Cinta Acha

Cinta Acha
Capek


__ADS_3

Seperti yang Riyan rencanakan. Kalau sore ini Ia akan mengajak Acha jalan jalan. Riyan sudah rapi dengan baju santainya. Sedangkan Acha masih sibuk di dalam kamar. Entah apa yang Acha lakukan, Riyan gak tau.


Acha keluar lalu, turun menuju lantai bawah. Disana sudah ada Riyan yang duduk di kursi dengan memainkan hp.


Riyan sadar kalau Acha sudah di samping nya Lalu, memasukkan hpnya ke saku celana.



Riyan menatap Acha dari atas sampai bawah. Sederhana.


"Mas" Acha memanggil Riyan karena Riyan hanya memandang Acha. Padahal Acha ingin cepet cepet pergi jalan jalan. Melihat indahnya wisata ini di sore hari.


"Eh, Iya Yank. Yuk" Riyan mengulurkan tangannya kearah Acha dan di sambut Acha.


Mereka mengelilingi wisata tersebut. Indah pemandangan di sore hari.



Acha dan Riyan berjalan mengelilingi wisata tersebut dan melihat banyak keindahan disana. Di wisata itu juga ada orang yang sedang camping. Acha mengajak Riyan naik ke rumah pohon sederhana yang ada di atas jembatan yang terbuat dari kayu. Disana Acha lebih bisa melihat hal hal yang menajubkan.


Satu jam mereka ada di tempat itu, akhirnya mereka memutuskan untuk makan. Karena tadi siang mereka langsung tidur tanpa makan. Dan baru makan malam ini.

__ADS_1



Acha dan Riyan duduk di salah satu tempat yang ada payungnya. Tempat duduk itu tak menggunakan kursi, melainkan duduk lesehan.


Acha duduk di samping Riyan. Acha merasa ada getaran di hatinya saat Ia bersandar di dada Riyan. Acha juga merasakan kalau jantung Riyan berdetak lebih cepat.


Acha dan Riyan sama sama merasakan perasaan yang sama. Bukan hanya cinta diatas kertas.


Tak selang waktu lama, Acha duduk tegak karena pesanan mereka sudah sampai. Acha gak sanggup lagi menahan rasa laparnya. Karena sisa makanan tadi siang udah Ia keluarkan, lagi.


🌊🌊🌊


Sesampainya di kamar, Acha langsung duduk di kursi rotan. Karena Acha gak sanggup untuk naik ke bad cover. Terlalu tinggi buat Acha. Dan juga Acha takut kalau jatuh.


"Capek banget ya Yank" raut wajah Riyan menunjukkan kekhawatiran. Melihat Acha yang langsung duduk dan muka sedikit pucat membuat hati Riyan sakit.


"Enggak mas. Paling ini cuma em efek hamil aja. Jadi, gampang capek deh." Acha memaksakan senyum kepada Riyan. Walau sejujurnya jantung Acha mulai sakit.


Tapi, Riyan gak bisa di bohongi Acha. Karena dengan mata Riyan sendiri, melihat kalau muka Acha pucat dan tangan kiri Acha seperti memegang dada. Ya seperti, karena tangan Acha itu ada di atas dada dan di bawah leher. Pertengahan leher dan dada.


"Istirahat aja yuk" Riyan gak mau debat dengan Acha. Riyan yakin kalau Acha sedang nyembunyiin sakit dari Riyan. Tapi, Riyan gak tau sakit apa yang Acha rasakan.

__ADS_1


"Duluan aja mas" Acha mau berdiri aja rasanya susah. Apalagi naik ke tempat tidur. Bisa bisa jatuh di tangga.


"Mas cari yang lain Ya"


"Ha" Acha gak tau apa maksud Riyan. Cari yang lain. Cari apa?.


"Cari penginapan yang lain. biar nanti kamu gak naik turun tangga kayak gini"


Oh ini toh masalahnya. Acha paham.


"Gak mas, aku udah nyaman disini, kok. Disini aja ya"


Riyan berjongkok di hadapan Acha. "Mas gak mau kamu kecapean, Yank. Mas ingin kamu senyum bukan bikin kamu sakit" Riyan memegang kedua tangan Acha.


"Aku seneng, mas. Aku bahagia mas ajakin kesini. Rasanya Acha gak mau pulang. Tempat ini indah, udaranya masih asri. pas buat Acha yang lagi hamil. Mas terbaik deh buat Acha"


Riyan senyum. Riyan bahagia. Riyan gak nysel karena dijodohin dengan Acha. Riyan bersyukur, karena Acha udah gak kayak dulu lagi. Semoga aja Acha gak akan kayak dulu lagi. Riyan berharap Pernikahannya dan Acha selalu di Ridhoi sama yang diatas.


"Udah?" Riyan melihat Acha yang berdiri dari duduknya.


"Udah mas. Acha mau naik ya. Mas tungguin di bawah"

__ADS_1


__ADS_2