
Vino yang berada di ruangan mengingat kejadian tadi. Dimana saat Ia melihat Acha pingsan sampai merencanakan rencana agar Riyan ke rumah sakit.
πππ
Vino menghentikan mobil nya di depan lobby. Lalu, Vino menggendong Acha menuju ruang IGD. Sedangkan Diva memarkirkan dulu mobil Vino.
Vino yang membopong Acha langsung masuk ke ruang IGD yang di ikuti dua suster rumah sakit tersebut. Tapi, sebelum Vino masuk, Vino menyuruh seorang suster untuk mengambilkan jas dan alat dokter di ruangan Vino.
Vino mulai memeriksa Acha dengan bantuan dua perawat. Dua puluh menit memberi perawatan kepada Acha, Acha sadar.
Dua perawat itu pergi memeriksa beberapa pasien lain. Jadi, cuma Vino dan Acha.
"Kamu kenapa, Dek? Kenapa bisa pingsan? kamu gak ingat kondisi bayi kamu? Abang udah pernah bilang kan ke kamu, Dek? kalau kandungan kamu itu lemah, kamu mau kandungan kamu kenapa napa?" Vino gak marah kok Acha. Nada bicara Vino juga gak tinggi. Vino berbicara lemah lembut. Vino cuma ingetin aja, agar Acha gak stres dan berbahaya buat kandungan Acha, juga Acha nya sendiri.
"Bukan gitu, Bang. Acha gak kepikiran kesitu. Acha ada masalah, Bang." Acha langsung menjelaskan apa yang terjadi tadi ke Vino. Lalu, karena Vino gak tega melihat adiknya ini sedih dan bisa bahaya buat nyawanya dan kandungannya, Vino bertekad untuk membawa Riyan kesini.
"Kamu istirahat ya, Dek. Nanti kalau kondisi kamu udah stabil kita cari Riyan. kita cari bareng bareng dan Abang pastikan Riyan gak akan ninggalin kamu."
"Iya Bang, makasih."
__ADS_1
"Kamu tidur, Abang keluar ya." sebelum Vino keluar, Vino memberi pesan singkat ke Vika. Bilang kalau Acha ada di rumah sakit.
Vino keluar dari UGD dan di hadiahi beberapa pertanyaan dari Aliano dan Diva. Vino gak jawab, Vino langsung pergi ke ruangannya.
Vino duduk di kursinya, di depan Vino ada sebuah laptop. Layar laptop itu berisi aktifitas di rumah sakit. Mata Vino tertuju pada bagian Lobby. Karena Vino yakin Riyan pasti datang.
Gak berapa lama Vino melihat Vika yang berlari ke ruang IGD. Sesampainya Vika di depan ruang IGD, Vino memberi pesan ke Vika. Menyuruh Vika ke ruangannya.
Vino menyuruh Vika ke ruangannya untuk menanyakan apakah nomer Riyan aktif atau enggak. Dan ternyata nomer Riyan gak aktif.
Vino meminta Vika menelpon Riyan tanpa henti. Bukan satu atau dua kali tapi udah puluhan kali.
Vino melihat Orang ity yang mengajak Diva, Aliano dan Aryan pergi tersenyum senang karena Vino juga melihat Riyan yang berjalan ke arah ruang IGD.
"Lo, boleh keluar Vik."
Vika di usir?
"Enggak, gue gak ngusir lo, kok. Gue cuma mau bilang kalau Aliano, Diva dan Aryan ada di kantin. Nanti lagi deh cari tau soal Riyan. lo makan dulu aja."
__ADS_1
"Oh, oke"
Setelah Vika keluar, Vino gak langsung keluar menemui Riyan dan Acha. Vino memberi waktu untuk mereka berdua. Sekitar dua puluh menit atau lebih dikit, Vino baru keluar dari ruangannya menuju IGD.
Vino yakin, sekarang ini Riyan dan Acha udah baikkan. Vino membuka pintu IGD dan berjalan ke brankar Acha. Tapi, Vino gak liat adanya Riyan.
"Dek, sampai kapan kamu tidur hem." Vino mengira kalau Acha itu pura pura tidur padahal enggak. Karena Acha gak denger apa yang Riyan ucapkan.
Lalu, karena mendengar suara Vino, Acha terbangun dari tidurnya. "Pusing, Bang. Abang gak ngerty sih,"
"Riyan udah dateng?" tanya Vino pura pura gak tau kalau Riyan ada disini. Vino gak sengaja melihat sepatu seseorang yang ada di balik korden samping Acha.
""Gak tau Bang. Acha kan baru bangun tidur. Jadi gak tau,"
Selanjutnya ada di part dua sebelum ini ya.
πππ
πππ
__ADS_1
πSenin, 08 Maret 2021π