
Riyan langsung menyusul Acha ke kamar. sesampainya di kamar, Riyan melihat Acha yang sedang berdiri menghadap jendela. Riyan menutup Pintu kamarnya dengan pelan. Lalu, melangkah mendekati Acha, juga dengan Langkah pelan.
Riyan langsung memeluk tubuh Acha dari belakang. Acha yang di peluk Riyan langsung tegang, kaget. Acha langsung tau siapa yang memeluk' nya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Riyan.
Acha memegang tangan Riyan yang melingkar di perut 'nya. Acha mengelus pelan tangan Riyan, gak ada yang mereka lakukan. Hanya ada keheningan diantara mereka.
Satu menit
dua menit
tiga menit
empat menit
"Gimana Mas. Bang Rendy mau 'kan masakin buat Acha?" Acha ingin sekali masakan buatan Rendy. Dari beberapa hari yang lalu, sih. Tapi, baru bilang hari ini.
"Maaf Yank. Mas udah bujuk Rendy. Tapi, Rendy gak mau. Kata 'nya capek. Rendy langsung pergi ke kamar. Maaf ya Yank, gimana kalau Mas aja yang buat. Atau enggak Mommy aja".
"Enggak, Mas. Aku tu cuma mau makan masakan Bang Rendy. Aku gak minta apa apa, cuma itu aja. apa susahnya sih, mas"
"Yank. Permintaan iamu gak susah. Makannya, sekatang Mommy masak buat kamu. Nanti
"Mas" Acha udah mulai nangis. Air kata Acha udah menetes sampai di tangan Riyan.
"Sayang" perlahan tangan Riyan melepas pelukan pada tubuh Acha. Lalu, membalikkan tubuh Acha menghadap Riyan. Tangan Riyan menghapus air mata Acha yang menetes di pipi Acha. Riyan melihat mata Acha yang mulai memerah. Riyan merasa bersalah kepada Acha.
Seharusnya Ia gak bikin Acha nangis, walau secara gak langsung ini bukan kesalahannya. Tapi, Riyan tetap nyalahkan diri Riyan sendiri.
Riyan seharusnya bisa menuhin kemauan Acha, mungkin itu juga kemauan Anaknya.
Dada Riyan sesak, karena melihat air mata Acha yang terus menetes. Padahal Ia udah hapus air kata itu tapi, tetap aja masih menetes.
"Maaf"
"Yank"
"Ya udah, tidur yuk"
"Yank"
"Kalau bang Rendy gak masak. mending aku tidur Mas. Mungkin kalau aku udah tidur. Laper aku hilang.
"Dek" Mommy Ana mengetuk pintu dan memanggil nama Acha dengan sebutan Dek.
__ADS_1
"Masuk Mom" Riyan yang menyuruh Ana masuk, bukan Acha. Karena Acha masih nangis sesegukkan.
Ana membuka pintu kamar Acha. Melihat Acha yang sedang menangis. Mungkin hormon ibu hamil. pikir Ana.
"Dek, Ni mommy bawakan masakan kesukaan Bang Vino buat Adek."
"Enggak ,mom. Aku gak mau. Aku gak nafsu makan"
"Yahh, Dek. Padahal Mommy udah capek lho masak buat Adek. masa sih, Adek gak makan masakan Mommy. Mommy sedih lho" muka Ana menunduk menandakan kalau Ia sedang sedih. Acha dapat melihat itu. Rasa bersalah hinggap di hati Acha. Tapi, anaknya gak mau makan masakan Oma nya. Anaknya maunya makan masakan om' nya, yaitu Rendy.
Dari pada Mommy Ana sedih. Gapapa deh. Aku makan aja. walau dikit. Batin Acha
"Ya udah Mom. Adek mau makan tapi, dikit aja ya" Acha langsung duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ana menghampiri Acha yang duduk di sofa.
Ana menaruh piring yang berisi makanan di meja samping sofa.
"Oh Iya, Dek. Tadi, Bang Rendy bilang ke Mommy, Kalau Bang Rendy mau nyuapin kamu, mau 'kan dek"
"Lho, Mom. Bukannya Bang Rendy tidur ya, tadi katanya capek"
"Jadi gak boleh Abang kesini" tiba tiba ada Rendy di depan pintu. Karena tadi Ana gak tutup pintunya
Riyan langsung menyusul Acha ke kamar. sesampainya di kamar, Riyan melihat Acha yang sedang berdiri menghadap jendela. Riyan menutup Pintu kamarnya dengan pelan. Lalu, melangkah mendekati Acha, juga dengan Langkah pelan.
