
Satu jam. Sudah satu jam Riyan pergi dari rumah untuk mencari apa yang Acha ingin 'kan.
Setengah jam Acha menunggu Riyan. karena Setengah jam yang lalu Acha membersihkan diri dan membersihkan kamar mereka yang berantakan.
Acha sekarang sedang berada di ruang tamu. Menunggu Riyan yang tak kunjung datang. Acha berdiri lalu, duduk. Berdiri lagi, duduk lagi. Tak lama kemudian. Riyan datang membawa pesanan Acha, yaitu cumi bakar asam manis dan Bubble.
"Assalamu'alaikum" Riyan membuka pintu dan mengucap salam.
"Lama banget sih, mas" Acha menghampiri Riyan yang menutup pintu dan mengambil pesanannya.
"Jawab dulu salam mas, Yank"
"Heheh, Wa'alaikumsalam masqu" Acha mengambil tangan kanan Riyan lalu, menciumnya.
"Nah, gitu donk. Itu baru istri mas"
"Emm mas. Mas mandi dulu gih, kalau udah temenin aku makan"
"Mas temenin kamu makan dulu, ya. habis itu mas mandi, deh"
__ADS_1
"No, mas. Mas mandi dulu. Jangan lupa mandi wajib ya. kalau mas gak mandi, aku gak mau deket deket mas"
"Ya udah mas mandi dulu, ya"
Riyan pergi ke kamar nya, sedangkan Acha pergi ke dapur. Acha menyiapkan piring untuk Riyan. Ya, yang makan itu bukan Acha tapi, Riyan. Acha tadi udah makan pesanan online. Acha sengaja. Entah kenapa Acha ingin melihat Riyan makan cumi bakar asam manis. Sedangkan minuman, Bubble memang Acha menginginkannya.
Lima belas menit kemudian, Riyan sudah rapi dah harum. Riyan pergi ke dapur untuk mencari Acha. Riyan melihat Acha yang sedang mainan hp yang di hadapannya ada pesanan Acha. Tapi, Bubble nya sudah Acha minum setengah.
Riyan duduk di depan Acha. Acha yang merasa Royan di depannya langsing mengalihkan perhatiannya, dari hp ke Riyan.
"Mas Riyan udah selesai? Mau makan sekarang?".
"Lho bukannya kamu, Yank yang makan?" Riyan bingung bukannya Ia beli makan itu buat Acha. Terus, kenapa seolah Ia yang makan?.
Riyan terkejut. Tentu saja. Karena Riyan alergi Seafood. Riyan ingin sekali menolak permintaan Acha tapi, saat melihat muka Acha yang senang saat menghidangkan makanan buat Riyan, membuat Riyan mengurungkan niatnya. Tak apalah Ia sakit, yang penting Acha senang. Mungkin juga ini yang namanya ngidam.
Riyan memaksakan senyum saat Acha ingin menyuapi Riyan. Perlahan Acha menyuapi Riyan walau sebenarnya Riyan ingin muntah.
"Enak 'kan Mas. makan yang banyak ya." Acha menyendok lagi makanan buat Riyan. Tapi, belum juga Ia menyuapi Lagi. Riyan udah lari pergi ke wastafel. Acha melihat Riyan yang memuntahkan makanan yang Acha suap'in tadi.
__ADS_1
Acha berjalan perlahan menghampiri Riyan. Jangan tanya apa Acha khawatir. Jawabannya, Ya.
"Mas" Acha memanggil Riyan sambil berjalan. Riyan yang mendengar Acha memanggilnya langsung menyuruh Acha berhenti. dengan tangan kanannya yang kebelakang.
Acha tetap berjalan menghampiri Riyan. Tapi, Riyan terlebih dulu berjalan menghampiri Acha. Lalu, menyuruh Acha duduk di tempat semula.
"Mas" Acha berjalan ke tempat duduk Riyan. menghapus keringat di dahi Riyan.
"Mas, kenapa? Gak enak ya"
"Gak, Yank. Enak kok" Riyan masih mencoba tersenyum di hadapan Acha. Riyan gak mau Acha merasa bersalah. Tapi, tiba tiba Riyan sesak nafas, mungkin tadi makanannya sempat tertelan dan keluar' pun gak semuanya.
Acha khawatir saat melihat Riyan sesak nafas. Acha baru tau kalau Riyan punya alergi. Acha gak mungkin bawa Riyan ke rumah sakit sendiri. Lalu, Acha menelpon Aryan, untung Aryan langsung mengangkat telepon dari Acha. Acha minta tolong ke Aryan untuk membawa Riyan ke rumah sakit. Dengan secepatnya Aryan melajukan mobilnya menuju rumah Riyan.
Sesampainya di rumah Riyan, Aryan langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Aryan mendengar suara tangisan Acha dan berlari menghampiri asal suara. Aryan melihat Ryan yang sudah pingsan dan Acha uang memangku kepala Riyan sambil menangis.
Aryan langsung menghampiri Acha. Tak lama kemudian Rafa datang bersama Eva, Vika dan Tiara. Rafa membantu Aryan membopong Riyan. Sedangkan ketiga cewek itu menenangkan Acha.
Mereka membawa Riyan ke rumah sakit tempat Vino bekerja. karena rumah sakit itu tempat biasa keluarga Riyan berobat saat sakit.
__ADS_1
ππππππ
πRabu, 20 Januari 2021π