
"Yank" Acha bersender di dinding. Acha udah gak kuat buat buka mata tapi pendengaran Acha masih berfungsi. Yang artinya Acha gak pingsan.
Riyan menempelkan kepala Acha di dadanya. Mengusap kepala Acha pelan. "Kamu kenapa Yank, Kenapa bisa kayak gini?"
Acha gak jawab. Acha cuma menggelengkan kepala yang artinya gak tau.
"Kita balik ya. Mas takut kamu tambah sakit" Riyan ingin membawa Acha kembali ke brankar karena melihat celana Acha yang sudah basah. Riyan takutnya Acha tambah sakit.
Lagi, Acha menggelengkan kepalanya pertanda Acha gak mau keluar dari kamar mandi. Lebih tepatnya Acha gak mau kembali ke brankar.
"Yank, mas gak mau kamu tambah sakit. nurut ya sama mas" Riyan ingin menggendong Acha tapi, Acha malah nangis.
"Hiks hiks, gak mau" Acha menangis sambil menggelengkan kepalanya.
Dengan lembut Riyan bertanya "Kenapa"
"Mual mas. Hiks mual. Bau obat mas. Acha mual. Gak kuat. hiks" Acha bilang kek gitu dengan nada lemas. Bisa di bilang lirih.
"Mas harus gimana, Yank. Mas bingung"
Lagi lagi Acha diam. Karena Acha gak tau harus gimana. Ya kali bilang pulang. Yang ada Riyan curiga dengan Acha. Acha cari aman dengan diam.
Hanya satu yang ada di pikiran Riyan. Yaitu membawa Acha pulang.
Riyan mengambil hp nya yang ada di saku. Mencari kontak yang bernama Dr, Rendy. Lalu, Riyan menelpon Rendy agar segera datang ke ruang rawat Acha.
__ADS_1
"Hallo, Ren. Kesini sekarang. Acha pingsan" Riyan langsung mengucapkan kata kata itu dan langsung menutup teleponnya. Riyan memasukkan hp nya ke saku dan menepuk pelan pipi Acha. Riyan takut Acha pingsan.
"Aku gapapa, Mas" Acha mencoba membuka matanya, Walau sulit karena rasa pusing yang Acha rasakan.
Gak berapa lama kemudian Riyan dan Acha mendengar pintu yang di dobrak. Bruak. gitu.
🌊🌊🌊
Vino langsung berlari ke ruang rawat Acha setelah Riyan menelpon dan bilang kalau Acha pinsan. Untung aja ruang rawat Acha ada di lantai dua jadi, gak butuh waktu lama Vino sampai di ruang rawat Acha.
Karena terburu buru Vino sampai membuka pintu dengan kasar yang membuat bunyi seperti orang yang mendobrak. Vino melihat sekeliling tapi, gak ada Riyan dan Acha. Mata Vino tertuju pada satu titik yaitu pintu kamar mandi yang terbuka. Vino berlari ke arah kamar mandi.
"Riyan" Vino sampai di belakang Riyan.
"Bantuin gue Ren"
"Gak usah Ren. Acha akan gue bawa pulang"
"Enggak, Acha gak boleh pulang. Kondisi Acha belum sehat bener Riy"
"Tapi, kalau Acha disini itu juga memperburuk kondisi Acha, Ren. Acha mual mencium bau obat. Sampai Acha kayak gini. Apa lo tega Ren."
Iya, bener kata Riyan. Saat Vino melihat Acha, Vino merasa kasihan kepada Acha. Seharusnya Ia gak egois. Tapi, itu kan juga demi kepentingan Acha, Kebaikan Acha.
"Ya udah Riy, gue ijinin Acha untuk pulang. Gue pergi dulu, mau ngurus surat buat Acha" Vino pergi dari ruang rawat Acha.
__ADS_1
Sedangkan dalam hati Acha tersenyum karena bisa pulang. Ini memang rencananya, walau tadi sempet gak berjalan mulus tapi,ending nya tetap sama.
"Bentar, mas ambil baju kamu dulu" Riyan menjauhkan kepala Acha dan menyenderkan dengan pelan ke dinding. Lalu, Riyan pergi dari kamar mandi dan mengambil baju untuk Acha.
Riyan masuk ke kamar mandi dan menggendong Acha, mendudukkan ke korselt yang tertutup. Lalu, dengan cepat Riyan menggantikan baju Acha. takut takut Riyan khilaf. jadi Riyan cepat deh ganti bajunya Acha.
Acha membuka mata saat Riyan menggantikan Ia baju. Acha dapat melihat muka Riyan yang memerah, Apa Riyan sakit?
"Mas sakit"
Hah, Riyan bengong. Apa Acha bisa liat muka Riyan yang memerah karena gairah?.
"Mas, baik baik aja kan"
"Mas, gapapa Yank. Mas baik baik aja, kok" Riyan udah selesai memakaikan baju Acha.
Acha tau kalau Riyan sedang ingin. Dan Acha tau alasannya kenapa enggak.
Yang pertama Acha masih sakit.
Yang kedua Riyan dan Acha masih di rumah sakit.
Yang ketiga Riyan gak mau memaksa Acha. Karena itu tadi, Acha yang masih sakit
🌊🌊🌊🌊🌊🌊
__ADS_1
💝Sabtu, 30 Januari 2021💝