
Riyan rasa keputusannya untuk memberi kejutan Acha gagal. Setelah melihat Acha yang tak berdaya kayak gini membuat Riyan gak sanggup untuk meneruskan keputusannya.
"Yank. Bangun, mas ada disini buat kamu, sayang."
"Kamu ingin mas ada disini kan? Mas udah disini tapi, kamu bangun. Masa mas ada disini kamu tidur sih. gak kasihan apa sama mas. mas udah jauh jauh kesini buat kamu lho, yank. Bangun, mas gak kuat liat kamu kayak gini. Mas merasa bersalah kalau kamu gak bangun Yank." Riyan terus berbicara ke Acha. Riyan gak tau Acha denger atau enggak. Yang jelas Riyan ingin terus berbicara ke Acha.
Lima menit kemudian saat Riyan masih berbicara ke Acha. Ada suara sepatu mendekat ke arah Riyan. Lebih tepatnya Acha. Bukan asal tapi, karena Acha berada di kedua dari pojok. Brankar paling pojok kosong, gak ada yang menepati, dan kemungkinan seseorang itu akan ke brankar Acha. Riyan mengusap air matanya yang hampir menetes lalu, melepas genggaman tangan Acha. Riyan berdiri lalu, bersembunyi di samping brankar Acha. Karena kordennya gak di luruskan. Riyan meluruskan korden itu dan bersembunyi disana.
Benar aja. Seseorang yang baru masuk berada di brankar Acha. Riyan gak tau siapa orang itu. Karena seseorang itu membelakangi Riyan. Tapi, dilihat dari pakaiannya adalah dokter. Apa mungkin Rendy. pikir Riyan.
Riyan semakin yakin mendengar suara Vino yang sedang berbicara ke Acha.
__ADS_1
"Dek, sampai kapan kamu tidur hem." apa maksud dari ucapan Vino barusan. Acha kan belum siuman bukannya tidur.
"Udah cukup, bangun Abang bilang. Kalau enggak Abang marah lho." lho kenapa Vino bilang kayak gitu. Kenapa ucapan Vino menunjukkan kalau Acha baik baik aja. Riyan sih bersyukur kalau Acha gak kenapa napa tapi, aneh aja. satu yang terlintas di benak Riyan saat ini. kalau Acha itu
BOHONG.
"Pusing, Bang. Abang gak ngerty sih," huft syukurlah Acha gak bohong kalau Acha itu beneran sakit. bukannya bersyukur karena Acha sakit tapi bersyukur karena Acha gak bohong.
"Riyan udah dateng?" tanya Vino ke Acha. Ini semua rencana Vino yang ingin mendatangkan Riyan. makannya tadi, setelah Vino keluar dan langsung menanyakan Riyan.
"Gak tau Bang. Acha kan baru bangun tidur. Jadi gak tau," lagi lagi Riyan mengucap syukur karena kedatangannya gak ada yang tau. Untung aja Acha tadi tidur dan gak pura pura tidur. Pura pura tidur? gak tau kenapa itu terlintas di benak Riyan. Tapi, enggak. Acha gak mungkin tau kalau Riyan akan dateng.
__ADS_1
"Bang, Mas Riyan kapan dateng ya. Acha udah nunggu lho dari tadi. Tapi, mas Riyan gak dateng datang sampai Acha ketiduran."
"Abang gak tau Dek. nomer Riyan gak bisa di hubungi. Abang udah coba mencari Riyan tapi, hak ketemu. Sahabat sahabat kamu juga udah bantu cari Riyan. Tapi, sama. mereka gak ada yang tau dimana Riyan." mendengar ucapan Vino membuat Riyan yakin kalau Acha gak tau Riyan udah dateng.
"Yah, Bang. Acha harus cari mas Riyan kemana? Acha aja gak tau mas Riyan dimana. sekarang lagi apa. Bang, apa bener kalau mas Riyan udah gak sayang lagi sama Acha dan kandungan Acha. Apa Mas Riyan bener mau pisah sama Acha. Apa kesalahan Acha terlalu fatal, Bang. Tapi, kesalahan dulu aja mas Riyan bisa maafin Acha. Tapi, ini?. Masalah foto yang membuat mas Riyan salah paham. Padahal foto itu udah lama tapi, kenaoa foto itu jadi duri di rumah tangga Acha, Bang?"
Riyan merasa hatinya nyeri mendengar suara Acha yang lirih. Suara Acha seperti orang menangis.
"Dek, gak usah mikirin itu dulu. Yang penting sekarang itu kesehatan kamu. Ingat, ini hanya kebetulan aja,"
"Iya, Bang. Makasih ya Bang. karena Abang dan kak Diva. Acha dan kandungan Acha bisa selamat. kalau kak Diva dan Bang Rendy gak ada ke rumah. Mungkin Acha dan kandungan Acha udah gak.
__ADS_1
"Sutt. Kamu gak boleh ngomong gitu dek. Udah gak usah kamu pikirin apa apa lagi. Kamu istirahat aja. Abang keluar dulu."