
"Gagal nih perjodohan yang di gadang-gadang Nanda" ledek Bibin yang bersamaan dengan Zapata menjenguk anak Rama.
Zapata tertawa sembari mengingat saat mereka ngumpul minggu lalu kalau Nanda menggebu-gebu ingin menjodohkan anaknya dengan anak Rama. Yang ternyata saat lahir, anak Rama malah laki-laki.
"Ini kalo ada Nanda, pasti kita bully" ucap Rama.
Sayangnya abdi negara itu tidak bisa barengan menjenguk kerumah sakit karena masih ada tugas negara yang harus ia kerjakan. Nanda berkata kemungkinan nanti malam dirinya dan Dinda akan menjenguk Feza.
Suasana diruangan Feza penuh makanan. Yang makan bukan Feza, melainkan yang menjenguknya.
Bahkan Rama, Bibin, dan Zapata sanggup duduk lesehan demi nyaman makan mie ayam hasil beli di kantin rumah sakit. Tak berselang lama, kedua orangtua Feza datang menjenguk cucu mereka.
"Assalamu'alaikum" ucap mertua Rama sembari membuka pintu ruangan.
"Wa'alaikumsalam" sambut mereka dari dalam.
"Wah rame ternyata" ucap mama Feza dengan buah tangan di kedua sisinya.
"Masuk ma, pa" ajak Rama menyambut dengan menerima parsel dari mama mertuanya.
"Feza istirahat?" tanya papa.
"Gak kok pa, lagi sarapan" jawab Rama.
Orangtua Feza pun bersalaman dengan Bibin dan Zapata lalu berjalan ke brankar Feza. Mereka menimang cucu pertamanya sambil memberi wejangan pada pasangan orangtua baru itu dan juga pada 2 bujangan yang turut mendengarkan.
"Ini Za, mama liat di tiktok katanya bayi gak usah lagi pakek kaos kaki, biar merang*sang saraf motoriknya sejak dini" ucap mama Feza.
"Nanti ma lepasinnya, inikan masih pagi. Masih dingin. Nanti babynya masuk angin" ujar Feza.
"Diselimutin kan bisa" akhirnya mama melepas kaos kaki cucunya lalu ia tutup kembali dengan selimut.
"Tuh kan jadi kebangun. Gara-gara mama nih" ujar Feza yang baru dapet istirahat sebentar kini sudah harus menyu*sui lagi karena anaknya yang tiba-tiba menangis.
Rama mengajak teman-temannya yang sudah selesai sarapan untuk menghirup udara diluar. Biar Feza leluasa bisa memberikan ASI pada anaknya.
Papa mertuanya ikut keluar karena meski Feza adalah anaknya, tapi ia tetap memilih menghargai privasi Feza. Akhirnya diruangan hanya tinggal Feza dan mamanya.
"Mama Rama belum kesini, Za?" tanya mama.
__ADS_1
"Tadi telpon Rama sebelum mama papa nyampe. Katanya baru mau otw, paling sebentar lagi juga datang"
"Jadi kalian bakalan pindah kerumah orangtua Rama? Gak tinggal di apartemen lagi?"
"Iya ma, biar ada yang bantu aku urus baby. Mau tinggal dirumah mama juga sama aja kaya di apartemen. Mama sama papa keluar kota mulu, bakal sendirian juga akunya. Jadi lebih baik tinggal dirumah mertua aja. Kan ada Puput, Arse, mama Rita, aku jadi banyak yang bantuin ma"
"Ya mau gimana lagi Za, papa kamu kan kerjanya memang luntang-lantung. Mau gak mau sebagai istri, ya harus dampingin suami terus. Gak papa, kalo kamu milih tinggal sama mertua, nanti setiap mama di Jakarta mama kunjungin cucu oma disana" pungkasnya sembari mengusap kening cucunya.
"Iya ma"
Tak lama kemudian, mama Rita dan Puput datang. Mereka membawa beberapa perintilan bayi yang memang sudah Rama pesan. Karena ternyata meski sudah diperhitungkan, tetap ada saja yang tertinggal dirumah.
Akhirnya orangtua Rama dan Feza kumpul semua diruangan itu. Sedangkan Bibin dan Zapata memilih pamit pulang karena tidak mau mengganggu pertemuan dua keluarga itu.
