
Sahabat sahabat Riyan dan Acha menoleh karena pintu ruang tamu terbuka.
Deg
Deg
Deg
Iqbal dan Danial terkejut. Mereka gak nyangka akan bertemu sekarang. Ini bukan waktu yang tepat.
"Kak Iqbal" suara Danial pelan tapi entah kenapa Acha merasa ada yang janggal. Lalu, Acha melihat ke arah pintu dan terkejut melihat Danial ada di rumah ini. Acha lebih terkejut melihat Iqbal yang menatap Danial marah.
Acha takut, takut karena melihat kemarahan Iqbal. Ini belun waktu yang tepat, Ia belum memulai rencana untuk mempertemukan Iqbal dengan Danial. Ia Memang memiliki rencana buat mempertemukan mereka tapi, tidak sekarang.
Mereka diam mematung. orang orang yang ada di ruangan itu bisa melihat muka Iqbal yang memerah. Mereka tau Iqbal sedang menahan amarahnya.
Iqbal menahan marah karena Iqbal takut kelepasan yang mengakibatkan Acha tekanan batin. Ia gak mau sampai terjadi sesuatu kepada Acha.
Danial ingin sekali pergi dari rumah ini. Ia belum siap untuk menghadapi kemarahan sang kakak. Ia gak mau menyakiti Acha. Kalau Ia dan Iqbal berantem, bagaimana keadaan Acha?. lagipula, Ia gak mau berantem dengan kakak kandungnya.
Para sahabat diam karena memikirkan muka Iqbal yang memerah setelah melihat orang yang ada di hadapannya. Apa hubungan mereka?
"Kok pada diem" Riyan memulai pembicaraan karena suasana di ruangan itu semakin mencengkam.
__ADS_1
Semua tersadar dari pikiran masing masing.
"Ekhm. Duduk Dan" Acha berdehem untuk mengembalikan detak jantungnya yang mulai gak beraturan karena kejadian ini.
Tapi belum juga Dan melangkah Iqbal menghentikan langkah kaki Dan.
"Ngapain lo kesini" terdengar sinis. Mereka bisa mendengar dengan jelas perkataan Iqbal. Sebenarnya apa masalah mereka?
"Kak Iqbal" Acha mencoba melangkahkan kakinya menuju Iqbal.
"Lo tau Cha" Iqbal pergi setelah mengucap kata kata itu.
Seketika kaki Acha menjadi lemah. Acha jatuh seketika.
"Cha" Riyan memegang tangan Acha tapi belum sempat Riyan memegang, Acha terlebih dulu berdiri dab menghampiri Danial.
Acha memeluk Danial karena Acha yakin Danial saat ini membutuhkan bahu seseorang. Dan benar saja saat itu juga Danial menitihkan air matanya.
Danial memang belum yakin untuk betemu dengan Iqbal, Karena Danial yakin ini akan terjadi.
"Apa segitu bencinya kak Iqbal kepada gue, Cha" Danial membalas pelukan Acha. yang Ia butuhkan saat ini adalah Acha, orang yang Ia cintai.
"Dan" belum juga Acha mengucapkan kata selanjutnya, Danial terlebih dulu.
__ADS_1
"Sorry Cha, kayaknya gue lagi aja deh ke London. mungkin iti yang terbaik" Acha melepaskan pelukannya karena mendengar kata kata Danial.
"Dan, enggak. lo gak boleh pergi"
"Cha, gue bahaia kalau kak Iqbal bahagia. Kak Iqbal bahagia kalau gak ada gue, Cha. dan mungkin sekarang gue harus jauh dari kak Iqbal"
"Dan, lo gak boleh nyerah. Kak Iqbal gak tau semuanya Dan. lo harus yakin kalau kak Iqbal akan menerima lo lagi"
"Cha
"Apa lo mau ninggalin gue lagi, Dan. Bukannya lo udah janji sama gue" Acha mengatakan kata kata itu dengan pelan bahkan sangat pelan agar hanya mereka berdua yang tau. Tapi, Danial tau perkataan Acha.
"Gue pergi, Cha. Gue harap lo gak sedih lagi karena kehilangan Bang Vino dan Kak Lian." Danial pergi. kini tinggal Acha, Riyan, Vika, Aryan, Tiara, Eva dan Rafa.
"Cha bukannya
"Iya kak Raf, Dia adalah Danial. Adik kandung kak Iqbal"
Setelah mengucapkan kata kata itu, Mereka baru tau apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tau kalau karena Iqbal yang memberitahu.
"Cha, tapi
"Kalian gak usah nyalahin Danial. karena kalian gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kalian hanya tau dari kak Iqbal. Jadi, gue harap kalian jangan menghakimi Danial" Acha pergi keluar rumah untuk mencari Danial.
__ADS_1