
Taman, saat ini Iqbal, Acha dan Vino sedang berada di taman samping rumah sakit. Tadi, saat di ruang dokter yang menangani Danial, Iqbal meminta Acha dan Vino untuk berbicara, hal penting.
Dan sekarang mereka sudah ada di taman. Tapi, hanya ada keheningan yang ada di antara mereka. Sejak keluar dari ruangan dokter itu, mereka hanya diam, gak ada yang memulai pembicaraan.
Acha menebak, apakah Iqbal udah tau tentang Danial?
Lalu, apa yang Iqbal lakukan saat tau adiknya itu sakit?
Tiba tiba Acha deg degan. Ya Acha deg degan karena pasti Iqbal akan marah kepada'nya karena telah menyembunyikan penyakit Danial. Tapi, itu juga atas kemauan Danial sendiri. Kalau aja, dulu Danial gak niat nyembunyiin ini semua dari Iqbal, pasti Acha akan ngasih tau ke Iqbal. Tapi, ini sudah terjadi.
Acha harus siap kalau Iqbal marah kepada Acha. Ini'lah resikonya, resiko yang harus Acha tanggung karena telah menyembunyikan penyakit Danial dari Iqbal.
Vino tau apa yang di rasakan Acha saat ini. Lalu, Vino menggenggam tangan Acha. Mencoba memberi semangat.
"Lo tega, Cha" tiga kata yang Iqbal ucapkan, yang membuat dada Acha semakin deg degan. Ia tau tapi bukan salah Acha sepenuhnya. Ini juga salah Iqbal. Uang dulu tak mau mendengarkan penjelasan Danial. Dulu Danial pernah akan menjelaskan mengapa Ia dan Ibunya pergi tapi, Iqbal terlanjur marah.
"Lo yang salah kak. Lo gak mau dengerin penjelasan Danial dan lo marah marah ke Danial. Padahal waktu itu Danial ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, lagi lagi kak Iqbal gak mau dengerin penjelasan Danial."
"Danial udah beberapa kali mau jelasih ke kak Iqbal tapi, sama. Kak Iqbal gak mau dengerin penjelasan Danial satu kali'pun. Jadi bukan salah gue kak. Tapi, itu salah lo sendiri"
Benar yang di ucapan Acha. Ia egois. Andai aja dulu Ia mendengarkan penjelasan Danial, pasti ini gak akan terjadi. Pasti Ia dan Danial gak ada jadi musuh. Mungkin Ia akan menyayangi Danial seperti keluarga yang lain. Mungkin sekarang Ia bisa menjaga adiknya itu saat sakit seperti ini. Mungkin mungkin mungkin. Hanya kata itu yang mampu Iqbal pikirkan. Andai andai dan andai.
"Trus. Kenapa lo gak cerita sana gue Cha. Lo tau semua yang lo minta akan gue lakuin. Termasuk dengerin penjelasan lo tentang Danial"
"Sorry kak, kalau masalah itu, lo tanya aja sama Danial. Gue gak mau ngurusin masalah lo sama Danial. gue gak mau di salahin"
"Cha, please jelasin ke kakak. Kakak gak mau ada yang di sembunyiin Danial dari kak"
Acha narik nafasnya. Mencoba menetralkan pikiran dan hatinya. Acha mulai menceritakan asal mula sampai sekarang.
Vino yang mendengarkan hal itu lalu merasa bersalah kepada Danial karena dulu Vino menjauhkan Acha dari Danial. Padahal hanya ada Acha di samping Danial.
Dulu saat Acha pergi bersama Danial, tiba tiba aja penyakit Danial kambuh dan Acha segera membawa Danial ke rumah sakit. Acha menunggu Danial sampai Danial siuman. Dan setelah siuman Danial menyuruh Acha untuk pulang tapi, Acha gak mau. Karena hanya Acha yang Danial punya. Ibu Danial udah gak ada karena stres, banyak pikiran. Acha gak akan biarin Danial di rumah sakit sendiri. Lalu, Acha memutuskan untuk menemani Danial dan meminta ijin ke Vino kalau Acha harus di rumah sakit menunggu Danial.
Tapi, hp Acha mati dan Acha gak ingat nomer hp Vino. Acha pergi ke receptionist untuk meminjam telepon. Tapi, gak ada suara sambung dan hanya suara operator. Ya, Acha menghubungi Aliano. Karena nomer Aliano yang Acha ingat.
πππ
Setelah mendengarkan penjelasan Acha, Iqbal pergi entah kemana. Sekarang hanya ada Acha dan Vino. Vino mengusap lembut bahu Acha.
Vino menggandeng tangan Acha untuk kembali ke ruangan Acha. Vino takut kondisi Acha akan menurun karena memikirkan masalah ini. Ia takut itu akan mempengaruhi janin dan juga kesehatan Acha.
πππ
Pagi harinya Acha sudah di perbolehkan pulang. Riyan yang menjaga Acha setelah mengantar Ana pulang. Acha meminta Riyan untuk tinggal sementara di rumah Vino. Dan Riyan' pun menyetujuinya. Karena yang terpenting bagi Riyan itu adalah kebahagiaan dan kenyamanan Acha.
__ADS_1
Riyan menuntun Acha untuk memasuki mobilnya. Riyan membawa Acha pulang ke rumah mereka sendiri. Karena Riyan akan mengambil beberapa baju yang ada di pakannya saat di rumah Vino.
πππ
Mommy Ana dan Daddy Reza sudah tau kalau Aliano dan Vino masih hidup. Kemarin malam Aliano dan Vino pulang ke rumah Vino. Ana dan Reza terkejut karena Aliano dan Vino berada di hadapannya.
