Cinta Acha

Cinta Acha
103


__ADS_3

Cuma satu kali pelepasan Acha meminta Riyan untuk berhenti. Bukan tanpa maksud. Acha cuma gak mau aja kepaean. Egois, enggak. Tapi, Acha gak mau jantungnya kumat dan Membahayakan calon anaknya juga dirinya.


"Katanya capek. Kok gak tidur, Yank" alasan Acha untuk berhenti dengan kegiatan mereka adalah capek dan gak baik buat calon buah hati mereka.


"Maaf mas" Acha minta maaf sama Riyan? maaf kenapa?. Riyan merasa Acha gak punya salah sama Riyan. Lalu, kenapa Acha minta maaf.


Riyan gak tanya. Riyan cuma nunggu Acha ngejelasin. Kenapa Acha minta maaf.


"Pasti mas gak puas 'kan. Maafin Acha mas. Acha gak maksud"


Nah 'kan Riyan gak tanya Acha udah cerita. Riyan tau maksud Acha.


Riyan gak masalah kok soal Acha yang gimana 'pun. Riyan gak marah karena cuma sekali. Riyan malah seneng kalau Acha jujur. Acha jujur karena kecapean dan Riyan senang akan hal itu. Bisa jadi 'kan Acha bohong dan mereka bisa melanjutkan lagi tapi, gimana dengan kondisi Acha. Kalau Acha kecapean, pasti calon anaknya juga capek.


Riyan tersenyum melihat Acha. "Gak usah minta maaf, Yank. Mas gak masalah. Bagi mas, yang penting itu kamu dan calon buah hati kita. Mas bisa nahan tapi, mas gak bisa liat kamu kecapean trus sakit. Lebih baik mas nahan sampai Baby kita lahir dari pada kamu dan calon Baby kita kenapa napa" hati Acha tersentuh mendengar perkataan Riyan. Mendengar perkataan Riyan, membuat Acha menitihkan air mata bahagia.


Acha juga menatap Riyan. Jadi, mereka tatap tatapan. Tangan Riyan mengusap pipi Acha yang basah karena air mata.


Coba aja kamu tau, mas. Kalau sebenarnya aku minta berhenti itu karena aku takut jantungku kumat. Aku gak bisa kecapean, mas. Dan soal baby kita, baby kita kuat kalau Acha kuat. Tapi, karena Acha sakit, baby kita juga ikut lemah mas. Maafin Acha.


Acha ingin jujur sama kamu, mas. Tapi, Acha bingung mau jelasin ke kamu gimana. Aku takut kamu ninggalin aku saat aku sakit. Bukannya aku ragu'in perasaan kamu, mas. Tapi, ketakutan aku tetap ada. Semoga aja ada orang yang donor'in jantungnya buat aku tapi, itu gak mungkin. Gak mungkin ada orang yang rela'in jantungnya buat orang lain.

__ADS_1


Mas, Aku cuma berharap kalau aku bisa liat buah hati kita. Aku takut kalau aku gak bisa liat buah hati kita. Aku takut mas. aku takut.


Acha memeluk Riyan dan menangis diam. Walaupun diam, Riyan tau Acha sedang nangis. Tapi, Riyan gak tau asalan Acha nangis. Apa Acha masih merasa bersalah? Tapi, Riyan gak masalahin itu, kok. Apa Acha ada masalah? Kenapa Acha gak cerita? Apa yang Acha sembunyi'in?.


"Ada yang kamu sembunyi'in, Yank?" Acha gak berhenti nangis tapi, malah semakin nangis. Yang tadinya gak bersuara sekarang bersuara. Riyan makin bingung dengan Acha. Lalu, Riyan lebih mementingkan menenangkan Acha daripada Acha nangis terus kayak gini. Acha gak boleh stres.


"Udah udah. Cup sayang. Maafin mas. Maaf, mas gak akan nanya lagi ke kamu. Tapi, kamu diem ya"


Seharusnya aku yang minta maaf, mas. Seharusnya aku jujur sama mas. Seharusnya aku gak nyembunyiin penyakit aku dari kamu, mas. Maaf.


"Tidur, Yank"


"Laper, mas"


"Cumi bakar asam manis. Mas beliin ya"


"Iya, apa sih yang gak buat kamu, Yank. eak."


"Mas apaan sih"


"Udah sana. buruan"

__ADS_1


"Lepas donk pelukannya. Gimana mas mau pergi kalau kamu peluk terus.?


"Iya nie. udah kan" Acha melepas pelukannya dari Riyan.


"Mas" Riyan yang sedang memakai baju menoleh ke arah Acha.


"Kenapa, Yank"


"Beliin Bubble ya"


"Bubble?"


"Hem. Rasa Choco Oreo dan topping keju, mas"


"Dimana"


"Gak tau. Cari ya mas. Please. aku ingin banget lho mas."


"Ya udah, mas coba cari ya"


🌊🌊🌊🌊🌊🌊

__ADS_1


πŸ’Selasa, 19 Januari 2021πŸ’


__ADS_2