
Badan Acha rasanya capek banget deh. Tadi setelah Acha melakukan kewajibannya sebagai istri Riyan, Mereka langsung pulang ke rumah Vino. Acha yang minta.
Sebenarnya Acha gapapa, sih kalau Acha harus tinggal lagi berdua di rumah mereka. Tapi, ada satu hal yang membuat Acha harus tetap di rumah Vino. Paling gak satu hari. Atau karena ini udah siang, besok pagi Acha akan meminta Riyan untuk pulang ke rumah mereka.
Diperjalanan pulang, Acha merasa jantungnya gak enak. Maksud'nya tiba tiba aja sakit. Tapi, gak sakit banget kok. Cuma kerasa aja. Ini udah biasa terjadi kepada Acha.
Dulu, saat Acha kabur ke London. Acha juga seperti ini. Ini karena Acha kecapean. Acha harus istirahat tapi karena perjalanaj yang jauh sampai rumah Acha langsung pingsan.
Dan sekarang Acha merasakan lagi. Pasti ini Acha kecapean. Seharusnya Acha istirahat bukan pulang ke rumah. Acha ingin bilang ke Riyan tapi gak deh. Mending Acha tidur aja di mobil. Biarin'lah Riyan nyetir sendiri tanpa ada yang memenin.
Setengah jam, sudah setengah jam Acha gak bisa tidur. Karena jantungnya yang makin sakit. Seharusnya Acha minum obat tapi, Acha gak bisa. Acha gak bisa bahayain calon anaknya. Acha lebih rela sakit daripada kehilangan buah hatinya dengan Riyan.
"Kenapa Yank" kayak nya Riyan sadar deh kalau Acha gak nyaman. Bukan gak nyaman karena duduknya tapi, karena rasa sakitnya.
"Cuma capek, kok mas"
mendengar ucapan Acha, Riyan merasa bersalah karena udah bikin Acha capek. Riyan egois gak?. Riyan mikir kalau Ia egois. Ia terlalu mikirin dirinya sendiri daripada istri dan anaknya.
"Mas gak usah merasa bersalah. Ini wajar mas. Acha'kan lagi hamil jadi, Acha mudah capek."
"Beneran Yank. Kamu gak lagi hibur mas'kan"
__ADS_1
"Enggak Mas. Ini beneran kok"
🌊🌊🌊
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Vino. Sedangkan kondisi Acha udah semakin menurun.
"Yank" Riyan menoleh kearah Acha. Melihat Acha yang sedang memegangi dadanya. Dari kemarin Riyan melihat itu, sebenarnya Acha kenapa?.
"Mas gendong ya" Acha gak sanggup untuk berjalan dan memilih mengangguk meng-iya-kan ucapan Riyan.
Vino dan Aliano berada di rumah. Mendengar suara mesin mobil. Mereka mengintip di balik jendela. Terkejut melihat Riyan yang membopong Acha. Takut karena ketauan kalau Mereka ada di rumah. Khawatir karena melihat kondisi Acha yang gak baik.
"Gimana Bang"
"Kalian kenapa" Mommy Ana melihat Vino dan Aliano sedang gelisah sambil mengintip.
"Acha sakit Mom. dan Riyan ada di depan"
"Yaudah. Kamu ke kamar Kak. dan Abang jadi Rendy"
"Oke Mom"
__ADS_1
Aliano dan Vino pergi ke kamar masing masing. Sedangkan Mommy Ana pergi membuka pintu untuk Riyan dan Acha.
Mommy Ana menyuruh Riyan untuk ke kamar. Sedangkan Dikamar Vino, Ia merasa bingung. Kalau Ia keluar dan menemui Riyan di kamar Acha. Memeriksa Acha Lalu, kalau Riyan tanya gimana?.
Gak jadi deh. Vino gak jadi keluar kamar. Vino gak mau Riyan cemburu lagi. Ini belum saatnya Ia keluar dan mengatakan kalau Ia adalah Vino, Virza Rendy Adhiavino.
🌊🌊🌊
Riyan membaringkan tubuh Acha di ranjang kamar Acha. Mommy Ana langsung menanyakan kenapa Acha bisa pingsan.
"Acha gapapa, mom. Acha cuma kecapean aja, kok" bukan Riyan yang jawab tapi Acha.
"Iya mom. Acha kecapean aja kok, makannya Riyan gendong Acha".
"Huft, syukurlah kalau Acha baik baik aja. Yaudah mommy keluar ya. kamu istirahat disini"
Mommy Ana pergi ke kamarnya. Tapi,sebelum itu Mommy Ana pergi ke kamar Vino. saat di depan pintu kamar Vino, bertepatan dengan Vino yang membuka pintu.
"Mau kemana, Bang"
"Keluar aja mom. ke Rumah Sakit, mungkin"
__ADS_1
"Yaudah hati hati ya. oh iya, nanti kalau pulang nyamperin mommy ya. Ada yang mau mommy sampein ke kamu"
"Iya, mom. Vino berangkat ya, Assalamu'alaikum"