
Selamat Membaca
Episode empat
💫💫💦💦💦
Hari ini hari dimana Acha bertemu dengan Iqbal. Siang hari sebelum bertemu Acha merasa kalau harinya udah dekat. Acha merasa jantungnya makin menggila. Deg degan karena takut setelah pertemuan ini, akhir dari hidupnya.
Acha gak mau sampai terjadi sesuatu kepada anaknya nanti kalau belum waktunya lahiran. Acha ingin melahirkan anaknya terlebih dahulu sebelum Ia pergi selamanya.
Acha melirik jam tangan yang udah Ia pakai. Setengah jam lagi Ia akan berangkat ke tempat yang di maksud Iqbal. Gak berapa lama, suara mobil seseorang yang membuat Acha berdiri dan menghampiri asal suara itu.
Ternyata bener, mobil Aliano yang terparkir di depan halamannya. Aliano keluar dari mobil dan menghampiri Acha yang ada di teras rumah.
“Assalamu’alaikum Dek, udah siap?”
“Udah kak, ayok kak.” Acha dan Aliano masuk ke mobil Aliano.
Di dalam mobil Acha maupun Aliano gak ada yang dibicarakan. Hanya ada keheningan di dalam mobil tersebut. Aliano yang fokus menyetir dan Acha yang diam karena jantungnya semakin dag dig dug.
Tak berapa lama, Aliano melirik ke arah acha dan melihat Acha yang Cuma diam. Aliano sebagai kakak yang hidup bertahun tahun dengan Acha, memahami kalau saat ini Acha sedang gelisah. Tapi, Aliano gak tau apa yang membuat Acha gelisah sampai seperti ini.
Apa mungkin ini soal penyakit Acha? Kalau Iya. Bukan Cuma Acha aja yang memikirkan. Tapi, juga dengan Aliano dan Vino. Aliano dan Vino udah mencoba mencari donor jantung buat Acha sebelum Acha melahirkan. Tapi, usaha mereka gak menghasilkan apapun. Bahkan sampai sekarang, mereka sekarang ini hanya bisa pasrah. Karena waktu mereka gak lama lagi.
__ADS_1
Perhitungan kelahiran anak Acha kurang satu bulan lagi. Itu membuat Aliano juga Vino merasa takut kehilangan Acha. Sebenarnya Aliano dan Vino ingin memberitau kepada Riyan soal ini. Tapi, Acha gak mau sampai Riyan tau dan membuat Riyan juga Acha kehilangan calon anaknya.
“Apa yang kamu pikirin, Dek?”
Entah sadar atau enggak, Acha mengucapkan apa yang membuat Acha diam dari tadi “Kak, kok aku ngerasa besok aku gak bisa liat kalian ya?”
Ucapan Acha yang membuat Aliano deg-degan. Hati Aliano menjadi teriris dan air matanya mulai menggenang. Aliano takut kalau apa yang Acha omongin itu bener. Aliano gak bisa bayangin kalau itu semua benar terjadi.
Aliano berdehem membuat Acha tersadar akan omongannya barusan. Tubuh Acha mendadak tegang memikirkan apa yang Ia ucapkan. Kata kata itu spontan dari mulut Acha tanpa ada niatan untuk mengatakan itu. Acha diam Cuma takut kalau anaknya lahir sebelum waktunya. Tapi, kenapa ucapan Acha aneh?.
“Gak usah ngomong yang aneh-aneh deh, Dek. Gak usah bikin kakak takut.” Suara Aliano tegas, menutupi suaranya yang serak. Karena dalam hati Aliano udah nangis.
“Emang aku ngomong apa, Kak. perasaan aku gak ngomong apa apa, deh.”
Aliano menarik nafasnya lalu, menghembuskan “Apa yang kamu pikirin, sekarang, Dek?” Aliano ingin mencari tau apa yang sebenarnya di pikirin Acha. Sampai Acha gak nyadar kalau Acha bilang yang mengerikan. Bagi Aliano.
Acha turun, Aliano juga ikut turun. Aliano ingin mengikuti Acha masuk tapi, gak di bolehin sama Acha.
“Makasih kak udah nganter aku. kak Lian boleh pergi.” Acha gak bermaksud mengusir tapi, Acha tau kalau Aliano masih ada urusan dengan kekasihnya atau pekerjaannya. Entah, antara dua itu.
“Ya udah, kakak pergi ya Dek. Kalau ada apa apa telepon kakak. Kakak pergi dulu, Assalamu’alaikum.” Aliano kembali ke mobil dan melajukan mobilnya ke luar café.
Di dalam Mobil. Aliano masih memikirkan ucapan Acha. Apa ini tanda? Tanda kalau Ia udah gak bisa jagain Adeknya lagi. Apa ini pertanda kalau Ia gak bisa melihat Adeknya lagi. Apa ini udah waktunya.
__ADS_1
Aliano menangis dalam diam, tanpa suara. Tapi, air mata Aliano menetes tanpa bisa Ia cegah. Karena Hati, pikiran dan perasaanya sedang sedih. Vino harus tau. Aliano berpikir kalau Vino harus tau soal tadi percakapannya dengan Acha.
Aliano memasang handset Bluetooth di telinganya. Lalu, mencari kontak yang bertulisan BANG VINO.
“Assalamu’alaikum, Bang. Bang Vino dimana?” ucap Aliano langsung setelah Vino mengangkat teleponnya.
“Waalaikumsalam, Lin. Abang di rumah, kenapa?”
“Ketemuan di Rumah Bang, aku kesana.”
“Oke Abang tunggu, tapi jangan lama lama. Abang ada jadwal nanti jam 1 an.”
“Oke, Bang. Gue udah otw.” Aliano langsung menutup teleponnya agar fokus ke perjalanan.
Acha masih menunggu Iqbal yang belum juga datang. Lima menit sudah berlalu, Acha mengirim pesan kepada Riyan sesuai permintaan Riyan.
💫💫💦💦
Minggu, 07 November 2021
Pukul, 03.00 WIB
MAKASIH UDAH MAU BACA. JANGAN LUPA KLIK LIKE YA. KOMEN JUGA GAPAPA.
__ADS_1
Salam dari Syava.
Zulfa Alya Elsyava