
Setelah kejadian tadi, Acha melupakan kesedihan karena kepergian Aliano, Vino, Diva dan Nadia. Lalu, sekarang yang ada di pikiran Acha hanya Danial.
Entah kenapa perasaan Acha gak enak mengenai Danial. Semoga gak terjadi apa apa dengan Dan.
Dan Dan Dan
Acha memang saat ini berada di rumah tapi pikirannya terus memikirkan Danial. Karena, Tadi Acha tak menemukan keberadaan Danial. Acha sudah mencoba menghubungi Danial tapi nomer Danial gak aktif. Acha juga sudah mencari Danial ke rumah Dan tapi, Acha tak menemukan keberadaan Danial.
Apa Danial baik baik aja?
Apa Danial pergi ke London, lagi?
Apa Danial tega ninggalin Acha?
Apa Danial udah gak sayang lagi ke Acha?.
Riyan melihat ke arah Acha dengan tatapan bingung dan khawatir. Riyan bingung kenapa Acha sampai memikirkan Danial dan Iqbal, dan kenapa Acha membela Danial. Riyan khawatir karena Acha sedang mengandung dan dari kemarin Acha hanya diam. Riyan takutnya akan memperburuk keadaan Acha dan baby mereka.
Riyan tersentak dari pikirannya karena mendengar suara Acha. Riyan bisa melihat Acha yang merintih dan memegangi perutnya.
Deg
Jantung Riyan berdetak lebih cepat. Dengan cepat Riyan menghampiri Acha.
__ADS_1
"Sayang"Riyan mencoba mengangkat Acha. Riyan gak mau terjadi sesuatu kepada Acha dan Baby mereka.
"Sakit mas" Acha gak tau kenapa tiba tiba perutnya sakit. dan saat ini Acha gak bisa mikir apa apa karena rasa sakit di perutnya.
"Sabar sayang, kita ke Rumah Sakit sekarang" Riyan mengangkat tubuh Acha.
Riyan menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Aryan.
"Acha kenapa Bang" Aryan melihat Acha yang menahan sakit dan memegangi perutnya. Aryan tau Acha sedang menahan sakit, tapi kenapa? bukannya tadi baik baik aja? tapi sekarang?.
"Ambil mobil Ar, kira harus ke rumah sakit"Arya berlari keluar rumah menuju bagasi.
Aryan mengendarai mobil nya dengan kecepatan full eh bukan, maksud nya dengan kecepatan diatas rata rata. Semoga aja perjalanan mereka aman dan terkendali.
🌊🌊🌊
Aryan menghentikan mobilnya di depan lobby. Riyan turun membopong Acha. Aryan pergi ke parkiran.
IGD
Aryan pergi ke IGD setelah memakirkan mobilnya. Ia bisa melihat Riyan yang duduk gelisah di kursi tunggu.
"Bang" Aryan menepuk pundak Riyan. Ia ikut merasakan apa yang di rasakan Riyan.
__ADS_1
"Acha, Ar" Riyan takut dan Aryan memeluk Riyan. Menenangkan Riyan.
"Kita berdoa Bang"
"Pasti Ar. gue gak mau terjadi apa apa dengan Acha dan Baby"
"Semua pasti baik baik aja Bang, Acha orang yang kuat. Acha bukan orang yang lemah. Abang tau itu"
Mereka melepaskan pelukan karena dokter yang menangani Acha keluar dari IGD. Riyan dan Aryan menghampiri dokter tersebut.
Dokter tersebut menyampaikan kalau Acha terlalu stres. Dan kurangnya asupan gizi.
Riyan akuin. itu semua memang benar. Beberapa terakhir ini Acha selalu murung. Lebih tepatnya, setelah kepergian Aliano dan Vino. Dan sekarang masalah baru yang sedang Acha pikirkan. Yaitu, Danial dan Iqbal.
Huft Riyan lelah. Ia gak tau apa apa. Ia harus gimana.
Acha sulit di nasihati. Trus gimana caranya Riyan ngasih tau.
Setelah bertanya ke dokter posisi Acha, Riyan masuk menyusuri ruang yang berkorden.
Riyan tak sengaja melihat korden ke lima. Disana ada seseorang yang Riyan kenal. Danial, seseorang yang Acha cari tadi dan sekarang orang itu ada di rumah sakit?.
Riyan berhenti di depan brankar Danial. Entah kenapa Riyan merasa kasihan kepada Danial. Karena gak ada seorangpun yang ada di samping Danial, saat Danial sakit.
__ADS_1
Karena gak tega, Riyan kembali ke luar ruangan untuk memanggil Aryan. Riyan menyuruh Aryan untuk menjaga Danial. Sedangkan Riyan menjaga Acha.