Cinta Acha

Cinta Acha
Cinta Acha 2


__ADS_3

Part Satu


Bismillah. Mulai hari ini aku mau buat lagi cerita cinta Acha. Tapi, ini season dua ya.


Sebelum itu. Aku mau bilang makasih ke kalian yang masih tempatin novel cinta Acha ke favorit.


Semoga kalian suka dengan cerita ini. sekian dan terimakasih. Salam dari Author.


...***...


Beberapa bulan kemudian. Acha sedang berada di rumah dengan ditemani oleh Riyan. Sebenarnya Rian masih ada kerjaan tapi karena Acha yang minta, Riyan enggak jadi bekerja. Dan memutuskan untuk menemani Acha.


"Yank, mas gak sabar nunggu anak kita lahir." ucap Riyan kepada Acha yang saat ini tidur di pangkuannya.


"Acha juga gak sabar mas. Tinggal satu bulan lagi kita akan ketemu sama anak kita." ucap Acha yang tadi tiduran menjadi duduk.


"Mas, bahagia banget Yank. Gak lama lagi kebahagian kita bertambah." ucap Riyan yang memeluk Acha dari samping.


"Iya mas. Acha juga bahagia kalau mas bahagia." ucap Acha yang melingkar kan tangannya di perut Acha.


"Iya mas, Acha bahagia saat liat mas bahagia. Semoga kehadiran anak kita ini bisa buat kamu tersenyum saat Acha gak ada mas." batin Acha.


"Hey, Yank. Kenapa bengong. Gak baik lho buat ibu hamil." ucap Riyan yang membuat Acha tersadar.


"Gak kok mas, mas." Acha memanggil Riyan.


"Iya Yank. Kenapa? Mau sesuatu."


"Buatin makan ya mas," ucap Acha yang gak jadi bilang yang sebenarnya.


"Oke Yank, bentar ya."

__ADS_1


Acha diam, gak jadi mau bicara sesuatu ke Riyan. Sebenarnya Acha ingin bilang kalau Acha mungkin gak bisa jaga anak mereka. Karena penyakit jantung nya. Bukan tanpa alasan, tapi karena sebuah alasan yang bisa membuat Acha berpikir kalau Ia enggak akan selamat saat melahirkan nanti.


***


Saat usia kehamilan Acha memasuki lima bulan. Pernah sekali Acha masuk rumah sakit. Padahal Acha merasa gak kecapean sama sekali dan tiba tiba aja Acha sesak nafas, bahkan perut Acha juga kram.


Acha yang di rumah sendiri menjadi takut, dan mencoba meraba ke meja yang ada HP-nya


Gak tau Acha menelpon siapa. Karena cuma Asal aja. Ternyata nomernya Danial yang Acha hubungi. Saat mendengar Acha yang kesakitan, Danial langsung pergi dari rumah dan langsung menuju rumah Riyan.


Danial langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan melihat Acha yang udah tak sadarkan diri di kursi ruang tamu. Danial berlari ke Acha, menggendong nya dan keluar rumah untuk ke rumah sakit.


Akhirnya Danial membawa Acha ke rumah sakit. Walau rumah sakitnya agak jauh dari Acha. Tapi, Danial tetap membawa ke rumah sakit yang di sana sudah ada Vino. Di dalan perjalan menuju rumah sakit. Danial mencoba menghubungi Vino. Tapi sayang, Vino gak ngangkat telepon dari Danial.


“Angkat donk Bang, angkat.” ucap Danial karena Vino gak mengangkat teleponnya. Padahal udah lebih dari 4 kali. Karena telepon Danial gak di angkat angkat oleh Vino, danial memutuskan untuk mem VN Vino.


BANG, ACHA PINGSAN. GUE BAWA ACHA KE RUMAH SAKIT.


Lalu, Danial meletakkan hpnya ke dashboard. Perjalanan dari rumah Acha ke rumah sakit membutuhkan waktu 40 menit. Dan ini baru sepuluh menit dari mereka keluar rumah. masih lama dan Danial semakin takut kan terjadi sesuatu kepada Acha.


Sebenarnya bisa aja Danial membawa ke rumah sakit terdekat. Tapi, Dania takut salah. Karena dokter pribadi Acha bukan di rumah sakit itu. kalaupun dokternya udh mengenal Vino, tapi tetap aja Vino yang lebih tau tentang penyakit Acha dari yang lain.


Lima belas menit udah berlalu, Danial mengambil hp-nya untuk melihat apakah pesan VN itu udah di dengar Vino atau belum. Masih centang 2 belum berwarna. Itu pertanda kalau Vino belum mendengarkan apa yang Danial VN kan.


Danial melirik Acha yang duduk di sebelahnya, Danial bingung harus berbuat apa. salah satunya Cuma Vino tapi, Vino gak menjawab teleponnya. Terus Danial harus menghubungi siapa? Riyan, nomer hp Riyan aja Danial gak tau. Iqbal, Danial bisa meminta Iqbal untuk memberi tau kalau Acha pingsan kepada Riyan.


Bang, kasih tau kak Riyan kalau Acha pingsan.


Gue bawa Acha ke rumah sakit milik Bang Vino.


Sekarang gue sedang ada di perjalanan.

__ADS_1


Langsung centang dua setelah Danial mengirim VN tersebut. Dret dret drett, hp Danial bergetar saat Danial ingin meletakkan hp-nya di dashboard. Danial melihat siapa yang mengirim pesan dan ternyata Vino’lah yang mengirim pesan itu.


Pesan itu berisi kalau Vino akan mempersiapkan alat alat untuk Acha. Dan Vino akan menunggu Danial juga Acha di lobby.


Beberapa menit kemudian Danial udah sampai di rumah sakit. Vino yang tau mobil Danial, langsung menghampiri mobil Danial. Vino membuka pintu yang berisi Acha. Menggendongnya lalu meletakkannya di brankar.


Vino dan beberapa perawan mendorong brankar Acha menuju ke ruang IGD. Danial juga mengikuti setiap langkah Vino yang lebar karena ini situasi darurat.


Danial menunggu Acha di ruang tunggu. Danial mencoba lagi untuk menghubungi kakaknya, yang saat ini masih centang 2.


Baru aja Danial ingin menelpon Iqbal, Iqbal terlebih dahulu menghubungi danial. Langsung aja Danial mengangkat teleponnya.


“Hallo, Dan. Gimana keadaan Acha.” Danial bisa mendengar suara Iqbal yang khawatir.


“Buruan kesini Bang, ajak kak Riyan sekalian.” Pertanyaan Iqbal yang tak dijawab Danial membuat Iqbal kesal.


“Bilang ke Abang, gimana keadaan Acha.” ucap Iqbal penuh penekanan.


“Gue gak tau Bang, Acha masih di tangani oleh Bang Vino.” Danial takut Iqbal marah, padahal gak ada niatan Danial untuk membuat Iqbal marah.


“Gue kesana.” Iqbal langsung menutup teleponnya dan Danial malah bingung, tadi kan Ia menyuruh Iqbal untuk bilang ke Riyan kalau Acha di rumah sakit. Tapi, Danial gak denger ada suara Riyan. Apa bang Iqbal udah menghubungi Riyan? Karena kalau Riyan ada bersama Iqbal pasti Riyan langsung menyambar.


🌈🌈🌈🌈


Segini dulu ya teman teman. Besok aku lanjut lagi. See you next time. Babay.


Rabu, 08 September 2021


Pukul, 17.00


🌌¹²🦅Zulfa👑Alya🐧²⁴12

__ADS_1


__ADS_2