Cinta Acha

Cinta Acha
Kangen Abang dan Kakak


__ADS_3

Dokter Lia gak percaya kalau Vino korban kecelakaan pesawat itu. Lalu, dokter Lia mencoba menghubungi Vino.


Satu kali nomer gak aktif. Dua kali gak di angkat. Tiga kali juga gak di angkat.


Cukup.


sepuluh menit kemudian ada suara hp dengan nofit yang menunjukkan ada telepon masuk.


Virza


Nama itu yang tertera di layar hp nya. Lalu dokter Lia pun mengangkat telepon itu.


Beberapa menit menanyakan sesuati, dokter Lia mengatakan kalau Acha sedang ada di rumah sakit.


Tentu saja Vino terkejut. Lalu, Vino menutuskan untuk ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Vino, Aliano, Diva dan Nadia pergi ke ruangan Lia. Karena saking paniknya, Vino langsung mematikan teleponnya dan langsung pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Lia terkejut karena melihat Vino yang tiba tiba aja datang ke ruangannya. Padahal baru beberapa menit mereka teleponan.


Vino langsung menyuruh Lia untuk mengantarkan ke ruangan Acha. Sesampainya di depan ruangannya Acha, Vino ingin menarik knop pintu tetapi, ada suara yang membuat Vino menghentikan kegiatannya. Suara itu sama persis suara Riyan.


Vino menanyakan siapa aja yang di dalam sebelum Lia pergi dan ternyata ada beberapa orang yang ada di ruangan itu. Orangtua Acha dan Riyan pergi. Tak waktu lama Daddy Reza dan Riyan pun ikut pergi. Tinggal lah Ana yang sedang menunggu Acha. Sekitar lima menit kemudian Ana keluar dan Vino mengajak Aliano, Lia, Diva dan Nadia untuk masuk.


🌊🌊🌊


Ana pergi dari ruangan Acha. Beberapa detik setelah Ana pergi, ada lima orang yang masuk ke ruangan Acha. Orang itu adalah Dokter Lia, Aliano, Vino, Diva dan Nadia.


Acha menoleh ke arah pintu karena mendengar suara knop pintu yang di tarik seseorang. "Bang Vino, Kak Lian, Kak Diva, kak Nadia". Acha menitihkan air mata karena melihat orang orang yang Ia sayangi berada di dekatnya. Enggak, pasti ini mimpi.


"Ini beneran kalian? Kalian ada disini? Kalian gak ninggalin Acha?"


"Iya sayang, ini kakak. Kakak Lian ada disini" Aliano memeluk Acha.


Acha membalas pelukan Aliano. "Kak, Acha kangen banget sama kak Lian. Kak Lian kemana aja, sih. Kenapa gak ngangkat telepon Acha. kenapa.....

__ADS_1


"Suuut. Acha gak boleh nangis. Abang gak mau liat kamu nangis kayak gini. Kalau Acha masih nangis, Abang pergi lagi" Vino ikut memeluk Acha.


"Enggak Bang. Acha udah gak nangis kok. "Acha melepaskan pelukan dan menghapus air matanya"


"Lia, makasih ya karena lo, gue tau keadaan Acha," ucap Vino kepada Lia.


"Santai aja Vir. gue pergi ya. kalau ada apa apa telepon gue aja," ucap Lia sebelum pergi dari ruangan Acha.


Vino melihat bubur yang ada di meja masih utuh. Pasti Acha belum makan. pikir Vino.


"Sekarang Acha makan ya. biar Bang yang suapin" Vino mengambil bubur yang ada di meja.


"No. biar gue aja Bang" Aliano ingin merebut mangkuk bubur itu tapi Vino mengelak.


"No Al. lo harus ngalah donk sama gue. gue itu abang, lo. Jadi, lo harus nurut sama gue"


"Enggak Bang, seharusnya abang yang ngalah sama adiknya. jadi biar Lian yang nyuapin Acha."

__ADS_1


Mereka berdua berdebat sampai membuat Acha tertawa. Lucu, Udah lama gak melihat momen ini. Terakhir Acha merasakan momen ini sebelum Acha di suruh orangtunya untuk tinggal di jakarta, lagi.


__ADS_2