***---***
POV Zapata
Sepulang dari rumah sakit, aku kembali ke kantor. Bibin juga sudah pulang kembali ke asalnya, kami berpisah dijalan.
Kurang lebih setengah jam lagi aku ada meeting dengan Mr. Tom. Yang waktu itu sempat kuancam karena dia hendak mencabut sahamnya dari perusahaanku.
Akhirnya aku mengiriminya pesan.
Zapata (09:30)
"Lagi ada jam kuliah ya by?"
Zapata (09:35)
"By, nanti kalo udah selesai telpon aku ya"
Zapata (09:40)
"By, kuliah hari ini sampe jam berapa?"
Zapata (09:45)
"By, kirim ke aku jadwal kuliah kamu satu minggu. Biar aku tau jam kuliah kamu setiap harinya"
__ADS_1
Zapata (09:50)
"By, ya Allah balas napa"
Zapata (09:55)
"By, aku meeting dulu"
Aku meninggalkan ponselku di meja kerja dan menuju ke ruang meeting untuk menunggu kedatangan Mr. Tom. Setelah beliau datang, kami mulai membahas perihal kontrak kerja sama dan mulai menandatangani klausul perjanjian kerja sama. Mr. Tom ini meskipun berkelakuan bejat dikehidupan nyata, namun dalam hal bisnis beliau orang yang sangat mumpuni dan bertanggungjawab.
Hampir 3 tahun kami bekerja sama, tidak ada yang namanya kerugian ditanggung salah satu pihak. Melainkan ditanggung oleh kedua belah pihak. Aku sangat mengagumi sosok pebisnis seperti dirinya, hanya saja dikehidupan aslinya beliau pemain ulung.
Mr.Tom memiliki seorang istri dan tiga anak perempuan. Dilihat dari sosial medianya, beliau ayah yang baik dan sangat penyayang keluarga. Tapi kalau sudah diluar rumah, Mr. Tom akan jalan dengan beberapa gadis dan berakhir di hotel mewah.
Walau dia begitu, aku sama sekali tidak pernah merayakan kerja sama kami dengan menghadirkan perempuan penghibur. Sebab, jujur saja aku tidak suka bapak-bapak yang nakal. Apalagi sudah punya anak dan gadis-gadis pula. Harusnya sadar dan tobat, jangan sampai karma lebih dulu menghampiri anakmu.
Selesai pertemuan kami, Mr. Tom langsung pamit bersama asisten dan sekretarisnya. Aku pun juga langsung kembali keruang kerjaku.
Aku membuka ponsel dan ternyata masih tidak ada pesan balasan dari kekasihku. Jelas aku jadi naik darah.
Zapata
"Masih hidup by?"
Pesan itu kukirim sebelum aku memutuskan untuk pulang kerumah. Dan seluruh pekerjaan, kuserahkan kepada Eko dengan bonus izin cuti selama 3 hari.
Sesampainya dirumah, aku menjalankan sholat dzuhur dan tidur siang. Selera makanku hilang karena pesan yang tak kunjung dibalas membuat semua jadi serba tak enak.
"Mas Ta, gak makan siang dulu?" tanya bibi karena saat aku pulang langsung ke kamar dan tak turun-turun lagi.
"Ngantuk bi" jawabku.
Setelah itu ia langsung pergi, karena terdengar langkah kaki yang menjauh dari kamarku. Huh, mengapa tidak ada satupun yang mau membujukku. Padahal, kalo bibi mau baik-baikin aku mungkin saja aku jadi berselera untuk makan siang. Sekarang, mau lanjut tidur pun tidak bisa lagi karena sudah terganggu oleh bibi.
Sampai sore harinya, aku betul-betul sudah muak. Kutelpon lagi pacarku untuk memastikan keadaannya. Sampai aku bingung sendiri dengan situasi saat ini. Antara aku sedang marah atau sedang khawatir.
Lagi-lagi aku kecewa karena panggilan dariku diabaikan. Bukan sekali atau dua kali, tapi ini sudah sampai sepuluh kali. Anak kuliahan mana yang semester dua tapi sibuknya sudah mengalahkan presiden?
Kubanting ponselku ke kasur lalu aku pergi kerumah Bibin. Mencari kesenangan untuk melepaskan penat dan kesalku.
__ADS_1
POV Zapata end