.


Zapata tersenyum, lalu ia berkata, "Ga boleh liat cowo ganteng ya, cukup liat aku aja. Aku kan ganteng"


"Iya, ga ada lagi yang lebih ganteng dari kamu" puji Sherly setelah itu menjatuhkan kepalanya lagi ke meja.


"Kamu ngantuk?" tanya Zapata.


"Nggak, cuma bosen aja"


"Ga ikhlas nemenin aku kerja?"


"Ck, ikhlas. Tapi kan kamu sibuk kerja bukan sibuk ngobrol sama aku" sungut Sherly.


"Oke" sahut Zapata dan seketika masalah selesai. Awalnya dia yang komplain, setelah dengar ucapan Sherly malah berasa dia yang di komplain.


"Bang Ta" lirih Sherly.


"Jangan panggil Bang Ta, aku ga suka!" tegur Zapata tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari laptopnya.


"Kamu, aku mau tanya. Itu gedung yang disebelah kok bagus banget. Itu bagian dari perusahaan kamu, ya? Kok desainnya gak sama. Kan biasanya kalo masih satu kesatuan pasti catnya ataupun bentuk luarnya pasti ada kemiripan" tanya Sherly tentang kantor yang sempat membuatnya takjub sejak kali pertama melihatnya.


Zapata diam, ia bingung bagaimana cara menjawabnya. Ia takut kalau di jawab sejujur-jujurnya malah akan membuat Sherly merasa tidak di perlakukan sama. Atau malah bisa membuat Sherly merasa lebih buruk lagi. Mau bohong pun, Zapata sebetulnya tak tega. Bagaimana pun kejujuran itu yang paling utama dalam sebuah hubungan.

__ADS_1


__ADS_2