Tapi, Ana dan Reza bersyukur karena Aliano dan Vino masih disini, dipelukannya. Vino bilang ke Ana kalau Acha akan tinggal disini dan menyiapkan kamar agar Riyan gak curiga. Mereka belum sepenuhnya percaya ke Riyan. Karena orangtua Acha dan Orangtua Riyan yang membuat orangtua Vino gak percaya lagi.
πππ
Aliano dan Vino tinggal di rumah Vino bersama orangtua Vino. Sedangkan, Diva dan Nadia tinggal di rumah keluarga Nadia bersama Eva. Karena orangtua Nadia dan Eva tinggal di London.
πππ
Riyan sudah sampai di rumah'nya. Acha langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa baju Riyan.
Riyan ikut masuk ke kamar untuk membawa kopernya, Riyan gak mau Acha capek dan Riyan juga gak mau sampai Acha kenapa napa.
Acha dan Riyan masuk ke mobilnya tapi, belum juga Riyan menstater mobilnya ada mobil yang berada di samping mobil Riyan.
Orang itu turun dari mobilnya. Mama Ryana dan Papa Andri yang datang ke rumah Riyan. Mereka ingin menjenguk Acha yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Riyan dan Acha ikut turun setelah mengetahui siapa yang datang ke rumah mereka. Riyan dan Acha menyalami Ryana dan Andri.
"Lho, kalian mau kemana?,"tanya mama Ryana
"Kenapa?"
Satu kata yang membuat Acha berpikir kalau Ryana gak ngijinin Acha dan Riyan.
"Bukannya Acha baru aja pulang dari rumah sakit? kenapa harus ke rumah Vino? kenapa gak di rumah ini aja atau di rumah Mamah" tuh benarkan, pasti Mama Ryana gak ngijinin Acha dan Riyan pergi.
"Mas, aku capek" Acha berbisik ke Riyan
"Mah, Pah, Riyan dan Acha harus pergi. Kasihan Acha, Mah. Acha harus istirahat"
"Acha istirahat disini aja. gak usah ke rumah Vino segala. Acha harus istirahat sekarang. di rumah ini"
"Mah, udah mah. biarin mereka pergi. Mereka pergi cuma beberapa hari kok. Udah ya Mah, kita pulang aja" Andri tau situasi saat ini. Andri memilih mengajak Istrinya untuk pulang ke rumah mereka sendiri.
"Gak bisa Pah, Riyan dan Acha harus tinggal disini"
"Yaudah kalau Mamah mau Mas Riyan disini, gapapa kok. Biar Acha yang pergi Mah. Mamah disini aja nemenin mas Riyan. aku gapapa kok" Acha langsung pergi setelah mengucap kata kata itu. Acha pergi ke jalan raya untuk mencari taksi.
"Sayang, tunggu mas, Cha. Mah Pah, Maaf. Riyan harus pergi Riyan gak mau kehilangan Acha lagi. semoga Mamah ngerty keadaan Riyan" Riyan berlari menyusul Acha yang sekarang ini berdiri di tepi jalan raya.
__ADS_1
Acha yang melihat Riyan menghampirinya langsung berjalan untuk menjauhi Riyan dan Riyan langsung aja menggenggam tangan Acha sebelum Acha berjalan menjauhinya.
"Sayang, tunggu"
"Kenapa Mas. mas mau ngajak aku untuk tinggal di rumah kita atau di rumah mamah"
"Enggak sayang, kita akan ke rumah Vino. tapi mas mohon, jangan tinggalin mas, Cha. mas gak mau jauh dari kamu, Cha"
Acha diam
"Sayang, dengerin ya. kamu mau kemana aja pasti mas selalu di samping kamu. Ingat, mas gak mau kamu jauh dari mas. cukup sekali aja, Yank. mas gak mau sampai aja yang kedua"
Acha masih diam
"Huft, Yaudah mas ambil mobil dulu. Kamu tunggu disini. ingat, jangan kemana mana."
Riyan kembali ke rumahnya untuk mengambil mobil. Lalu, Riyan menghampiri Acha yang masih di pinggir jalan. Riyan menghelakan nafasnya lega. karena Acha masih menunggu'nya.
Di perjalanan ke rumah Vino, Mereka hanya diam. Apa Acha marah? Huft ini semua karena sikap mamah'nya yang gak berubah masih egois. pikir Riyan.
"Oh Iya ya, Acha'kan belum bilang ke Mommy kalau Acha mau nginap disana. Acha Chat Mommy dulu, deh" batin Acha, lalu membuka chat wa dan langsung mengirim pesan ke Mommy Ana.
"Yahh, keduluan Bang Vino, Deh," ucap Acha saat melihat isi pesan yang dikirimkan Mommy Ana.
"Hah? Apa Yank, Vino" ehh Acha sadar kalau di samping'nya ada Riyan.
Tapi, Acha gak jawab. Riyan tau Acha sedang marah. terbukti saat Ia bertanya Acha gak menjawab.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Vino. Di rumah Vino sudah ada Ana, Reza, Aliano. Sedangkan Vino ada di rumah sakit karena ada jadwal praktik.
Acha langsung turun dari mobil tapi enggak masuk ke rumah. Acha menunggu Riyan dulu yang sedang mengambil koper' ya di jog belakang.
Setelah itu, Acha mengetuk pintu dan mengucap salam. Reza lah yang membuka'kam pintu rumah itu. Lalu, Reza memeluk Acha sebentar dan langsung menyuruh Acha dan Riyan masuk ke rumah.
πππ
πππ
πππ
πππ
πππ
Sorry gaes baru bisa Up. beberapa hari yang lalu akunku eror jadi baru bisa up sekarang.
__ADS_1
sebagai permintaan maaf ku, khusus part ini aku buat panjang dari biasanya.
πSelasa, 23 November 2020π