Riyan langsung memeluk tubuh Acha dari belakang. Acha yang di peluk Riyan langsung tegang, kaget. Acha langsung tau siapa yang memeluk' nya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Riyan.
Acha memegang tangan Riyan yang melingkar di perut 'nya. Acha mengelus pelan tangan Riyan, gak ada yang mereka lakukan. Hanya ada keheningan diantara mereka.
Satu menit
dua menit
tiga menit
empat menit
"Gimana Mas. Bang Rendy mau 'kan masakin buat Acha?" Acha ingin sekali masakan buatan Rendy. Dari beberapa hari yang lalu, sih. Tapi, baru bilang hari ini.
"Maaf Yank. Mas udah bujuk Rendy. Tapi, Rendy gak mau. Kata 'nya capek. Rendy langsung pergi ke kamar. Maaf ya Yank, gimana kalau Mas aja yang buat. Atau enggak Mommy aja".
"Enggak, Mas. Aku tu cuma mau makan masakan Bang Rendy. Aku gak minta apa apa, cuma itu aja. apa susahnya sih, mas"
"Yank. Permintaan iamu gak susah. Makannya, sekatang Mommy masak buat kamu. Nanti
__ADS_1
"Mas" Acha udah mulai nangis. Air kata Acha udah menetes sampai di tangan Riyan.
"Sayang" perlahan tangan Riyan melepas pelukan pada tubuh Acha. Lalu, membalikkan tubuh Acha menghadap Riyan. Tangan Riyan menghapus air mata Acha yang menetes di pipi Acha. Riyan melihat mata Acha yang mulai memerah. Riyan merasa bersalah kepada Acha.
Seharusnya Ia gak bikin Acha nangis, walau secara gak langsung ini bukan kesalahannya. Tapi, Riyan tetap nyalahkan diri Riyan sendiri.
Riyan seharusnya bisa menuhin kemauan Acha, mungkin itu juga kemauan Anaknya.
Dada Riyan sesak, karena melihat air mata Acha yang terus menetes. Padahal Ia udah hapus air kata itu tapi, tetap aja masih menetes.
"Maaf"
"Yank"
"Ya udah, tidur yuk"
"Yank"
"Kalau bang Rendy gak masak. mending aku tidur Mas. Mungkin kalau aku udah tidur. Laper aku hilang.
"Dek" Mommy Ana mengetuk pintu dan memanggil nama Acha dengan sebutan Dek.
"Masuk Mom" Riyan yang menyuruh Ana masuk, bukan Acha. Karena Acha masih nangis sesegukkan.
Ana membuka pintu kamar Acha. Melihat Acha yang sedang menangis. Mungkin hormon ibu hamil. pikir Ana.
"Dek, Ni mommy bawakan masakan kesukaan Bang Vino buat Adek."
"Enggak ,mom. Aku gak mau. Aku gak nafsu makan"
"Yahh, Dek. Padahal Mommy udah capek lho masak buat Adek. masa sih, Adek gak makan masakan Mommy. Mommy sedih lho" muka Ana menunduk menandakan kalau Ia sedang sedih. Acha dapat melihat itu. Rasa bersalah hinggap di hati Acha. Tapi, anaknya gak mau makan masakan Oma nya. Anaknya maunya makan masakan om' nya, yaitu Rendy.
Dari pada Mommy Ana sedih. Gapapa deh. Aku makan aja. walau dikit. Batin Acha
"Ya udah Mom. Adek mau makan tapi, dikit aja ya" Acha langsung duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ana menghampiri Acha yang duduk di sofa.
Ana menaruh piring yang berisi makanan di meja samping sofa.
"Oh Iya, Dek. Tadi, Bang Rendy bilang ke Mommy, Kalau Bang Rendy mau nyuapin kamu, mau 'kan dek"
"Lho, Mom. Bukannya Bang Rendy tidur ya, tadi katanya capek"
"Jadi gak boleh Abang kesini" tiba tiba ada Rendy di depan pintu. Karena tadi Ana gak tutup pintunya
__ADS_1